Tega

Tega
Bab 197


__ADS_3

Sarah dan Tristan pergi bersama untuk makan siang di salah satu restoran yang sudah mereka reservasi. Tapi kali ini, Sarah minta pada Tristan agar tidak boros. Cukup pesan saja satu ruangan untuk mereka makan siang bersama.


"Sayang, sabtu ini kamu jadi menginap di panti? panti belum jadi sayang, hanya ada kamar anak-anak di sana. Kamu tidak mau membuat mereka harus tidur berhimpitan karena membagi kamar dengan mu kan?" tanya Tristan yang memang tidak ingin kalau istrinya itu menginap di panti dan meninggalkannya di apartemen sendirian meski hanya satu malam saja.


Mendengar apa yang dikatakan suaminya itu, Sarah diam dan berpikir.


"Ah iya Tristan, kamu benar juga. Seharusnya aku tidak menginap. Baiklah aku akan pulang jam sembilan malam, bagaimana?" tanya Sarah pada Tristan.


Meski kurang setuju, karena Tristan ada meeting penting dan klien yang bersangkutan hanya bisa weekend. Tapi daripada dia tidur sendirian di apartemen. Tristan pun mengangguk setuju pada Sarah.


Saat Tristan kembali fokus ke arah depan. Tiba-tiba saja mobilnya di hadang oleh dua buah mobil sedan. Membuat Tristan lansung menginjak pedal rem dengan cepat.


Tristan langsung menoleh ke arah Sarah. Memastikan istri tercintanya itu tidak terluka.


"Sarah, kamu tidak terluka?" tanya Tristan.


Sarah yang menahan kepalanya agar tidak terbentur dasboard langsung menggelengkan kepalanya pada Tristan.


"Kurang ajar, siapa mereka itu. Berani-beraninya menghadang jalan kita!" kata Tristan geram yang sudah bersiap melepaskan sabuk pengamannya untuk menghampiri mobil yang menghadangnya tersebut.


Tapi Sarah yang merasa ada yang tidak benar, langsung menahan Tristan.


"Tristan, jangan turun!" kata Sarah memegang lengan kiri Tristan.


Mendengar larangan dari istrinya, Tristan lantas kembali menoleh ke arah Sarah.


"Sayang, mereka harus di beri pelajaran. Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja!" kata Tristan.


"Tristan, tapi mereka tidak turun dari mobil, mungkin tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Mundur saja, dan cari jalan lain!" kata Sarah yang punya firasat tidak baik.


Setelah berpikir, dan merasa memang ada yang tidak beres karena dua mobil di depan itu hanya diam saja menghadang jalan, tapi tak ada satu orang pun yang keluar dari kedua mobil itu.


Tristan memilih mengikuti saran dari Sarah saja. Dia memundurkan mobilnya lalu memutar dan mencari jalan lain.


Dari arah belakang terlihat sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari posisi mobil Tristan berada.


"Siall, aku pikir dia akan turun. Dan saat itu akan membawa Sarah. Ck...!" decak kesal seorang pria dengan jaket berwarna putih dan kaca mata hitam dari dalam mobil tersebut.


"Kita bisa langsung menghajarnya saja bos, dia hanya sendirian!" kata salah seorang anak buah pria itu.

__ADS_1


Tapi mendengar apa yang anak buahnya katakan, pria itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, masih banyak waktu. Semakin Tristan Hutama merasa tidak tenang. Ini akan semakin seru!" kata pria itu yang melihat mobil Tristan melintas begitu saja di depannya.


Sementara itu di dalam mobil, Sarah dan Tristan sama-sama memikirkan semua yang terjadi tadi. Kiriman makanan tanpa nama pengirim, lalu mereka di hadang.


"Tristan, apa menurutmu kita sedang di teror?" tanya Sarah menganalisa apa yang sudah terjadi sejak pagi.


Tristan sebenarnya berpikiran sama dengan Sarah. Tapi dia tidak ingin istrinya itu cemas dan panik.


"Sayang, lupakan saja. Mungkin hanya kebetulan, ada orang iseng yang baru punya mobil dan batu belajar mengemudi!" kata Tristan pada Sarah sambil mengembangkan senyuman ringan di wajahnya.


Sarah langsung mengangguk pelan, mungkin benar kata Tristan. Itu hanya kebetulan. Mereka pun melupakan hal itu dan kembali mencari jalan menuju sebuah restoran yang ternyata baru buka beberapa minggu yang lalu. Restoran ini rekomendasi dari Richard, karena katanya makanannya banyak yang spektakuler. Begitu kata Richard. Bisa melihat kokinya langsung memasak di tempat juga. Apa istilahnya, open kitchen.


"Sepertinya lewat sini, huh menyebalkan sekali gara-gara mobil tadi kita harus mencari-cari jalan lagi!" kata Tristan kesal.


"Sabar!" kata Sarah sambil terus membaca arah maps di ponselnya.


"Tristan belom kanan, nah tidak jauh dari situ!" kata Sarah.


Tristan lantas kembali mengemudikan mobilnya sesuai instruksi Sarah.


"Sayang, itu pergeseran makna. Dapur yang membuat perut para pelanggan terisi penuh, alias kenyang!" jelas Tristan.


Sarah pun langsung mengangguk paham. Keduanya masuk dan mengatakan pada pelayan siapa mereka. Pelayan pria itu lantas dengan sopan menunjukkan arah kepada Sarah dan Tristan.


Mereka di tempatkan di sebuah open kitchen. Di kanan dan kiri mereka juga ada pengunjung lain. Pasangan juga sepertinya.


Chef yang bertugas mulai memperkenalkan diri dan mulai menjelaskan apa yang akan dia masak dari mulai appetizer, main course, dessert nya. Di awali dengan appetizer.


Ada dua asisten di belakang chef itu, tapi saat Tristan melihat ke arah salah satu asisten chef itu, Tristan terlihat terkejut.


Sarah yang tak sengaja menoleh pun akhirnya ikut melihat ke arah pandangan Tristan.


'Itu, bukankah itu adiknya Shanum!' batin Sarah.


Tristan lantas mengalihkan pandangannya dari Leni ketika Leni tak sengaja melihat ke arahnya tapi langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


Mereka tetap menikmati makanan yang di sediakan oleh chef itu. Tapi Sarah dan Tristan malah jadi sama-sama diam.

__ADS_1


Begitu selesai makan, Tristan mengajak Sarah untuk pergi secepatnya dari restoran itu. Tapi Sarah menahan lengan Tristan.


"Jika ingin bertanya pada Leni, maka bertanya saja. Aku akan menunggu di mobil!" kata Sarah yang mengerti kalau suaminya terlihat heran kenapa bisa adik Shanum menjadi seorang pelayan di restoran.


"Tidak Sarah, tidak perlu. Apapun tentang mereka bukan urusan ku lagi!" kata Tristan.


Sarah sebenarnya tidak enak hati, tapi dia juga sangat menghargai keputusan Tristan. Sarah mengangguk dan merangkul lengan Tristan.


Tapi baru saja Sarah dan Tristan akan pergi, Leni berlari memanggil Tristan.


"Kak, kak Tristan!" panggil Leni.


Sarah dan Tristan akhirnya menghentikan langkah mereka dan berbalik.


"Kak Tristan, kak... !" Leni terlihat ngos-ngosan.


"Ada apa?" tanya Tristan datar.


Sebelum bicara, Leni melihat ke arah Sarah terlebih dahulu. Seperti meminta ijin untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Tristan.


"Ada apa?" tanya Sarah.


"Kak Shanum, dia sakit!" kata Leni.


Sarah terlihat terkejut, tapi Tristan hanya diam.


"Sakit apa?" tanya Sarah penasaran.


"Kak Shanum depresi, setelah kembali dari apartemen kak Tristan. Kak Shanum tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau melakukan apapun. Sudah dua minggu di rawat di rumah sakit, kak Shanum tidak mau bicara. Aku pikir kalau kak Tristan...!"


"Tidak!" tegas Tristan.


Air mata Leni langsung menetes, dia tidak bicara apapun lagi dan langsung berbalik.


"Tunggu!"


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2