Tega

Tega
Bab 152


__ADS_3

Tristan sudah pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan ruangan divisi keuangan. Bahkan Tristan terus melihat ke depan saat pergi dari ruangan itu. Tanpa perduli Arumi yang sedang melotot kesal padanya, dan tak perduli pada para staf divisi keuangan yang menyapanya dan menunduk hormat padanya. Bahkan Tristan sama sekali tidak memperdulikan sapaan bu Sisilia.


Setelah mengatakan apa yang ingin dia sampaikan pada Sarah. Tristan langsung pergi dari ruangan itu, dan kantor itu.


Arumi yang terlihat kesal mendengus dan akan segera pergi ke arah meja kerjanya. Namun Bu Sisilia menghampiri nya dan menarik lengan Arumi.


Arumi yang kesal melotot saat berbalik. Tanpa dia tahu kalau ternyata yang menyentuh lengannya itu Bu Sisilia, atasannya.


Dan melihat mata Arumi yang melotot, Bu Sisilia refleks sangat kaget.


"Arumi, kenapa kamu melotot sama saya sih?" tanya Bu Sisilia kaget.


Tano yang berada dekat Arumi dan Bu Sisilia bahkan memilih ambil langkah seribu saja dari sana.


Arumi menghembuskan nafas panjang.


"Bu, lagian ibu ngapain narik-narik tangan saya sih Bu, kalau ada yang lihat. Orang kira saya punya hutang sama ibu terus mau kabur. Makanya ibu narik-narik saya!" kata Arumi.


Bu Sisilia langsung menarik tangannya, melepaskan pegangan tangan nya pada Arumi.


"Ih, orang mau tanya juga. Siapa yang mau nagih hutang? emang kamu punya hutang sama saya? itu kenapa tuan Tristan sama Sarah? kabarnya tuan Tristan menarik kembali promosi Sarah. Mereka kenapa sih? lagi ribut ya?" tanya Bu Sisilia begitu penasaran.


Bu Sisilia yang sangat penasaran, berharap Arumi bisa menjawab rasa penasaran nya itu. Karena Bu Sisilia kan tahu, kalau Arumi itu sahabat dekatnya sarah. Bahkan sangat dekat.


Tapi mendengar Bu Sisilia yang terkesan kepo. Arumi langsung memicingkan matanya.


"Ibu nih, kepo deh. Bye!" kata Arumi yang langsung meninggalkan Bu Sisilia dan menghampiri Sarah.


"Eh, Arumi. Ih bikin penasaran aja kan!" keluh Bu Sisilia yang rasa penasaran nya tak terjawab.


Sementara Sarah masih diam di tempatnya, dengan tatapan lurus dan kosong ke arah depan, ke arah meja kerjanya yang kosong tidak ada apapun di arah sana.

__ADS_1


'Apa yang harus aku lakukan? aku pikir aku akan lega setelah dia jujur pada ayah Arya dan kami akan berpisah. Tapi kenapa melihatnya meninggalkan semuanya, aku malah jadi merasa sedih dan semakin terbebani. Apa karena dia pernah menyelamatkan hidupku satu kali, apa karena itu aku merasa berhutang padanya. Atau kenapa?' tanya sarah dalam hatinya.


Meski bibirnya tak berkata dan hanya tertutup rapat. Namun mata Sarah jelas menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Air mata yang menggenang di pelupuk mata, yang untuk menahannya agar air mata itu tidak jatuh, Sarah harus menahan matanya untuk tidak berkedip. Mata itu jelas menggambarkan kalau Sarah sama sekali tidak lepas dari semua beban dan rasa sakit hati dalam dirinya.


Sayu kedipan mata, akhirnya membuat air mata itu tumpah keluar. Arumi yang datang langsung memeluk Sarah.


"Kenapa aku harus menghadapi semua ini Arumi? aku bingung!" kata Sarah mencurahkan apa yang ada di hari dan pikirannya pada Arumi.


Arumi yang memeluk Sarah sambil sesekali mengusap punggung Sarah pun tak bisa berkata apapun. Sejujurnya kalau itu orang lain, bertanya pada Arumi kenapa semua kesedihan dan masalah menghampiri nya bertubi-tubi, maka Arumi akan bilang kalau orang itu pasti kurang amal.


Tapi ini Sarah, Sarah yang melakukan segalanya demi bunda Tiara dan adik-adik pantinya. Sarah yang menjadi tempat curhat dan menumpahkan suka dukanya. Sarah yang selalu memikirkan perasaan orang sebelum bicara. Masa iya dia kurang amal. Dia bahkan bekerja keras demi orang-orang yang dia sayang.


Beberapa saat kemudian, Waktu makan siang tiba. Sarah pun merapikan mejanya dan bersiap pergi ke panti.


"Sarah, aku antar ya!" kata Arumi.


"Tidak apa-apa, aku akan naik taksi!" jawab Sarah yang tak mau merepotkan Arumi.


Karena Arumi sudah berkata seperti itu. Sarah pun mengangguk setuju. Niat Arumi sudah sangat baik, dia tidak ingin membuat Arumi kecewa dengan menolak kebaikan sahabatnya itu.


Sepanjang perjalanan Arumi banyak berceritakan hal menarik pada Sarah. Maksudnya agar Sarah tidak sedih lagi. Tapi sepertinya apa yang Arumi lakukan percuma. Sarah memang akan tersenyum kalau ada yang lucu yang Arumi katakan, tapi setelah itu dia akan terdiam lagi.


Begitu sampai di depan rumah sewa panti sementara. Arumi berhenti agak jauh karena dia melihat mobil Gendra terparkir di sana.


"Sarah, aku tiba-tiba ada yang kelupaan. Kamu turun di sini gak papa kan?" tanya Arumi.


Sarah langsung terlihat bingung. Di malah khawatir pada Arumi, kalau ternyata apa yang Arumi lupakan itu adalah hal yang penting.


"Arumi, apa itu sangat penting. Aku minta maaf, karena harus mengantarku...!"


Puk puk

__ADS_1


Arumi lantas terkekeh dan menepuk lengan Sarah dua kali.


"Oh, itu bukan hal yang penting. Tapi aku baru ingat saja sekarang. Tidak apa-apa kan Sarah, nanti kalau kamu mau balik ke kantor, hubungi saja aku, oke?" tanya Arumi.


Sarah pun mengangguk.


"Terimakasih ya, kamu hati-hati di jalan!" kata Sarah.


Arumi pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Pasti!"


Setelah itu, Sarah pun turun dari dalam mobil. Dia menunggu mobil Arumi pergi baru dia berjalan ke arah rumah sewa panti yang tinggal beberapa meter lagi.


Saat melihat Sarah sudah berjalan ke panti dari spion. Arumi menghela nafasnya lega.


"Hoh, ya ampun. Kenapa ku bisa lupa. Ada tuan Arya Hutama pasti ada mas Rendra juga kan. Aku benar-benar belum siap kalau dia menatapku dengan, aduh... kenapa juga dia harus membalas kecupan ku itu. Aku cuma kecup doang loh, dia malah... aih!" wajah Arumi memerah tiap kali mengingat peristiwa yang dia alami dengan Rendra di malam ulang tahun Hera waktu itu.


Sarah sudah sampai di depan pintu rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara. Sarah menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" sapa semua yang ada di dalam.


Tuan Arya Hutama dan Rendra, juga Samsudin langsung berdiri melihat Sarah datang. Dari tatapan ayah mertuanya itu, Sarah tahu kalau saat ini pria tua yang begitu baik padanya dan pada panti asuhan bunda Tiara itu sedang sangat terluka hatinya. Dari tatapannya yang berkaca-kaca, Sarah bisa melihat luka seorang ayah yang terpaksa mengusir anaknya karena telah menyakiti hati seorang wanita yang sudah dia anggap anak sendiri.


"Sarah!" lirih tuan Arya Hutama.


Sarah tak sanggup menahan air matanya lagi, dia berlari memeluk ayah mertuanya yang terlihat sangat rapuh.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2