Tega

Tega
Bab 253


__ADS_3

Mendengar gertakan dari Arumi. Sarah bukannya menghindar, malah duduk di samping Kevin dan membuka mulutnya perlahan. Seperti sedang membuat Arumi kesal padanya. Sepertinya, anak yang di kandung Sarah, benar-benar persis seperti Tristan yang suka sekali membuat Arumi kesal.


Tapi ketika Kevin akan menyuapkan makanan pada Sarah. Tiba-tiba saja Sarah langsung mual dan bergegas ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Mama Sarah kenapa? tidak suka melon ya nek?" tanya Kevin pada Widya.


"Ha ha ha, sepertinya anak yang di kandung mama Sarah mu itu tidak suka padamu, Kevin!" sindir Arumi yang puas bukan main karena pada akhirnya Sarah dan Kevin gagal membuatnya tersulut emosi.


Widya hanya tertawa melihat apa yang di katakan Arumi dan melihat wajah Kevin yang langsung cemberut. Dua orang yang sedang bersamanya itu menurut Widya sangat menarik dan lucu.


Sementara itu Sarah merasa kalau perutnya tidak lagi mual saat ada di kamar mandi. Sedangkan saat di luar dia malah merasa sangat mual. Apalagi saat berada di dekat buah melon yang di bawakan oleh Brian Kim untuknya.


Karena terus merasa seperti itu, Sarah memilih duduk di kursi yang ada di balkon saja.


Tak lama Arumi menghampirinya.


"Tiga hari lagi Renata menikah, jika kamu sempat, datanglah bersama dengan suami dan ibumu ya!" kata Arumi yang lantas duduk di sebelah Sarah.


"Tentu saja, kami pasti datang!" kata Sarah.


"Oh ya, bagaimana kabar mami kamu? sudah sembuh belum?" tanya Sarah.


"Masih di atas kursi roda, kasihan mami. Aku tidak mengerti kenapa seorang suami bisa meninggalkan istrinya, saat istrinya dalam keadaan seperti itu. Menghubungi saja tidak, memberi kabar saja tidak. Padahal kami juga kan hanya tahu bagaimana keadaannya, dia masih hidup atau tidak, biar apa yang dia lakukan, dia juga tetap papiku kan?" tanya Arumi yang mulai menitihkan air matanya.


Sarah lantas mengusap lengan Arumi dengan lembut.


"Aku hanya mau papi pulang, setelah papi mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, saat keluar dari penjara nanti. Kami akan menyambutnya dengan tangan terbuka, bagaimana pun dia sudah menghidupi aku selama 19 tahun!" kata Arumi lagi.


Sarah lantas bangun dan memeluk Arumi. Dia mengerti betul apa yang di rasakan oleh Arumi. Sarah juga yakin bukan hanya Arumi yang ingin Chandra Wijaya kembali, Yuliana, Arista dan Renata pasti ingin Chandra Wijaya kembali. Bagaimana pun, Chandra Wijaya adalah tempat mereka bernaung sejak kecil, meski apapun yang sudah di lakukan pria itu, Arumi tetap menganggapnya sebagai ayah.


"Sabar ya Arumi, semoga om Chandra Wijaya juga memikirkan hal yang sama seperti yang kamu pikirkan, dan kembali untuk kalian!" kata Sarah mendoakan ayah dari sahabatnya itu.


Saat Arumi sedang mengobrol dengan Sarah, tiba-tiba saja Tika datang.


"Nyonya Arumi, tuan kecil menangis. Katanya sakit perut!" kata Tika panik.


Mata Arumi dan Sarah sama-sama membulat sempurna. Sebab mereka memang ssangat sayang pada Kevin. Jadi mendengar Kevin menangis karena sakit perut. Keduanya lantas langsung berdiri dan bergegas masuk menghampiri Kevin.

__ADS_1


"Ada apa Kevin?"


"Kamu kenapa sayang?"


Sarah dan Arumi langsung mendekati dan memeriksa Kevin.


"Minyak kayu putih mana?" tanya Sarah pada Tika.


Sedangkan Arumi langsung menghubungi supirnya untuk segera menyiapkan mobil. Dan minta pengawal mereka untuk naik ke apartemen Tristan, karena Arumi ingin pengawal itu cepat membawa Kevin ke mobil, kalau dia yang menggendong mungkin akan lebih lama.


"Sabar ya sayang, pengawal sedang kemari. Kita akan ke rumah sakit!" kata Arumi yang wajahnya terlihat sangat cemas.


Setelah mengusapkan minyak kayu putih di perut Kevin bersama Sarah. Mata Arumi lantas melihat buah melon yang ada di atas meja. Arumi jadi kesal, dia curiga kalau Brian Kim yang sengaja melakukan semua ini. Sejak awal dia memang sudah merasa aneh.


"Pasti buah ini...!"


"Arumi, maksud kamu?" tanya Sarah.


"Kevin tidak makan apapun sebelumya, aku harus buat perhitungan dengan tetangga plastik mu itu!" kata Arumi yang sudah menggulung lengan kemejanya menuju ke arah pintu apartemen.


***


Dan setelah lama menunggu di dekat pintu apartemennya, sepertinya rencana Brian Kim kembali gagal. Sepertinya Sarah tidak makan lagi buah melon yang dia kirimkan, karena tidak ada kehebohan di apartemen Sarah.


Lagi-lagi Brian Kim menjadi kesal. Kesabarannya yang memang sangat sedikit itu kini sudah habis. Dan pada akhirnya dia memberikan instruksi pada anak buahnya agar bersiap. Begitu Sarah keluar dari apartemen, dan lengah dari pengawasan. Maka Brian Kim minta pada semua anak buahnya yang berada di sekitaran apartemen untuk segera menculik Sarah.


Setelah meletakkan ponselnya, Brian Kim terlihat tersenyum menyeringai.


"Tak lama lagi Sarah, kamu akan jadi milikku!" kata Brian Kim.


Namun baru saja dia menggumamkan kata seperti itu, terdengar suara ketukan di pintu apartemennya.


Dok dok dok


Suara itu bahkan seperti suara gedoran di pintu. Padahal apartemen mewah di tempat itu pasti punya bel pintu.


Ceklek

__ADS_1


Brian Kim membukakan pintu apartemennya.


"Kamu...!"


"Hei.. apa yang kamu kasih ke melon yang kamu antar ke apartemen Sarah tadi?" tanya Arumi yang terlihat sangat kesal.


"Ada apa? aku tidak tahu apa-apa. Kalian lihat melonnya masih tersegel bukan?" tanya Brian Kim berpura-pura.


"Anakku sampai sakit perut habis makan melon itu. Awas kamu ya, setelah aku kembali dari rumah sakit. Habis kamu sama aku!" kata Arumi yang membuat Brian Kim lantas terlihat semakin kesal saja padanya.


"Arumi ayo!" kata Sarah yang memanggil Arumi karena pengawal Kevin sudah menggendongnya menuju mobil.


Di dalam mobil, Sarah dan Arumi terus berusaha untuk membuat Kevin berkurang rasa sakitnya.


Sampai di rumah sakit, Kevin langsung di bawa ke ruang UGD. Sarah yang mengurus administrasinya. Sementara Arumi menghubungi Rendra dan menunggu di depan ruang UGD.


Widya dan Tika juga menyusul dengan mobil lainnya menghampiri Arumi.


"Nak Arumi, bagaimana?" tanya Widya panik.


"Masih di dalam Bu, aku cemas sekali!" kata Arumi.


Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Kevin keluar, dan Kevin selanjutnya di bawa ke ruangan lain untuk melakukan tindakan medis pembersihan isi perutnya.


"Bagaimana anak saya dok?" tanya Arumi.


"Sepertinya pasien salah makan, ada zat xxx yang terdeteksi, dan itu sangat berbahaya bagi ibu hamil dan anak di bawah umur seperti pasien, jadi kami akan keluarkan zat itu dulu dari perutnya! kami harus melakukan tindakan medis, apakah nona walinya, kalau begitu tolong ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semua administrasi dan persetujuannya!" kata dokter itu menjelaskan.


Widya lantas menutup mulutnya tak percaya.


"Apa mungkin benar-benar dari buah melon pemberian Brian?" tanya Widya.


"Aku yakin Bu, sejak aku melihatnya pertama kali. Aku yakin bukan mukanya saja yang plastik, tapi memang dia itu plastik semuanya termasuk kelakuannya, kalau sampai hasil tes buah melon yang sedang di ambil Tika di apartemen nanti sama dengan zat yang ada dalam tubuh Kevin. Aku tidak akan melepaskannya!" kata Arumi yang lantas pergi meninggalkan Widya yang terlihat merasa sangat bersalah.


'Ya Tuhan, ini salahku. Aku yang memberikan buahnya pada Kevin tadi. Tolong selamatkan Kevin ya Tuhan, aku mohon!' lirih Widya dalam hatinya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2