
Di sebuah agen perumahan elit di kota ini. Renata sedang melihat-lihat brosur perumahan yang di berikan oleh petugas properti tersebut.
"Tuan dan nyonya ingin tipe yang bagaimana?" tanya agen properti tersebut dengan sangat ramah.
"Pokonya yang harganya lebih dari 5 M ya!" kata Renata membuat agen properti tersebut sedikit terkejut tapi langsung menunjukkan wajah yang begitu senang.
Tentu saja agen properti itu senang, karena bonus yang akan dia dapat kalau bisa menjual rumah yang seharga itu juga sangat banyak.
"Baiklah, sebentar ya nyonya. Saya ambilkan beberapa brosurnya!" kata agen properti itu dengan bersemangat.
"Yakin hanya mau yang di atas 5M?" tanya Hamdan yang memang suka dengan wajah jutek Renata.
"Pak Hamdan yang terhormat, di atas 5 M itu tidak terbatas loh. Coba pikir lagi, aku sih cuma pengen tinggal di rumah yang yah... seenggaknya setengah dari rumah papiku dulu lah!" kata Arumi.
Hamdan mulai menghela nafas. Dia tidak sampai memikirkan hal itu. Di atas M, itu artinya bisa jadi sampai belasan bahkan puluhan bukan?
Tak lama agen properti itu kembali duduk di sofa dan menunjukkan beberapa brosurnya pada Arumi.
"Saat ini, ada beberapa dengan kisaran harga yang nyonya minta itu. Luasnya rata-rata 400 meter persegi. Ada yang bangunannya seluas itu ada juga yang hanya 300 meter persegi dan sisanya taman, atau kebun yang banyak tanamannya, kalau yang ini, dulu pemiliknya suka sekali berkebun, ada perkebunan mawar dan anggrek di belakang rumahnya. Sayangnya nyonya itu harus ikut suaminya ke Dubai. Jadi rumahnya di jual!" kata si agen menjelaskan.
"Saya ambil brosurnya dulu deh, saya mau pikir-pikir dulu!" kata Renata.
Hamdan sedikit tertegun.
"Kenapa? pilih saja sekarang!" kata Hamdan yang memang sudah menyiapkan tabungan pribadinya untuk menuruti semua permintaan Renata.
"Begitukah?" tanya Renata.
"Tentu saja!" kata Hamdan.
"Baiklah, mbak aku mau yang ada kebun mawar dan anggrek itu? berapa harganya?" tanya Renata.
Si agen properti lantang terlihat senang.
"Yang ini 12 M nyonya!" jawab agen properti sangat bersemangat.
Renata lantas menoleh ke arah Hamdan.
__ADS_1
"Dengar itu, 12 M?" tanya Renata yang yakin kalau Hamdan akan berpikir ulang.
Tapi sepertinya dugaan Renata salah.
"Baiklah, saya akan langsung kirim uangnya. Jangan lupa untuk mengurus surat-suratnya atas nama Renata Putri Wijaya!" kata Hamdan yang membuat Renata menghela nafas panjang.
Sebenarnya dia pikir untuk membuat Hamdan menyerah, tapi ternyata tidak bisa juga.
"Sekarang kita beli mobil untukmu?" tanya Hamdan lagi pada Renata.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Hamdan dan menuju ke sebuah showroom mobil. Tapi di tengah perjalanan Renata terlihat banyak berpikir.
"Tunggu pak Hamdan, bagaimana kalau setelah semua yang kamu berikan padaku. Aku masih tidak bisa menikah denganmu? lagipula apa yang membuatmu ingin menikah denganku?" tanya Renata bingung.
"Aku sudah lama mengenalmu Renata, hanya saja kamu tidak mengenalku. Aku orang yang pernah kerja sama dengan perusahaan ayahmu, mewakili tuan Rendra saat itu. Saat itu aku melihatmu dengan seorang pria, kalau tidak salah dia salah satu anggota dew4n di ruangan meeting...!"
"Cukup, kalau kamu sudah tahu apa yang aku lakukan dengan Nathan saat itu? kenapa masih ingin menikah denganku. Kamu lihat apa yang aku lakukan bukan? aku simpanan pria itu, aku bahkan menjadi simpanannya selama 8 tahun. Tidak kah seharusnya kamu jijik padaku?" tanya Renata yang merasa sangat rendah diri, namun dia tetap tidak mau menunjukkannya.
"Tidak Renata, sama sekali tidak. Aku melihatmu menangis saat pria itu pergi. Itu semua bukan mau mu kan? aku sudah menyukai mu sejak saat itu. Maka saat aku dengar kamu dan Arista akan bekerja di kantor, aku minta pada tuan Rendra untuk memperkerjakan mu sebagai sekertaris ku, padahal aku sudah punya tiga sekertaris. Apa menurutmu itu sebuah kebetulan?" tanya Hamdan pada Renata.
Renata cukup terkejut dengan penjelasan Hamdan. Ternyata masih ada orang yang menyukainya padahal tahu masa lalunya seperti apa.
Hamdan mengangguk.
"Iya, aku sudah bercerai dengan Wulan sejak anak bungsuku berusia lima tahun!" kata Hamdan menjawab pertanyaan Renata.
"Lalu apa kamu benar-benar serius ingin menikah denganku, maksudku. Aku bukan wanita yang baik, belum tentu aku bisa jadi ibu sambung yang baik untuk ketiga anakmu!" kata Renata lagi.
"Aku percaya padamu, aku menyukai mu. Dan aku yakin kamu wanita yang baik, buktinya kemarin kamu sama sekali tidak membalas Rani. Aku tahu kamu bukan tidak mampu melakukannya, tapi kamu memang tidak mau melakukannya kan?" tanya Hamdan memegang telapak tangan Renata.
"Ck... !" Renata hanya berdecak dan itu membuat Hamdan hanya tersenyum kecil.
***
Sore harinya Tristan masih di sibukkan dengan banyak sekali pekerjaan. Dia memenangkan sebuah proyek baru. Dia sangat senang. Dan sangat bersemangat. Dia sudah punya rencana untuk membeli sebuah rumah kalau berhasil menyelesaikan proyek itu. Tinggal di apartemen bukan tempat yang cocok untuk anaknya nanti, karena di apartemen sangat berbeda dengan perumahan. Tristan dulu memilih tinggal di apartemen, karena memang dia ingin privasi.
Tapi kalau anaknya sudah lahir nanti, tidak mungkin akan terus tinggal di tempat yang tidak bisa bersosialisasi dengan tetangga lainnya dengan baik seperti itu.
__ADS_1
"Bos, tanda tangani ini juga!" kata Richard.
"Sudah kamu periksa?" tanya Tristan.
"Sudah tiga kali bos, aman!" jawab Richard cepat.
"Baiklah, berikan padaku!" kata Tristan yang langsung menandatangani dokumen tersebut.
Tapi tiba-tiba saja ponsel Tristan berdering.
"Sayang!" sapa Tristan karena yang menghubunginya adalah Sarah.
"Mas, aku mau makan sushi!" kata Sarah.
"Sayang, tumben sekali. Baiklah, aku akan pesankan sushi nya sekarang ya!" kata Tristan.
"Tapi kamu yang bikin mas!" kata Sarah lagi.
"Aku yang bikin?" tanya Tristan.
"Iya, kamu pergi ke restoran sushi, ajak Richard bersamamu. Suruh dia videokan saat kamu membuatnya ya, semua jenis sushi yang ada di restoran dekat kantor mu itu!" kata Sarah lagi.
"Apa kamu sedang mengidam sayang?" tanya Tristan penasaran.
"Sepertinya iya mas, cepat ya. Aku lapar!" kata Sarah dengan suara yang manja.
Tristan sampai terkekeh mendengar istrinya bicara dengan nada manja seperti itu. Sebelumnya Sarah tak pernah manja padanya seperti itu.
Tristan benar-benar sangat bersemangat, mengetahui ngidam pertama istrinya itu.
"Baik sayang, tunggu sebentar ya. Aku akan segera ke restoran!" kata Tristan.
Sarah pun memutuskan panggilan telepon dengan Tristan.
"Richard, tinggalkan semua pekerjaan mu. Kamu ada tugas negara yang sangat penting!" seru Tristan pada Richard.
***
__ADS_1
Bersambung...