Tega

Tega
Bab 125


__ADS_3

Tristan dan Sarah sudah tiba di apartemen milik Tristan. Diantar oleh tuan Arya Hutama dan juga pak Samsudin serta Richard.


"Ayah, makan malam di sini ya, aku akan masak sebentar!" kata Sarah yang langsung di angguki oleh tuan Arya Hutama.


Tak lama Rendra pun datang menyusul dengan Kevin. Mata Tristan langsung menatap malas ke arah dua pria yang baru saja duduk di sebelah tuan Arya Hutama itu.


"Kak, tidak baik loh membawa anak kecil keluar malam-malam begini! kenapa tidak menemani Kevin mengerjakan tugas saja di rumah?" tanya Tristan.


Rendra yang mendapatkan ucapan seperti itu dari Tristan pun mendengus kesal. Sedangkan tuan Arya Hutama malah terkekeh pelan karena senang mendengar Tristan yang terus terlihat cemburu pada Rendra dan Kevin. Sebagai orang tua yang sudah sepuh, tuan Arya Hutama bisa melihat kalau Tristan bahkan sepertinya sedang berebut perhatian Sarah dengan Kevin.


Dalam hati pria tua itu, ada sedikit rasa syukur. Karena Tristan semenjak sadar, dia begitu berbeda. Tidak dingin dan arogan seperti dulu. Bahkan terlihat sangat perhatian dan selalu mencari perhatian Sarah.


Sarah yang datang ke ruang tamu untuk menyiapkan minuman pun di buat terkejut dengan kedatangan Kevin. Namun Sarah terkejut senang.


"Kevin, kamu datang. Kebetulan mama Sarah sedang menyiapkan makan malam, Kevin mau makan apa?" tanya Sarah sambil meletakkan minuman untuk semua orang di atas meja.


Tristan yang melihat Sarah langsung excited seperti itu jadi cemberut. Dan hal itu terlihat oleh tuan Arya Hutama.


"Sarah, jangan tanya mau makan apa pada Kevin saja! bayi besar mu juga harus di tanya mau makan apa!" kata tuan Arya Hutama melirik ke arah Tristan.


Sontak sama semua orang yang paham apa maksud tuan Arya Hutama langsung terkekeh. Bahkan pak Samsudin yang biasanya tenang, kalem dan pendiam tak bisa menahan tawanya. Dan tentu saja, tawa yang paling keras keluar dari mulut Richard.


Hal itu membuat Tristan semakin kesal. Sarah juga melihat hal itu, dia melihat wajah Tristan yang kesal. Sarah berusaha untuk tidak tertawa. Lalu kembali ke dapur agar semua orang berhenti mengerjai Tristan.


"Oh emji, aku tidak pernah bisa tertawa selepas ini. Bos ada faedahnya juga ya, bos anemia...!"


"Amnesia om!" ralat Kevin.


"Ups!"


Richard langsung menutup mulutnya, dia bahkan menutup wajahnya. Sekarang semua orang tertawa lagi tapi kali ini menertawakan Richard.

__ADS_1


Sungguh kebersamaan yang begitu hangat. Seperti sebuah keluarga, itulah yang dirasa Samsudin dan Richard saat bersama dengan keluarga Hutama. Sekarang di tambah Sarah, rasanya keluarga ini semakin lengkap saja.


Tak lama kemudian, Sarah pun selesai dengan semua masakannya. Hidangan malam itu cukup sederhana, karena memang Sarah tak mau membuat semua orang menunggu terlalu lama. Sarah menyiapkan nasi putih, sayur capcay dengan seafood, lalu telur balado. Juga makanan kesukaan Tristan yaitu perkedel kentang dan daging.


Jaman sekarang semuanya serba mudah. Semua ada bahan instannya. Tinggal campur campur, aduk aduk, dan taraaa.... hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Berbagai menu itu pun sudah siap.


Mereka semua makan malam bersama, setelah itu mereka juga mengobrol sebentar. Sampai Kevin terlihat sudah mengantuk.


"Kevin sudah mengantuk kan? ayo kita pulang!" ajak Rendra pada Kevin.


"Kevin mau tidur dengan mama Sarah?" tanya Kevin.


"Kevin sayang, kita pulang ke rumah kakek ya. Kalau dari sini ke sekolah Kevin bisa satu jam lebih. Kevin harus bangun jam berapa? belum lagi seragam dan peralatan sekolah Kevin kan ada di rumah?" tanya tuan Arya Hutama.


Kevin pun mengangguk paham, dan akhirnya si kecil tampan itu mau di ajak pulang. Setelah semuanya pulang, Tristan pun memilih duduk di balkon apartemen nya sambil menunggu Sarah yang sedang membereskan ruang makan dan dapur.


Tristan menatap ke sekeliling, malam itu sangat cerah. Banyak bintang bertaburan di langit. Melihat bintang yang bersinar terang itu, Tristan kembali ingat pada Shanum. Wanita yang bertahun-tahun dia cintai. Wanita yang selalu mengajak Tristan melihat bintang dan mengatakan, kalau dia akan menjadi salah satu bintang yang paling bersinar nantinya. Dan Tristan juga selalu berkata, kalau dia akan selalu mendukung apapun mimpi Shanum.


Tristan melihat cincin pernikahan yang tersemat di hari manis sebelah kanannya. Dia bahkan tersenyum ketika melihat cincin pernikahan dengan Sarah itu.


Saat ini Tristan menyadari satu hal, kalau siapapun memang tak akan bisa melawan takdir. Dirinya sudah bertahun-tahun mencintai Shanum, begitu banyak perjuangan Tristan tapi tak bisa bersatu dengan Shanum.


Tristan pun menyadari kalau seharusnya dia memang mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri padanya. Seorang istri pilihan sang ayah yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Seorang istri yang sebenarnya juga membuatnya ketar-ketir saat bersamanya di pulau kala itu. Karena Sarah sudah membuat Tristan lupa pada Shanum, bahkan membuat Tristan merasakan perasaan yang begitu berbeda. Bahkan Tristan takut, kalau yang dia rasakan itu adalah rasa suka. Makanya dia minta Sarah menjauh kala itu.


Tristan kembali mengingat pertemuannya dengan Sarah, setiap momen yang dia lewati dengan Sarah. Semua kekonyolan itu membuatnya tersenyum. Reaksi yang tak pernah dia alami kalau dia memikirkan Shanum. Dengan Sarah, Tristan bisa tertawa, marah dan lainnya.


"Sedang apa?"


Tiba-tiba sebuah suara membuat Tristan menoleh ke sumber suara tersebut dan keluar dari segala lamunan nya.


"Sarah!" ucap Tristan lembut.

__ADS_1


"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat!" kata Sarah yang ingin kembali masuk ke dalam.


Namun sebelum Sarah kembali ke dalam, Tristan berdiri dari sofa dan memeluk Sarah dari belakang.


Deg


Sontak saja, Sarah yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Tristan sangat terkejut.


Sarah menelan salivanya dengan susah payah. Lalu mencoba menggeser bahunya karena merasa dagu Tristan berada di sana, dan itu membuat Sarah g3li.


"Tristan, ada apa? apa kepalamu sakit?" tanya Sarah yang khawatir kalau Tristan merasa kepalanya yang kala itu terluka, sakit.


Tristan menggelengkan kepalanya, tapi saat Tristan menggelengkan kepalanya itu. Bahu Sarah malah bertambah g3li lagi.


"Tristan, bisakah jangan seperti ini. Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Sarah bingung.


"Sebentar saja Sarah, aku ingin memeluk istriku sebentar saja. Di sini, di tempat yang sepi ini. Rasanya begitu tenang!" jawab Tristan dengan suara yang terdengar serak dan berat.


Sarah pun memilih untuk diam, tapi beberapa saat kemudian Sarah merasa kalau ada sesuatu yang bergerak di belakangnya. Sarah yang memang bukan wanita yang tidak mengerti apa hal itu langsung gugup.


Sontak saja Sarah langsung melepaskan tangan Tristan dan menjauh ke depan. Tristan bahkan hampir saja jatuh, untung dia berpegangan pada pintu kaca di dekatnya.


"Tristan, aku... aku harus mandi. Aku tadi bersih-bersih jadi, aku rasa aku harus mandi dulu. Kamu tidur saja duluan!" ucap Sarah yang langsung berlari ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Tristan pun hanya bisa terdiam, sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Aku benar-benar tidak bisa menahannya kalau dekat dengan Sarah!" gumamnya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2