
Sarah yang mendengar Tristan menyebutkan kata ibu, langsung berdiri dan bergegas menuju ke arah pintu.
Sarah langsung berlari memeluk ibunya ketika melihat Widya datang bersama dengan seorang wanita muda.
"Sayang, jangan berlari begitu... ingat kamu sedang hamil sayang!" kata Tristan mengingatkan istrinya.
"Iya Sarah, kenapa berlari begitu?" Yahya Widya mengusap kepala Sarah dengan lembut.
"Maaf Bu, maaf Tristan. Tidak akan ku ulangi! ayo Bu masuk. Oh ya ini siapa?" tanya Sarah pada wanita muda yang ada di samping Widya.
"Ini Tika, anaknya bi Asih kepala pelayan di rumah kita. Ibu mengajak dia ke sini buat bantu-bantu kita di sini!" kata Widya.
Tristan lantas melihat ke arah banyaknya koper yang di bawa oleh ibu mertuanya itu.
"Ibu, semua koper itu?" tanya Tristan canggung.
Widya lantas tersenyum.
"Itu koper ibu, ibu mau tinggal di sini ya selama Sarah hamil. Ibu mau menemani Sarah, bolehkan nak Tristan?" tanya Widya sambil tersenyum.
Sementara Tristan hanya bisa tersenyum canggung. Mau bagaimana lagi, toh ibu mertuanya sudah bawa kopernya yang banyak itu dan juga pelayannya sendiri.
"Tentu saja Bu!" kata Tristan.
"Terimakasih nak Tristan, kamu memang menantu yang paling pengertian di seluruh dunia! Tika, masukkan semua barangnya!" kata Widya yang lantas di angguki oleh Tika.
Karena Widya datang tanpa pemberitahuan, maka kamar tamu yang di jadikan ruang biliard oleh Tristan belum di rapikan.
Alhasil, Richard harus di telepon di hari liburnya untuk membereskan semua itu. Juga untuk membeli tempat tidur dan lemari baru untuk ibunya Sarah. Sementara Tika akan tidur di kamar yang memang sudah tersedia sejak lama di apartemen itu untuk kamar pelayan. Ruangannya lebih kecil, hanya sekitar 3 kali 4 meter saja.
"Semua sudah di pesan bos, tinggal tunggu barangnya datang dan di rapikan ke dalam ruangan!" jelas Richard.
__ADS_1
"Bagus!" sahut Tristan sambil menganggukkan kepalanya.
"Bos, di sini kan ada ibu mertua mu. Apa dia tidak akan terkejut kalau dia melihat mini bar mu itu? apa tidak ingin di ubah sekalian jadi kamar bayi?" tanya Richard.
Dan tak seperti biasanya, kali ini Tristan merasa apa yang dikatakan Richard itu ada benarnya. Tapi juga ada salahnya. Yang benar adalah, seharusnya memang sudah tidak ada ruangan mini bar di apartemen ini. Karena dia sudah berkeluarga, dan dia akan memiliki seorang anak sebentar lagi, bukan masalah takut di lihat oleh ibu mertuanya. Tapi dia malah takut anaknya bertanya tentang minuman yang ada di mini barnya itu.
Dan yang salah adalah Tristan tidak ingin tidur terpisah kamar dengan anaknya. Selain akan membuat Sarah lebih lelah harus bolak-balik untuk memastikan anaknya baik-baik saja. Dia tidak ingin kehilangan satu moment pun saat melihat anaknya tertidur pulas.
"Kamu benar Richard, singkirkan semua itu. Biarkan kosong dulu, aku akan jadikan kamar itu tempat bermain anakku nanti!" kata Tristan yang segera di angguki oleh Richard.
"Bukan kamar baby bos?" tanya Richard.
"Apa kamu pikir bayi bisa naik ke lantai dua, yang benar saja!" protes Tristan.
"Oh emji... ya di gendong dong bos. Kalau bayi langsung bisa naik ke lantai dua. Aku juga takut melihatnya!" kata Richard dengan gaya khasnya.
Sementara Tristan sedang berbincang dengan Richard. Widya yang duduk di ruang tengah bersama Sarah pun bertanya pada Sarah.
"Itu, laki-laki kan ya Sarah?" tanya Widya dengan pandangan mata tertuju pada Richard.
"Tapi kok setiap dia ngomong, sambil goyang-goyang gitu. Gayanya feminim, dari tidak dia tidak duduk. Apa dia kena ambeien?" tanya Widya keheranan melihat tingkah Richard dengan gaya khasnya.
Sarah langsung terkekeh mendengar pertanyaan dari ibunya.
"Ha ha ha, bukan Bu. Richard memang begitu, dia punya gaya khas. Tapi dia sangat baik!" jelas Sarah.
"Oh gitu ya, di tempat ibu tidak ada sih orang model begitu. Langka ya dia!" kata Widya yang kembali membuat Sarah terkekeh mendengarnya.
Sarah tak berhenti tertawa ketika ibunya menyebut kalau Richard itu langka.
"Ibu, apa yang ibu katakan? ha ha ha, haruskah aku meminta Tristan untuk memasukkan Richard ke museum. Astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa!" kata Sarah masih sambil terkekeh.
__ADS_1
Tapi fokus Widya malah pada hal lain.
"Sarah, nak. Apa dia menyukai wanita atau dia itu belok?" tanya Widya yang cemas akan hal itu juga.
Sarah langsung berusaha untuk menghentikan tawanya.
"Ibu tenang saja, dia normal. Hanya saja dia belum bertemu dengan sosok yang pas di hatinya!" kata Sarah menjelaskan.
"Nak, kalau dia terus bersikap dan bertingkah seperti itu pasti sangat sulit. Katamu dia itu kan sangat baik. Kenapa kalian tidak menasehatinya untuk berperilaku lebih normal. Dari usianya sepertinya seharusnya memang sudah punya keluarga kan? harusnya anaknya sudah dua atau tiga mungkin?" tanya Widya pada Sarah.
Widya berkata seperti itu karena dia juga perduli pada Richard. Kata anaknya Richard sangat baik dan sering membantu mereka, meski itu memang adalah tugasnya. Tapi kalian Richard tidak baik, dia juga tidak mungkin bisa bekerja bersama Tristan sampai bertahun-tahun. Karena itu dia juga ingin Richard bisa berkeluarga. Dan menurutnya dengan gayanya yang khas itu, dia akan sulit menemukan wanita yang mau padanya.
Tapi Sarah langsung menepuk punggung tangan ibunya.
"Aku dan Tristan memang sudah menganggap Richard seperti keluarga, tapi kalau soal itu, kami lercaya pada Richard. Justru dengan tingkahnya yang bukan di buat-buat seperti itu, dia akan menemukan wanita yang akan menerimanya apa adanya. Aku yakin, di suatu tempat ada wanita seperti itu, ada seorang wanita yang memang di takdirkan untuk Richard!" kata Sarah yang langsung di angguki oleh Widya.
Namun saat mereka sedang merapikan kamar untuk Widya dan Tika. Ternyata di sebelah unit apartemen Tristan juga sedang ada yang pindahan sepertinya.
Beberapa kardus dan barang sedang di masukkan ke dalam unit itu. Tadinya unit yang tak jauh dari unit apartemen Tristan itu di tempati oleh seorang pria paruh baya dengan anak laki-lakinya. Tapi sepertinya beberapa minggu yang lalu mereka pindah. Dan unit itu sepertinya kini punya pemilik baru.
Saat pengantar batang memasukkan sebuah lemari pakaian ke dalam unit apartemen Tristan. Seorang pria berkulit putih dan berwajah asia mengejar pengantar batang itu sampai ke dalam rumah Tristan.
"Permisi, sepertinya kalian salah angkut!" kata pria berkemeja kotak-kotak hitam putih itu.
Melihat ada orang asing masuk ke dalam rumahnya Tristan langsung mengajak Richard bertemu dengan orang itu.
"Ada apa ini?" tanya Tristan.
"Maaf, tapi sepertinya kurir anda salah angkut. Ini lemari milikku, lihat ada inisial namaku di pojok atas!" kata pria itu menunjukkan inisial namanya.
"Brian Kim, oh emji... kamu Brian Kim, Brand ambassador yang lagi naik daun itu?" tanya Richard heboh.
__ADS_1
***
Bersambung...