Tega

Tega
Bab 266


__ADS_3

Saat Rendra sedang pusing memikirkan masalah dirinya dengan Arumi. Tiba-tiba saja dia mendengar suara keributan di luar ruangannya.


Terdengar suara sekertaris Rendra yang melarang seseorang untuk masuk ke dalam ruangan Rendra. Karena memang Rendra memberikan perintah itu kepada sekretarisnya, Rendra sedang pusing yang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Tapi sepertinya orang yang datang dan ingin bertemu Rendra itu tidak mau dengar peringatan dari sekertaris Rendra.


"Maaf nyonya, tapi tuan Rendra tidak mau bertemu dengan siapapun!" kata sekertaris Rendra tersebut terdengar bersuara dengan nada tinggi dan terdengar ketus, karena mungkin orang yang datang tersebut tidak mau mendengarkan dia yang bersuara pelan dan sopan.


"Aku ada perlu sama dia!" kata seseorang yang sepertinya ingin bertemu dengan Rendra.


Dari suaranya, Rendra sangat familiar dengan suara wanita tersebut. Ya, suara itu adalah milik seorang wanita dan wanita itu adalah Gisella.


"Mau apa dia kemari?" tanya Rendra sambil bergumam.


"Nyonya, saya peringatkan sekali lagi katanya memang tidak boleh masuk ke dalam ruangan tuan Rendra. Jika nyonya bersikeras maka saya akan panggilkan security untuk mengusir nyonya ya?" tanya sekretaris Rendra itu dengan tegas kepada Gisella.


"Aku tindakan pergi dari sini kalau belum bertemu dengan Rendra. Panggil saja security, silahkan. Aku sama sekali tidak takut!" kata Gisella.


Tadinya Rendra mau membiarkan saja wanita itu di luar. Tapi mendengar Gisella dan sekertaris nya yang bertambah ribut. Rendra pun memutuskan untuk keluar dari ruangannya karena tidak mau membuat keributan, yang akan mengganggu kinerja para karyawan di perusahaannya.


"Win, sudah. Kembali ke meja kamu!" kata Rendra pada Winda sekertaris nya.


Winda yang memang hanya mematuhi perintah dari atasannya pun segera menganggukkan kepalanya.


"Baik tuan!" kata nya dan langsung pergi meninggalkan Rendra dan Gisella.


"Ada apa kamu datang kemari? masih tidak pu4s semalam sudah membuat keributan di rumah? masih mau bikin on4r di perusahaan ku? mau mu itu apa?" tanya Rendra yang sepertinya merasa Gisella sengaja mencari masalah dengannya.


Melihat sikap Rendra yang begitu ketus padanya, membuat Gisella lantas berusaha keras agar air matanya keluar dari matanya. Gisella sejak dulu paham, kalau kelemahan Rendra itu ya air matanya. Mungkin lebih tepatnya Rendra tidak pernah tega melihat seorang wanita menangis di depannya, apalagi karena dirinya.


"Kenapa kamu membentakku begitu mas? aku ini juga masih ibu kandung Kevin kan? aku ini wanita yang pernah berjuang melahirkan anak untukmu dengan mempertaruhkan nyawa, hiks.. hiks... kenapa kamu tega sekali?"


Gisella langsung menangis, dengan air mata berderai dan duduk di sofa yang ada di ruangan Rendra.


Rendra yang melihat Gisella sangat sedih, bahkan mengatakan tenang Kevin pun menjadi tak tega pada Gisella. Apalagi dia tahu, kalau yang di katakan oleh Gisella itu memang benar. Perjuangannya melahirkan Kevin dulu juga bukan main-main. Benar-benar bertaruh hidup dan mati.


Rendra pun menghampiri Gisella dan memberikannya tissue yang dia ambil dari atas meja di dekatnya. Lebih tepatnya di depan Gisella.

__ADS_1


"Ini, hapus dulu air matamu. Sebenarnya kenapa kamu kemari?" tanya Rendra yang tetap berdiri di tempatnya setelah memberikan tissue tadi.


Gisella menyeka air matanya, tapi tidak semuanya. Susah payah dia menangis di depan Rendra. Kalau dia tidak sedih lagi, bagaimana dia akan menangis lagi kalau Rendra sudah mulai tak iba pada dirinya.


"Aku lapar, karena itu aku kemari!" kata Gisella.


Tentu saja mendapatkan jawaban seperti itu dari Gisella, Rendra menjadi terkejut.


"Apa maksud mu kamu lapar?" tanya Rendra.


Gisella merasa dirinya mengambil keputusan yang tepat. Karena air matanya belum dia seka semua. Jadi dia tinggal terisak saja, hanya bermain dengan mimik dan suara.


"Hiks... Gilbert mengusirku. Itulah kenapa aku kembali ke apartemen. Dan bukan hanya itu, dia juga memblokir semua kartuku. Aku sama sekali tidak punya uang mas, aku sangat lapar!" kata Gisella memelas pada Rendra.


"Apa kamu sama sekali tidak punya tabungan?" tanya Rendra.


Sebenarnya tabungan sih ada, meskipun tidak banyak. Dan barang-barang branded milik Gisella kalau di jual juga lebih dari cukup untuk biaya hidupnya tanpa bekerja selama satu sampai dua tahun. Tapi dia memang sengaja memelas, mengatakan tidak punya apapun pada Rendra untuk membuat Rendra iba dan kasihan padanya.


Gisella menggelengkan kepalanya perlahan sambil menunjukkan wajah yang memelas.


"Tidak ada mas, perutku perih sekali. Bisa lanjut bertanya nya nanti di kafe saja tidak, aku akan ceritakan padamu semuanya, tapi kalau kita masih bicara di sini, mungkin aku bisa pingsan mas sebentar lagi!" kata Gisella.


Apalagi Gisella terlihat terus memegangi perutnya. Rendra jadi semakin kasihan.


"Mau makan dimana?" tanya Rendra.


Gisella bersorak senang dalam hatinya, membuat Rendra kasihan padanya memang hal yang sangat mudah.


"Di kafe ya mas, yang ada nasi goreng seafood nya itu, ya?" tanya Gisella membujuk Rendra.


"Baiklah, ayo!" kata Rendra.


Dan sialnya, saat Rendra dan Gisella menuju ke kafe tersebut. Sarah dan Arumi juga sedang dalam perjalanan ke kafe yang sama. Karena Sarah ingin makan nasi goreng seafood. Dan setahu Arumi, di kafe yang letaknya dekat dengan sekolah Kevin itu menyediakan nasi goreng seafood lengkap yang super enak.


Yang pertama sampai adalah Rendra dan Gisella. Gisella langsung ke kasir dan memesan. Karena modelnya memang begitu, makanan yang di ambil, di bayar dulu baru di makan di tempat.


Setelah Rendra membayar, Gisella mengajaknya untuk duduk di dekat jendela.

__ADS_1


"Mas, duduk di sana saja!" kata Gisella yang langsung berjalan ke arah meja yang kosong.


Rendra mengikuti Gisella, bahkan mengeluarkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah di dekat piring nasi goreng Gisella.


"Mas, apa ini?" tanya Gisella.


"Aku harus pergi, katamu kamu tidak punya uang kan? maka pakailah uang itu untuk makan selama kamu belum dapat pekerjaan. Aku yakin tidak akan sulit bagimu mencari pekerjaan. Aku harus kembali ke kantor!" kata Rendra.


"Mas, setidaknya tolong temani aku makan. Aku takut, aku biasanya tidak pernah makan sendirian di luar!" kata Gisella.


Dan sebenarnya apa yang dia katakan itu benar. Sejak dulu, Gisella memang tidak pernah makan sendirian di luar. Meski menghela nafas berat, tapi Rendra tetap duduk. Dia pikir setelah Gisella selesai makan, maka dia akan langsung pergi.


Tapi tak berapa lama, bahkan Gisella belum juga menghabiskan setengah isi piringnya. Arumi menghentikan langkahnya ketika dia dan Sarah akan menuju ke meja kasir.


"Kenapa?" tanya Sarah yang tidak tahu apa yang sedang di lihat Arumi di hadapannya.


Begitu masuk kafe dan menuju ke meja kasir, entah kenapa pandangan Arumi selalu tertuju pada sebuah tempat. Dan ternyata benar, saya dia menoleh. Dia melihat suaminya sedang berada satu meja dengan mantan istrinya yang semalam baru saja membuat keributan di rumah besar Hutama.


"Lihat ke arah jam sembilan Sarah, tapi jangan bersuara, atau bergerak berlebihan!" kata Arumi.


"Mas Rendra, apa-apaan dia. Aku akan hampiri dia!" kata Sarah yang malah duluan emosi melekat Rendra dengan Gisella.


"Tidak Sarah, jaman lakukan itu. Membuat keributan di depan umum hanya akan membuat wanita itu pansos. Kamu melihatnya kan? setidaknya aku ada saksi kalau mas Rendra mengelak. Kita pulang saja ya Sarah, makan nasi goreng seafood nya di tempat lain, tidak apa-apa kan?" tanya Arumi terdengar sedih.


Sarah yang mengerti sekali perasaan Arumi lantas mengangguk dan mengajak sahabatnya itu pergi.


Tapi sebelum meninggalkan kafe, Sarah berbalik.


'Mas Rendra, ayo lihat kemari. Habislah kamu!' batin Sarah.


Dan mungkin doa ibu hamil sedang di kabulkan atau bagaimana. Rendra benar-benar melihat ke arah Sarah dan dan Arumi yang sudah keluar dari kafe.


Deg


'Habis sudah aku!' batin Rendra menyesal tak pergi dari tadi dari tempat ini.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2