Tega

Tega
Bab 50


__ADS_3

Melihat wajah takut Sarah, Richard baru sadar kalau dia telah menakuti Sarah. Akhirnya Richard menghentikan tawanya dan langsung berdekhem.


"Ekhem... !"


"Maaf nona, aku tidak bermaksud membuatmu takut!" ucap Richard yang jadi tidak enak hati.


Sarah langsung menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tersenyum meski sebenarnya di dalam hati dia cukup ngeri dengan Tristan.


"Aku tidak takut Richard, aku sudah banyak melihat pahit dan kerasnya kehidupan ini. Aku di besarkan di panti asuhan, berusaha mandiri dan cari pekerjaan apapun sambil sekolah saat tidak ada donatur yang membantu panti... eh kenapa jadi curhat ha ha ha!" Sarah pun terkekeh.


Richard juga ikut terkekeh, ternyata latar belakang kehidupan Sarah dan Richard juga tak jauh berbeda. Mereka sama-sama tak punya orang tua, sama-sama harus cari kerja tambahan dan sampingan sambil sekolah untuk biaya sekolah dan biaya hidup. Harus bekerja keras, bedanya Richard masih punya nenek kandung yang mengurus mereka sambil berjualan kue kering di desa. Setidaknya Richard masih punya tempat bernaung dan masih punya adik kandung. Sementara Sarah, dia benar-benar sendirian saat usianya dua tahun, saat di temukan bunda Tiara di depan panti asuhan.


"Kamu sangat baik nona, beruntung sekali bos bisa menikah denganmu!" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Richard.


Mendengar hal itu, Sarah malah mengernyitkan keningnya.


'Hoh, benarkah. Tapi entahlah, ini keberuntungan atau kesialan untukku!' batin Sarah.


"Jadi menurut mu begitu ya?" tanya Sarah dengan wajah sangat tidak enak di lihat.


"Oh em ji nona, kenapa wajahmu begitu. Bos ku sangat tampan, kenapa kamu terlihat takut, yang akan menikah denganmu itu adalah pria fenomenal tahun ini yang akan jadi pengusaha paling sukses...!"


Mendengar Richard mode cerewet on. Apalagi yang dia bicarakan hanya segala pujian dan sanjungan untuk Tristan. Rasanya Sarah mendadak gat4l-gat4l, alergi gitu mendengarnya.


"Oh oke.. oke... karena kamu sudah memaafkan aku. Aku akan kembali ke ruanganku dulu ya. Aku punya banyak pekerjaan. Dah.. Richard!" ucap Sarah yang langsung ambil langkah seribu daripada terus mendengarkan sanjungan Richard tentang Tristan.


***

__ADS_1


Sementara itu di sebuah rumah besar, di kediaman keluarga Ari Ricardo. Pria yang juga adalah salah satu pengusaha terkenal di kota ini itu sedang menyerahkan sebuah undangan kepada istrinya, Fitria Ricardo.


"Undangan dari siapa ini pa? wah ada voucher nya!" seru Fitria yang meskipun suaminya punya dua buah perusahaan besar tetap saja senang menemukan sebuah voucher belanja di toko tas branded kesukaannya.


"Dari tuan Arya Hutama, ma!" jawab Ari Ricardo yang nampak lelah karena seharian bekerja di kantor.


"Oh, iya. Papa pasti haus. Sebentar ya, mama ambil minum dulu!" ucap Fitria yang langsung meletakkan undangan dan voucher nya di atas meja lalu bergegas pergi ke dapur.


Dari lantai dua, turun seorang wanita muda yang memakai mini dress tanpa lengan dan menghampiri Ari Ricardo.


"Sore pa, sudah pulang?" tanya Hera yang langsung duduk di salah satu sofa yang kosong yang ada di ruangan tengah kediaman Ari Ricardo itu.


Ari Ricardo lantas menoleh ke arah Hera. Ari Ricardo langsung memalingkan pandangannya dari putri angkatnya itu karena melihat pakaian yang dipakai Hera terlalu terbuka. Bahkan dia duduk dengan meletakkan kaki kirinya di atas kaki kanannya. Minum dress nya terlalu pendek sampai nyaris menunjukkan 70 persen dari bagian pahanya.


"Hera, sudah berapa kali papa katakan sama kamu. Pakai pakaian yang benar, uang bulanan dari ayah pasti cukup untuk beli pakaian yang tidak kurang bahan seperti itu kan?" tanya Ari Ricardo yang memprotes cara berpakaian Hera.


Ari Ricardo yang memang sudah lelah dan malas berdebat pun akhirnya memilih pergi dari ruangan itu, untuk istirahat di dalam kamarnya saja.


"Eh kok papa pergi, ini undangan siapa pa?" tanya Hera namun tak di tanggapi oleh Ari Ricardo. Dia memilih melangkah saja mengabaikan panggilan Hera.


Hera yang memang tidak terlalu akrab dengan sang ayah angkat pun hanya bisa berdecak kesal karena di acuhkan seperti itu.


Tak lama, Fitria kembali dari dapur dengan membawa segelas air. Melihat sang suami tidak ada di sana, Fitria pun lantas bertanya pada Hera yang sedang melihat-lihat undangan yang tadi berada di atas meja.


"Loh, Hera. Papa kamu mana?" tanya Fitria tanpa meletakkan gelas air yang dia bawa.


"Papa ke kamar ma, katanya mau istirahat. Ini undangan Tristan sama Sarah? emang papa kerja sama sama tuan Arya Hutama ya ma?" tanya Hera yang penasaran bagaimana bisa keluarganya mendapatkan undangan yang limited edition.

__ADS_1


"Iya, papa kamu lagi kerja sama dengan perusahaan Arya Hutama yang di pimpin sama anak sulung tuan Arya Hutama, aduh... siapa ya namanya, mama lupa!" kata Fitria yang mengingat nama anak sulung Arya Hutama.


"Rendra ma!" sahut Hera cepat.


"Ah iya, kamu benar Hera. Namanya Rendra Hutama!" kata Fitria.


Hera langsung terpikir sebuah ide, mengingat setahunya Rendra Hutama itu kan duda punya anak satu. Dan ayahnya adalah rekan kerja Rendra, Hera pun berpikir daripada dia mengejar-ngejar Alan yang sudah jelas-jelas membencinya sekarang dan tidak punya apa-apa karena sudah satu minggu di skorsing, masa depannya pun belum jelas. Maka mendadak Hera merubah targetnya menjadi Rendra.


'Ah, biar saja. Kan Rendra kakaknya Tristan, calon suaminya Sarah. Artinya, kalau aku bisa masuk ke keluarga itu. Aku juga gak kalah dong sama Sarah. Yes, aku harus dapetin Rendra Hutama itu!' batin Hera yang merencanakan untuk mendekati Rendra.


"Ma, nanti kalau undangan ke sana. Aku ikut ya ma!" pinta Hera pada Fitria.


"Tumben, biasanya kamu gak mau di ajak undangan ke tempat mitra bisnis ayahmu?" tanya Fitria.


"Itu kan biasanya ma, boleh ya. Siapa tahu aku dapat jodoh di sana, plis ya ma!" bujuk Hera pada Fitria.


"Oke, tapi perhatikan pakaian mu, ya!" ucap Fitria mengingatkan Hera yang memang suka berpakaian tidak sesuai tema acara.


Setelah itu, Fitria pun masuk ke kamarnya dan Ari Ricardo.


"Pa, ini minumnya!" ucap Fitria sambil mendekati Ari Ricardo yang sedang duduk di sofa di kamarnya.


"Ma, tolong bilangin Hera. Cara dia berpakaian itu sangat tidak sopan. Kita ini hidup di negara timur. Ck... kemarin saja istrinya pak Burhan mengeluh, karena dia menasehati Hera. Tapi Hera malah marah-marah!" keluh Ari Ricardo tentang anak angkatnya itu.


Fitria pun terdiam. Dia juga sedih, karena tak sekali dua kali dia menasehati Hera. Tapi anak angkatnya itu sangat bebal. Fitria jadi sangat bingung bagaimana menghadapi dan menasehati Hera.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2