Tega

Tega
Bab 75


__ADS_3

"Apa keuntungan yang akan aku dapatkan jika mengikuti permintaan mu itu?" tanya Tristan yang tentu saja tidak akan melewatkan untuk mendapatkan keuntungan dari permintaan Sarah barusan.


Sarah pun berdecak kesal, kalau uang dia sudah pasti tidak punya. Tapi Sarah sepertinya mengerti satu hal, Tristan itu sepertinya sangat menyukai masakan Sarah. Alhasil hanya itu yang bisa Sarah tawarkan. Yang penting usaha dulu, hasilnya Tristan sepakat atau tidak, itu tergantung keberuntungan Sarah saat itu kan. Jadi tanpa ragu, Sarah langsung berkata.


"Bagaimana kalau aku bawakan makanan siang untukmu di kantor setiap hari selama satu bulan?" tanya Sarah yang sudah banyak mempertimbangkan akan hal itu.


Baginya satu bulan itu cukup lama loh, hanya di ganti empat hari tanpa denda perjanjian, Sarah pikir itu sudah cukup adil. Karena dua hari lagi saat para kru kapal datang membawa bahan makanan, dia akan meminta para kru kapal itu membawakannya tikar dan selimut tambahan. Agar Sarah tak harus tidur satu tempat tidur dengan Tristan lagi selanjutnya.


Mendengar apa yang di tawarkan oleh Sarah, Tristan malah memegang dagunya seperti sedang berpikir dengan sangat serius.


"Apa kamu pikir aku anak kecil, yang harus di bawakan bekal makan siang setiap harinya?" tanya Tristan dengan tatapan mengejek.


'Astaga, tidak berhasil. Ck... !' batin Sarah kecewa.


"Lalu kamu mau apa?" tanya Sarah yang tidak bisa memikirkan apapun sebagai alat barternya dengan Tristan.


Tristan malah kembali memegang dagunya, kali ini dia terlihat mengangkat sebelah alisnya sedikit ke atas.


Sepertinya Tristan menemukan sebuah cara agar dia bisa bertemu dengan Shanum di Paris tanpa bisa di tolak oleh ayahnya, tuan Arya Hutama.


"Aku akan anggap tidak ada denda untuk perjanjian kita itu, asal setelah kita kembali dari tempat ini. Kamu menemui ayah, dan mengatakan kalau kamu ingin pergi ke Paris!" ucap Tristan sambil menyeringai senang.


Sarah pun mengernyitkan keningnya.


"Kamu lupa, aku tidak punya Visa?" tanya Sarah pada Tristan.


Tristan malah melambaikan tangannya dari kanan ke kiri.


"Itu persoalan mudah, aku bisa urus Visa mu dalam tiga hari!" kata Tristan yang begitu yakin.


Sebenarnya Sarah merasa kalau ini bukanlah ide yang bagus. Tuan Arya Hutama pasti akan kecewa kalau mendengar permintaan ini keluar langsung dari mulut Sarah.


"Tristan, apa kamu pikir ayah tidak akan sedih kalau kamu terus berusaha membangkang terhadap apa yang beliau katakan? maksud ku, ayah sama sekali tidak ingin kamu menemui Shanum. Dan apapun alasan ayah, itu pasti demi kebaikan kamu. Apa cintamu pada kekasih mu itu melebihi cintamu pada ayahmu sendiri, Tristan?" tanya Sarah dengan suara pelan namun penuh penekanan.


Tristan yang memang sejak awal memperjuangkan apa yang Sarah katakan pun akhirnya ikut terdiam. Tristan menatap mata Sarah yang juga menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


Tristan seolah mendapatkan tamparan keras, ketika mendengar pertanyaan Sarah pada akhir kalimatnya. Cintanya pada Shanum apakah lebih besar daripada cintanya pada sang ayah. Ayah yang jelas-jelas merawatnya dan menyediakan segala hal terbaik baginya selama dia hidup sampai sekarang.

__ADS_1


Sarah yang merasa telah terlalu lama memandang Tristan dan merasa tatapan Tristan padanya semakin lama semakin tajam pun merasa kalau seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu, dia merasa sebentar lagi Tristan pasti akan mengeluarkan tanduknya. Daripada dia terkena amarah Tristan, menjadi sasaran kemarahan Tristan. Sarah pun memutuskan untuk ambil langkah seribu saja dari hadapan Tristan.


"Aku... aku akan siapkan makan siang untuk kita...!" ucap Sarah yang langsung hendak berbalik meninggalkan Tristan.


Namun baru satu langkah kaki Sarah menjauh, Tristan lantas mencekal pergelangan tangan Sarah.


Sarah yang terkejut bukan main atas apa yang dilakukan Tristan itu pun berbalik dan langsung melihat ke arah tangannya, lebih tepatnya ke arah pergelangan tangannya yang di genggam Tristan.


"Tristan...!"


"Apa ayah yang memintamu mengatakan hal ini padaku?" tanya Tristan yang malah berpikiran kalau mungkin saja semua kalimat yang keluar dari mulut Sarah itu adalah ajaran dari sang ayah, tuan Arya Hutama.


Sarah tidak menjawab pertanyaan Tristan dengan kata-kata. Sarah yang masih terkesiap karena Tristan mencekal tangannya pun hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


"Apa kamu benar-benar menyayangi ayahku?" tanya Tristan lagi.


Dan kali ini masih sama Sarah tak mampu menjawabnya dengan perkataan. Kali ini Sarah hanya mengangguk pasti, dengan satu kali anggukan dan pandangan mata yang sangat yakin pada jawabannya itu.


Setelah mendapatkan jawaban Sarah itu, Tristan lantas langsung melepaskan tangan Sarah. Tanpa bicara, Tristan langsung berbalik dan berjalan menuju pintu keluar bungalow itu.


Sarah masih memegang tangannya yang tadi di genggam erat oleh Tristan. Sarah sendiri juga masih bingung dengan sikap Tristan tadi.


Ternyata semuanya yang ada di dapur sangat lengkap. Sarah bisa menyiapkan nasi putih, ikan goreng dan sayuran tumis juga perkedel kentang kesukaannya yang sepertinya sekarang juga menjadi makanan kesukaan Tristan pula.


Setelah semuanya siap, Sarah pun mencari keberadaan Tristan. Awalnya Sarah berpikir mungkin Tristan ada di dermaga, atau di sekitar bungalow. Tapi sampai kaki Sarah pegal berkeliling dia tak kunjung menemukan Tristan.


Alhasil Sarah pun kembali lagi ke bungalow, dan menunggu Tristan sambil merapikan baju di lemarinya. Sampai sore pun Tristan tak kunjung kembali, di luar sepertinya sedang hujan. Sarah semakin khawatir saja. Tapi tak lama kemudian, Tristan datang dengan baju yang basah kuyup. Tanpa bicara pria itu lantas langsung meraih handuk dan pakaian ganti, lalu keluar. Tristan akan mandi di kamar mandi yang memang ada di luar kamar mereka.


Sarah pun bergegas menghangatkan lauk yang dia buat tadi.


Begitu Tristan keluar dari kamar mandi, Sarah berseru.


"Tristan, makan malam dulu!" ucap Sarah.


Tristan tak banyak bicara, dia langsung meletakkan handuknya di salah satu sandaran kursi lalu makan dengan tenang. Sarah pun merasa sangat aneh dengan sikap Tristan itu.


Sampai selesai makan malam, Tristan masih tidak bicara. Hingga malam telah larut, dan Sarah pun masuk ke dalam kamar setelah selesai membereskan dan merapikan dapur dan mengunci pintu bungalow.

__ADS_1


Tristan sudah memilih tempatnya di sebelah kiri tempat tidur dengan posisi membelakangi Sarah. Sarah juga mengambil posisi membelakangi Tristan. Keduanya tertidur dengan suasana yang begitu tenang.


Di dalam mimpinya, Sarah bertemu dengan Arumi, dan saat itu Arumi sedang bertanya.


"Dia masih galak padamu, setelah kalian menikah?" tanya Arumi.


Sarah pun mengangguk.


"Apa dia menyakitimu, maksudku menyakiti fisikmu?" tanya Arumi lagi.


Sarah yang ingat, Tristan mencekal tangannya dengan sangat kuat hingga membuat tangan Sarah sakit pun lagi-lagi mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan mengajarimu taekwondo Sarah, supaya kamu bisa melawan kalau dia ingin mencekik atau membanting mu!" kata Arumi bersemangat.


Sarah sampai bergidik ngeri.


"Apa mungkin itu bisa terjadi?" tanya Sarah pada Arumi.


"Makanya buat jaga-jaga saja, ikuti gerakan ku ya. Hiatt...!"


Arumi mencontohkan tendangan pada Sarah. Dan Sarah pun mengikuti contoh gerakan yang di praktekkan Arumi.


"Hiaattt...!"


Dan di kehidupan yang sebenarnya...


Buggghh


Tristan meringis menahan sakit pada pinggangnya ketika dia menyadari kalau dia tengah terjatuh dari tempat tidur. Dengan berusaha membuka matanya yang masih mengantuk, Tristan berusaha bangkit meski pinggang dan lututnya masih terasa sakit.


"Hiatt...!"


Tristan melihat Sarah sedang melakukan gerakan menendang dengan mata yang tertutup rapat.


"Astaga!" keluh Tristan mengusap wajahnya kasar karena depresot.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2