
Beberapa hari kemudian, di apartemen Tristan. Kebetulan weekend, jadi mereka tidak ke kantor. Sebenarnya Tristan sudah minta Sarah tidak bekerja lagi, tapi Sarah pikir dia akan tunggu sampai akhir bulan saja
Padahal Arumi saja sudah tidak bekerja, karena kata Arumi. Nanti tidak ada yang menghabiskan penghasilan suaminya kalau dia masih bekerja. Sebuah alasan yang random, tapi itulah yang dia katakan pada Bu Sisilia saat resign.
Padahal, Arumi resign karena punya pekerjaan baru sekarang. Yaitu mengganggu Rendra di kantornya, dia sering datang untuk sekedar makan siang bersama. Padahal, niat Arumi itu yang sebenarnya adalah untuk mencegah ada wanita lain yang mengajak suaminya makan siang bersama. Kalau sarapan dan makan malam kan, Rendra sudah pasti melakukannya di rumah.
Sarah baru selesai merapikan dapur, mereka baru selesai sarapan bersama. Rencananya hari ini mereka akan di apartemen saja, menghabiskan waktu berdua menonton drama keluarga.
Sarah lebih dulu duduk di sofa ruang tengah.
"Tristan, kamu mau minum tidak. Biar aku buatkan!" kata Sarah sambil menghidupkan televisi dan merebahkan punggung di sandaran sofa.
Sedangkan Tristan, dia sedang memilih di aplikasi ponselnya drama yang akan dia sambungkan ke televisi.
Saat mendengar sang istri bertanya seperti itu, Tristan hanya menoleh dan tersenyum. Tristan berpikir kalau istrinya itu sudah dalam posisi yang sangat nyaman. Akan sangat kasihan baginya dan calon anaknya kalau dia harus bangun lagi dari posisi nyamannya itu untuk sekedar membuatkan minuman untuk Tristan, sedangkan Tristan bisa melakukannya sendiri setelah menyetel film yang akan dia tonton bersama Sarah.
"Tidak usah sayang, aku belum haus. Oh ya, bagaimana yang ini?" tanya Tristan pada Sarah.
Tristan menunjukkan sebuah judul film, dan Sarah langsung tertegun sejenak. Dia pernah menonton film itu dengan Indah dan adik-adik panti yang lain. Dan mereka menangis bersama saat itu. Sarah lantas tersenyum dan mengangguk.
"Iya, boleh!" kata Sarah.
Tristan lantas memutar film itu dan duduk di sebelah Sarah. Tristan menyandarkan perlahan kepala Sarah di dadanya.
"Aku sudah mulai berat Tristan, kamu akan pegal!" kata Sarah yang terkejut suaminya melakukan itu.
"Seberat apapun kamu, akan sangat ringan bagiku!" kata Tristan.
Sarah pun terkekeh kecil.
__ADS_1
"Kamu belum tahu saja, seperti apa wanita yang hamil besar. Badannya akan melebar, wajahnya membengkak, kaki dan tangannya juga membesar. Seperti balon di tiup, semakin lama semakin besar. Saat itu apa kamu masih akan bicara begini?" tanya Sarah.
Pengalamannya dulu, dia punya tetangga yang awalnya sangat romantis. Saat dia masih tinggal di panti. Kala itu suaminya sangat romantis, mereka pasangan pengantin baru. Ada tawa dan canda setiap harinya, dari pagi, siang, sore hingga kadang malam pun terdengar canda tawa di rumah itu. Rumah itu persis di belakang panti, jadi Sarah bisa mendengar dengan jelas suara tawa canda sepasang suami istri itu yang dapurnya dan ruang makannya juga ada pas di sebelah tembok belakang panti.
Tapi seiring waktu, dan seiring si wanita hamil dan p0stur tubuhnya jadi berbeda jauh dari saat mereka baru menikah. Suaminya jadi jarang pulang ke rumah, dan suara tawa canda itu malah berganti dengan suara barang di banting di dapur. Kadang pertengkaran sampai jam satu malam. Terdengar begitu menyedihkan, tapi bunda Tiara selalu bilang. Lain lubuk itu pasti lain airnya, lain orang lain isi kepalanya. Kita tidak boleh menyamaratakan pria seperti suami wanita yang tinggal di sebelah panti itu.
Entah sekarang bagaimana nasib mereka, kabarnya mereka berpisah karena bayi yang di lahirkan wanita itu juga meninggal saat lahir. Itulah kenapa, wanita yang sedang hamil itu tidak boleh banyak pikiran, sakit hati apalagi tertekan. Akan sangat berpengaruh pada kondisi bayi nya nanti. Kalau tidak salah, bayinya terkena kelainan jantung, karena ibunya stre5 saat hamil.
"Apapun keadaan kamu sayang, aku akan menerimanya. Karena aku mencintaimu, sangat mencintai mu!" kata Tristan mencium kening Sarah.
Lalu sambil mengusap kepala Sarah perlahan, Tristan berkata.
"Kamu tahu tidak sayang, setiap malam kalau aku terjaga dari tidurku, aku selalu menoleh ke sisi dimana kamu biasa tidur. Untuk memastikan kamu tetap ada di sana, di sampingku. Aku kadang suka berpikir, bagaimana dulu aku bisa menyakiti kamu, berkata kasar padamu, dan mengacuhkan mu. Wanita yang begitu baik, begitu sabar dan begitu penuh dengan kasih sayang dan perhatian. Sekarang aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu, saat kamu tidak ada di kamar begitu aku bangun...!"
"Kamu langsung ke dapur mencari aku padahal belum cuci muka!" sela Sarah sambil terkekeh kecil.
Tristan pun ikut tersenyum.
"Jangan lakukan itu, pakaian mu satu setel bisa belasan juta. Jatah anak kita akan berkurang!" kata Sarah protes membuat Tristan terkekeh tapi kembali mencium kening Sarah.
"Kalau begitu jangan cemas, aku akan bekerja lebih keras agar jatah anak kita tidak berkurang!" kata Tristan.
Sarah hanya tersenyum menanggapi apa yang di katakan oleh Tristan. Mereka pun melanjutkan menonton film sampai setengah film itu di putar. Sarah malah menangis saat menonton scene yang sedih. Tristan langsung mematikan film itu.
"Kenapa di matikan?" tanya Sarah.
"Sayang kamu jadi sedih saat menonton film itu, kata dokter kan kamu tidak boleh sering menangis, itu tidak baik!" kata Tristan.
Sarah pun ingat terakhir kali dia periksa kehamilannya dengan Tristan. Memang dia tidak boleh sedih atau banyak berpikir.
__ADS_1
"Baiklah, lalu sekarang kita ngapain? makan siang masih lama?" tanya Sarah pada Tristan.
Tristan malah tersenyum menyeringai ketika Sarah bertanya seperti itu.
"Bagaimana kalau aku makan kamu saja?" tanya Tristan yang langsung menyerang Sarah.
Tristan langsung mencium Sarah tanpa basa-basi, membuat Sarah sampai terjatuh dengan posisi berbaring di sofa. Tangan suaminya itu juga sudah sangat hafal harus kemana dan kemana setelah darimana. Sampai bantal sofa itu sudah terjatuh semua.
"Tristan, jangan di sini. Nanti ada yang datang bagaimana?" tanya Sarah.
"Sayang, kita belum pernah coba di sini kan? pintunya kan terkunci...!"
Ting tong Ting tong
Baru saja Tristan mengatakan seperti itu, ternyata bel apartemen mereka berbunyi.
Sarah terkekeh melihat Tristan mengacak rambutnya kesal karena keinginannya sudah di punc4k.
"Awas saja, kalau itu Richard akan ku poton9 gajinya!" gumam Tristan yang berjalan menuju ke arah pintu.
Sementara Sarah merapikan penampilannya.
Ceklek
"Nak Tristan, apa kabar?" tanya Widya.
"Ibu!"
***
__ADS_1
Bersambung...