Tega

Tega
Bab 36


__ADS_3

Tristan masih diam di ruangan itu, Rendra dan Arya Hutama segera keluar dari private room itu. Untung saja mereka sudah datang dan makan terlebih dahulu. Selera makan mereka langsung hilang, ketika mendengar Tristan bicara yang tidak-tidak tadi.


Sementara Tristan masih terus diam di dalam ruangan itu. Richard yang masuk ke dalam ruangan karena bosnya tak kunjung keluar pun merasakan aura yang tidak enak begitu masuk ke dalam private room tersebut.


'Oh, kenapa aku merasa seperti masuk ke dalam rumah hantu saja sih ini?' tanya Richard dalam benaknya.


Meski bulu kuduknya berdiri, tapi Richard tetap terus melangkah maju karena dia harus mengingatkan bosnya kalau selepas makan siang ini bosnya masih harus menghadiri meeting penting.


"Bos...!"


"Agkh!" pekik Richard ketika Tristan menoleh ke arahnya.


Tristan makin emosi melihat ekspresi wajah Richard yang terkejut dan sangat takut seperti sedang melihat hantu.


Sangking kesalnya Tristan, dia sampai melemparkan gelas yang ada di depannya ke arah Richard.


Prangggg


"Oh em ji... bos!" pekik Richard yang kaget bukan main sambil m


berlari menjauh dari arah lemparan gelas Tristan itu.


"Kenapa kamu berteriak begitu? kamu juga takut melihatku. Menganggap aku ini tidak berguna, tidak pantas menentukan arah hidupku sendiri?" pekik Tristan yang langsung keluar dari ruangan itu.


Richard langsung terdiam di tempatnya. Dia sama sekali tidak sakit hati pada apa yang dikatakan Tristan barusan. Richard malah terdiam karena merasa kasihan pada bosnya itu.


Richard terduduk di kursi yang di tinggalkan oleh Tristan tadi. Dia sudah lama bersama dengan Tristan. Jadi dia tahu betul sebenarnya seperti apa Tristan itu.


Tristan itu seseorang yang punya pribadi sangat tertutup. Saat kuliah dia bahkan tidak punya teman karena dia orangnya sangat tempramental. Hanya Shanum saja yang menjadi temannya kala itu, maka hal yang wajar juga kalau Tristan sangat mencintai Shanum. Karena hanya waktu itu saja yang terus bisa bertahan menghadapi semua keluh kesah Tristan, juga amarah Tristan yang suka meledak-ledak.


"Jadi aku harus apa? masa sih aku diam saja?" gumam Richard bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Sementara itu di perjalanan...


Arya Hutama yang berada dalam satu mobil dengan Rendra, Kevin dan Sarah pun merasa tidak enak pada Sarah.


"Sarah, aku harap kamu tidak masukkan semua kata-kata Tristan tadi ke dalam hati ya, nak!" ucap Arya Hutama pada Sarah.


Sarah jadi tak enak hati ketika mendengar tuan Arya Hutama jadi harus minta maaf padanya karena perbuatan Tristan.


Sarah tidak ingin tuan Arya Hutama sampai seperti itu. Sarah pun tersenyum dan berkata.


"Tidak apa-apa tuan...!"


"Sarah, aku sudah bilang kemarin padamu kan? panggil aku ayah!" sela tuan Arya Hutama.


Sarah pun langsung mengangguk paham.


"Iya... ayah!" ucap Sarah yang langsung membuat Arya Hutama dan Rendra tersenyum senang.


"Oh ya Sarah, pernikahan mu dan Tristan akan berlangsung bulan depan!"


"Dan yang akan mengurus segala sesuatunya adalah Rendra. Maklumlah Sarah, ayah hanya memiliki mereka berdua dalam hidup ayah!" ucap Arya Hutama membuat Rendra yang duduk di depan terlihat agak sedih.


"Kakek juga punya Kevin!" celetuk Kevin yang ternyata mendengarkan perbincangan mereka sambil memainkan mainan mobil mini miliknya.


Arya Hutama langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan cucu laki-laki satu-satunya itu. Bahkan Sarah dan Rendra juga. Memang benar, seorang anak kecil selalu bisa menjadi obat paling mujarab dan penghibur paling ajaib bagi orang dewasa yang menyayanginya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Rendra sampai di depan kantor Tristan. Kevin masih enggan melepaskan Sarah, namun sang kakek membujuknya dan berkata.


"Besok kita akan makan siang dengan Tante Sarah, bagaimana?" tanya tuan Arya Hutama.


"Benarkah?" tanya Kevin memastikan dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja, sekarang biarkan Tante Sarah pergi bekerja dulu, ya!" ucap Rendra menambahkan perkataan ayahnya.

__ADS_1


Akhirnya Kevin pun melepaskan tangan Sarah. Kevin melambaikan tangan dari jendela ketika mobil Rendra perlahan meninggalkan area kantor Tristan.


Sarah pun kembali ke ruangannya. Begitu dia tiba ruangan divisi keuangan, di sana sudah banyak pasang mata yang melihat ke arahnya dengan tatapan penuh tanya, ada juga yang tatapannya curiga, ada juga yang tatapannya seolah berkata.


'Ih, kok bisa sih. Cantikan juga aku, kok dia sih yang bakalan nikah sama tuan Tristan. Aku gak terima!'


Tapi Sarah mencoba untuk tidak menghiraukan semua itu. Bunda Tiara selalu mengatakan kepada Sarah.


Kita hanya punya dua tangan, jika ada orang-orang yang membicarakan hal buruk tentang kita, mencibir kita atau merendahkan kita. Maka jangan di hiraukan, dengan dua tangan, kita tidak akan mampu menutup mulut orang-orang itu. Tapi dengan dua tangan kita, kita mampu menutup telinga kita agar tidak perlu mendengarkan semua perkataan yang akan membuat kita sakit hati atau rendah diri.


Sarah selalu mengingat apa yang dikatakan oleh bunda Tiara itu, hingga Sarah bisa tumbuh dan besar dengan memiliki hati yang kuat dan tidak baperan.


Dan ketika Sarah tiba di meja kerjanya. Dia merasakan aura dingin yang yang begitu mencekam. Arumi sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan dada dan tatapan matanya begitu tajam, hingga kalau ini di film anime, atau gambar di komik atau kartun, tatapan Arumi itu pasti terdengar.


Blesh... sing... sing...


Seperti sebuah katana yang melibas habis pohon bambu yang sangat tinggi dan besar.


Sarah yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum canggung. Sarah lalu duduk di kursinya dan menarik kursi kerja Arumi lalu menepuk dudukan kursi itu beberapa kali.


"Sini cantik, duduk dulu. Nanti aku ceritakan semuanya padamu!" ucap Sarah.


Masih dengan mata memicing ke arah Sarah, Arumi pun duduk di kursinya yang ada di depan Sarah dengan jarak yang cukup dekat.


"Saat pertama kali kita pulang dari kerja dinas di luar kota itu, kamu tahukan apa yang terjadi?" tanya Sarah dan Arumi pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Saat itu, aku pergi ke pantai untuk menenangkan diri, dan... aku tidak mungkin kan langsung pulang ke panti, karena saat itu aku masih tak dapat menghentikan tangisku yang tak mau berhenti. Dan saat aku sedang duduk di pantai, aku melihat ada seorang anak yang hampir tenggelam. Aku menolong anak itu, dan ternyata itu cucu tuan Arya Hutama, anak dari Rendra Hutama. Entah bagaimana caranya, tuan Arya Hutama malah datang ke panti dan membawa lamaran untuk Tristan padaku!" jelas Sarah.


Arumi yang menyimak cerita Sarah lantas berkata.


"Kalau kamu menyelamatkan anak tuan Rendra, kenapa kamu malah dilamar untuk tuan Tristan? bukan tuan Rendra?" tanya Arumi bingung.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2