Tega

Tega
Bab 111


__ADS_3

Pak Samsudin mengabarkan tentang kejadian yang di alami oleh Tuan Arya Hutama kepada Rendra. Hal tersebut membuat Rendra semakin cemas dan mengkhawatirkan kondisi sang ayah.


"Sekarang bagaimana keadaan ayah, pak Sam?" tanya Rendra terdengar begitu khawatir pada sang ayah.


"Sudah membaik tuan muda, dokter sudah memeriksa tuan besar. Dan sudah menyuntikkan obat untuk menambah daya tahan tubuh tuan. Untung saja nona Sarah melakukan tindakan tepat, hingga tuan tidak harus di bawa ke rumah sakit. Tanpa lelah selama beberapa menit, nona Sarah terus menggosok telapak tangan dan telapak kaki tuan dengan minyak kayu putih. Dia bahkan berlari mengambil air hangat ketika tuan besar sadar!"


Pak Samsudin terdengar menjeda kalimatnya sebentar.


"Tuan muda, jika wanita sebaik itu meninggalkan keluarga ini maka...!"


Pak Samsudin kembali menjeda ucapannya. Meski dia menyadari sebenarnya sangat tidak berhak berkata seperti itu. Tapi dia benar-benar bisa melihat kasih sayang Sarah untuk tuannya. Dia benar-benar terbaru.


Rendra pun mengusap wajahnya kasar. Dirinya juga gusar. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Semua keputusan tergantung pada Sarah dan Tristan.


"Aku mengerti pak Sam, tapi apa yang bisa kita lakukan?" tanya Rendra yang membuat pak Samsudin terdiam lagi.


"Sekarang ayah sedang apa?" tanya Rendra.


"Tuan besar sedang makan tuan muda, nona Sarah sedang menyuapinya. Sejak pagi tuan mang belum makan, itu kata dokter yang menyebabkan kondisi kesehatan menurun!" jelas pak Samsudin.


"Baiklah pak Sam, aku minta tolong padamu untuk terus menjaga ayah ya! aku akan usahakan membawa Tristan kembali ke Indonesia. Aku akan bicara pada dokter. Selamat malam pak Sam!"


"Selamat malam tuan muda!"


Setelah sahutan dari pak Samsudin itu, rendra lantas mematikan ponselnya karena memang sudah hampir low bat. Anak buah pak Samsudin sedang mencarikan pengisi daya untuk ponsel Rendra yang memang limited edition itu.


Rendra kembali mengusap kepalanya gusar, karena bukan kabar dari pak Samsudin itu saja yang membuat Rendra cemas. Sore tadi asistennya juga menghubunginya dan mengatakan saham perusahaan sedang anjlok. Karena ada investor yang memutuskan untuk menarik investasi ke sebuah perusahaan baru yang menjadi saingan bisnis Rendra.


Maka dari semua hal itu, Rendra memutuskan untuk membawa Tristan pulang ke Indonesia. Dan merawatnya di sana. Akan lebih baik, kalau banyak yang akan menjaganya nanti semasa dia masih koma seperti ini.


Rendra kemudian bergegas menemui dokter yang menangani Tristan. Dokter tersebut sedikit berdebat dengan Rendra.

__ADS_1


(Karena percakapan dokter dengan Rendra menggunakan bahasa Inggris, dan kata edi-nya author gak boleh nyisipin banyak terjemahan di dalam satu bab. Makanya author bikin deskripsi aja deh ya, waktu Rendra agak berdebat sama dokter yang menangani Tristan).


Dokter yang menangani Tristan mengatakan pada Rendra kalau saat ini kondisi Tristan benar-benar belum stabil. Setelah operasi, atau paska operasi setidaknya Tristan membutuhkan waktu untuk pemulihannya sekitar 60-72 jam.


Sedangkan waktu besok yang di inginkan Rendra untuk bisa membawa Tristan pulang ke Indonesia itu masih sangat belum cukup untuk pemulihan paska operasi. Meskipun pada dasarnya Tristan koma.


Namun begitu, Rendra masih tetap ingin Tristan pulang. Karena ketika Rendra bertanya pada dokter tersebut kapan kepastian Tristan bisa sadar dari komanya, dokter tersebut tidak dapat memberi kepastian. Hal itu membuat Rendra semakin yakin kalau tetap di rumah sakit ini pun, Tristan juga tidak bisa di pastikan kapan akan sadar.


Rendra menambahkan kalau di Indonesia ada banyak orang yang menyayangi dan di sayangi Tristan. Ada ayahnya, Kevin keponakannya dan juga ada istrinya. Rendra mengatakan kalau mereka akan menjaga bahkan akan selalu menyemangati Tristan agar cepat sadar.


Setelah berdebat cukup panjang, dan Rendra mengatakan kalau di Indonesia juga dokter dan tekhnologi kesehatan sekarang sudah banyak berkembang. Dokter yang tadi sempat berdebat panjang dengan Rendra akhirnya mengijinkan Rendra membawa pulang Tristan dengan APS (kalau bahasa Indonesia ya Atas Permintaan Sendiri dari pasien atau keluarga). Dan Rendra harus bertemu dengan pihak yayasan ruang sakit tersebut, agar dokter yang menangani pasien tidak mendapatkan masalah nantinya karena keputusan Rendra ini.


Hampir pagi menjelang, Rendra masih sibuk wara-wiri mengurus segala administrasi. Anak buah pak Samsudin juga sudah mengurus jadwal penerbangan. Hingga sekitar pukul 6 pagi waktu Paris. Rendra bersama Tristan dan rombongan anak buah pak Samsudin meninggalkan kota Paris menuju Indonesia.


Sementara pagi itu juga, Shanum telah sampai di hotel dimana Tristan ternyata menginap di sana. Ini adalah hotel yang 24 yang Shanum datangi bersama Leni.


Leni bertanya pada resepsionis, dan ternyata benar, Tristan menginap di hotel tersebut.


Mendengar hal itu Shanum langsung mendekati meja resepsionis.


(Atas nama Tristan? benarkah?)


Shanum begitu excited karena setelah dia bicara seperti itu, petugas yang menjaga resepsionis hotel tersebut menganggukkan kepalanya.


"Où est la chambre ? Dans quel numéro de chambre ?"


(Dimana kamarnya? di kamar nomer berapa?)


"Désolé, mais depuis deux jours. Le client n'est pas revenu à l'hôtel. Et hier, quelqu'un a déjà pris les affaires de l'invité "


(Mohon maaf, tapi sejak dua hari yang lalu tamu tersebut sudah tidak pernah lagi kembali ke hotel. Dan kemarin sudah ada yang mengambil barang-barang tamu tersebut).

__ADS_1


Mendengar jawaban resepsionis tersebut tentu saja membuat Shanum kembali lemas tak berdaya. Shanum bahkan sudah berkaca-kaca.


Shanum berpikir pasti suruhan tuan Arya Hutama yang memang sejak awal tidak pernah merestui dirinya dengan Tristan yang membawa barang-barang Tristan itu. Sekarang Shanum yakin kalau Tristan memang sudah kembali ke Indonesia.


Leni yang melihat kakak sepupunya itu menangis hanya bisa menepuk bahu kakak sepupunya itu perlahan.


"Kak, sudahlah! ini juga kan keputusan mu. Sekarang lebih baik kita fokus pada ajang penghargaan itu!" kata Leni.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Leni. Akhirat Shanum menyeka air mata yang ada di pipinya. Lagipula setelah mendapatkan penghargaan itu, hidupnya akan benar-benar berubah. Dan saat itu, dia bahkan bisa bertemu Tristan kapan saja. Itu yang Shanum pikirkan.


***


Sementara setelah melalui perjalanan selama kurang dari lima jam. Akhirnya Rendra dan rombongan tiba di bandara.


Di sana sudah ada pak Samsudin dan Richard yang menyambut Tristan dengan ambulance di samping mereka.


Setelah menurunkan Tristan yang di ikat dengan tali yang sesuai standar di tempat tidur dorong. Para anak buah Samsudin membawanya masuk ke dalam ambulance untuk kemudian di bawa ke rumah sakit.


Melihat kondisi Tristan yang seperti itu, mata Richard bahkan sudah berkaca-kaca dan menggigit kuku jari tangannya. Kakinya juga tidak mau diam, terus bergerak menandakan Richard sangat panik.


"Oh emji bos, kenapa kamu seperti mumi begitu?" tanya Richard.


Ucapan Richard tersebut membuat beberapa anak buah pak Samsudin sampai tak bisa menahan tawa mereka. Padahal seharusnya ini suasananya hari dan sedih kan.


Pak Samsudin sampai harus melotot tajam pada Richard agar dirinya tak bersikap dan berkata yang out of the box begitu.


Melihat tatapan tajam pak Samsudin. Richard langsung mundur dan bersembunyi di belakang tubuh salah satu anak buah pak Samsudin.


"Tuan muda, tuan besar dan nona Sarah sudah menunggu di rumah sakit!" terang pak Samsudin.


Rendra hanya mengangguk sekilas, dia benar-benar sangat kelelahan.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2