Tega

Tega
Bab 241


__ADS_3

Sarah dan Tika kemudian menuju ke supermarket yang ada di dekat wilayah perkantoran. Tapi mereka berdua sebenarnya sudah di ikuti oleh seseorang sejak keluar dari apartemen tadi.


Orang yang mengikuti Sarah dan Tika tersebut adalah seorang wanita yang menyamar menjadi wanita tua berpakaian kuno yang memakai kaca mata yang tebal. Hingga membuat arah pandangannya yang sejak tadi tertuju hanya pada Sarah menjadi tersamarkan karena kaca mata tebak dan cara melihat wanita tua itu.


Siapapun juga tidak akan menaruh kecurigaan pada seorang wanita tua yang terlihat lemah dan tak berdaya bukan? Dan saat ini, wanita itu sedang menghubungi seseorang.


"Bos, dia menuju supermarket besar yang ada di kawasan perkantoran. Baik bos, menjatuhkannya? tapi bos... baik.. baik!" kata wanita itu yang lantas menutup panggilan telepon dan menyimpan kembali ponselnya.


Setelah itu wanita itu mengikuti Sarah dan Tika yang masuk ke dalam supermarket besar itu.


"Wah, nyonya. Di kota batu juga ada yang seperti ini. Aku pernah di ajak nyonya besar dan nyonya Inka... aduh maaf nyonya, saya keceplosan!" kata Tika tak sengaja.


Tika benar-benar lupa, dia keceplosan sangking excited nya melihta supermarket besar seperti di kota batu dulu.


Sarah lantas tersenyum, dia sama sekali tidak tersinggung atau apapun itu. Sarah tahu, semua yang terjadi padanya pasti ada tujuannya. Apapun yang dia alami sudah menjadi skenario yang harus dia jalankan dan mainkan layaknya dalam sebuah drama.


Sarah dulu sempat merasa kalau orang tuanya sudah membuangnya. Tidak tahunya ada wanita jahat yang menukar anaknya dengan Sarah, hingga membuat kedua orang tua kandung sadar tak menyadari kalau yang di sisi mereka itu adalah bukan anak kandungnya.


Meski Sarah kadang merasa sedih melihat saat ulang tahun orang tua merayakan bersama anaknya di panti. Sedangkan bunda Tiara tidak tahu kapan hari ulang tahun Sarah yang sebenarnya. Bunda Tiara hanya menjadikan tanggal dan hari dimana dia menemukan Sarah sebagai tanggal dan hari ulang tahunnya. Dan itu memang benar, kala itu keluarga Adhikara memang sengaja mengajak sekua orang jalan-jalan keluar kota untuk merayakan hari ulang tahun Inka dan Tari yang memang lahir di tanggal dan waktu yang sama.


Tapi waktu menyembuhkan dan memperkuat Sarah. Dia semakin lama semakin menjadi pribadi yang mandiri dan jujur, pekerja keras dan pengertian. Mungkin kalau dia tidak di buang Mulya. Dia tidak akan punya semua sifat itu, juga tidak akan pernah bertemu bunda Tiara yang begitu baik. Tidak akan bertemu Arumi, sahabatnya. Tidak akan bertemu Kevin dan tuan Arya Hutama. Juga tidak akan bertemu dengan Tristan, pria yang sekarang dan selamanya sangat dia cintai dan juga mencintainya sepenuh hati.


"Tidak apa-apa Tika, oh ya. Bagaimana kabar Inka sekarang? apa kamu tahu? ibu banyak cerita tentang bi Mulya dan hukuman yang sudah dia terima dan jalani. Tapi ibu sama sekali tak pernah cerita tentang Inka. Apa dia baik-baik saja?" tanya Sarah pada Tika.


Tika terlihat bingung mau menyampaikan apa yang terjadi pada Inka pada Sarah atau tidak. Sebab dia sama sekali tidak mau di anggap lancang nanti oleh Widya.


"Em.. sebenarnya nyonya Inka dan tuan Raes sudah menikah...!"


"Wah, bagus kalau begitu. Cepat juga dia move on ya. Tapi bagus, hal itu sangat bagus. Alan memang tidak bisa sama sekali di harapkan. Aku pikir dia akan berubah setelah semua yang terjadi. Tetapi ternyata tidak sama sekali. Huh... kasihan Inka! dia kehilangan bayinya karena Alan, suaminya sendiri!"

__ADS_1


"Iya nyonya, tuan Jerry itu sangat jahat. Dia mengambil semua yang orang tuanya. Sekarang orang tuanya hidup di rumah susun dan menjadi pekerja pabrik. Kasihan sekali!" kata Tika ikut sedih.


Sebab sahabat Tika, Yumi. Juga jadi ikut sulit kehidupannya.


"Kasihan sekali!" kata Sarah yang benar-benar merasa kasihan pada ayah dan ibu Alan.


Sarah sungguh tak menyangka Alan akan semakin jahat dan tidak punya hati begitu. Bahkan pada kedua orang tuanya sensitif. Jerry Alando benar-benar sudah tidak bisa tertolong lagi, itulah yang ada di pikiran Sarah.


Saat mereka sedang bercerita, dan mengobrol. Sarah menaiki anak tangga yang menuju ke sebuah toko sayuran di supermarket itu.


Namun baru akan membuka pintu saat dia sampai di anak tangga yang ke empat. Seorang wanita tua mendorong pintunya dan membuat Sarah nyaris terjatuh.


"Aghkkkk!" pekik Sarah yang sudah tak berpegangan pada apapun lagi.


Tika yang ada di samping Sarah berusaha untuk meraih Sarah, meskipun tangannya sudah penuh dengan belanjaan yang mereka beli di minimarket sebelumnya.


"Nyonya Sarah!" pekik Tika yang berusaha menangkap Sarah.


'Ya Tuhan, selamatkan anakku, selamatkan anakku!' batin Sarah terus berdoa sambil memejamkan matanya karena dia tak bisa berbuat apapun.


Kakinya juga sudah tergelincir dari anak tangga yang teratas.


Bukkk


Sarah merasa badannya jatuh, tapi karena dia memejamkan matanya dia tidak bisa melihat apa yang terjadi. Karena badannya terasa tidak ada yang sakit.


"Sarah!"


Sarah langsung membuka matanya karena dia mengenal suara itu. Dia juga merasa kalau ada yang menangkap tangannya.

__ADS_1


"Tano!" Sarah langsung menoleh ke arah Tano.


Sarah melihat ke arah tangan Tano yang menangkap tangannya. Melihat dirinya di tangkap Tano dan tidak jadi jatuh. Sarah langsung berdiri dengan benar dan memeluk pria yang merupakan teman kerjanya dan Arumi itu dulu waktu masih kerja di kantor Tristan.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Tano. Kamu menyelamatkan aku dan anakku!" kata Sarah begitu senang dan bersyukur. Dia juga sangat berterima kasih pada Tano.


"Kamu, kok bisa jatuh. Gak ada angin gak ada hujan juga?" tanya Tano yang memang orangnya sangat random.


Sarah lantas melihat ke arah pintu dimana dia tadi hampir masuk dan tiba-tiba saja ada yang mendorongnya hingga peristiwa itu terjadi.


"Gak tahu, tadi aku mau masuk. Terus ada yang dorong!" kata Sarah.


"Nyonya Alhamdulillah, nyonya gak jatuh. Saya sudah mau jantungan!" kata Tika yang juga sangat bersyukur nyonya mudanya baik-baik saja.


Tano lantas melihat ke arah pintu dan sekitarnya. Tapi dia tidak melihat apapun.


"Lain kali hati-hati Sarah. Apalagi kamu sedang hamil. Jangan tengok kanan-kiri, fokus ke arah depan. Fokus Sarah!" kata Tano.


"Iya Tano, terimakasih banyak ya. Aku gak tahu kalau gak ada kamu. Gimana nasib aku. Aku traktir makan ya? kamu sibuk gak?" tanya Sarah.


"Lain kali ya, aku lagi dari pemb4lut nih buat istriku!" kata Tano sambil menggaruk kepalanya.


Sarah tentu saja tidak bisa untuk tidak tertawa, masalahnya Tano itu orangnya sangat pendiam, pemalu tidak banyak bicara. Dan setelah menikah, dia harus mencari pemb4lut untuk istrinya. Bagaimana Sarah tidak merasa lucu tentang hal itu.


"Ya sudah, sebagai ucapan terimakasih. Aku bakalan beliin apa yang istri kamu butuhkan itu. Sebentar ya. Tika tolong dong, beliin apa yang bapak Tano suami siaga ini butuhkan ya!" kata Sarah yang pada akhirnya juga minta tolong pada Tika.


"Siap nyonya, sebentar!" kata Tika yang lansung meluncur pergi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2