Tega

Tega
Bab 162


__ADS_3

Arumi sampai ternganga mendengar kakaknya bicara tentang video viral dirinya dengan Rendra di pesta ulang tahun Hera kala itu.


Bukan hanya Arumi saja yang terkejut, mendengar apa kata-kata Renata tadi. Rendra pun sama terkejutnya bahkan dia panik, dia sampai mengusap wajahnya dengan kasar mendengar apa yang dia lakukan bisa di lihat secara bebas di media sosial. Hal itu sama sekali tidak Rendra pikirkan sebelumnya. Dia benar-benar tidak enak pada Arumi.


Ya, Rendra bukan memikirkan dirinya sendiri yang akan menjadi gunjingan para rekan bisnisnya kalau ada yang melihat. Tapi Rendra lebih khawatir kalau Arumi di pandang rendah orang karena apa yang dia lakukan.


Rendra lalu menghubungi seseorang yang pandai menekan berita semacam itu di media sosial.


Sementara Rendra sedang menghubungi seseorang, Arumi masih saling adu mata melotot dengan Renata, kakak pertamanya.


"Kenapa malah melotot, untung saja beritanya sudah di take down oleh Arista, kamu ini benar-benar ya! di jodohkan dengan anak pejabat tidak mau, malah nantangin papi kalau kamu bisa hidup mandiri, sekarang malah berhubungan sama seorang duda. Arumi, kamu pikir dong! kayak gak ada cowok single aja di dunia ini!" kata Renata begitu frontal tentang status Rendra.


Arumi langsung berdecak kesal, untung saja saat dia melihat ke arah Rendra pria itu sedang sibuk menghubungi seseorang dengan ponselnya. Kalau tidak, mungkin saja Rendra akan tersinggung kalau mendengar apa yang baru saja Renata katakan tentang dirinya.


"Kakak, tuh mulut kebiasaan gak pakai filter ya? makanya kakak tuh gak laku... !"


"Heh... !" bentak Renata.


"Buktinya, kak Arista aja udah punya anak 2, kakak belum juga di lamar kan sama pacar kakak yang pejabat itu. Iya kali, dia mau nikahin kakak pas dia gak jadi pejabat lagi, biar numpang hidup gitu!"


Sepertinya tidak heran, darimana gaya bicara Arumi itu berasal. Dari percakapan nya dengan Renata. Sepertinya memang keluarga besar Candra Wijaya itu punya cara unik untuk bicara dan mengemukakan pendapat mereka.


"Ngapain bahas kakak? sekarang yang perlu kita bahas tuh kamu! Jangan aneh-aneh ya Arumi, kakak kesini cuma kasih peringatan sama kamu. Kakak tuh masih satu komunitas sama mantan istrinya duda ini, kamu gak akan mau dengar kenapa Gisella sampai minta cerai sama duda ini!" ujar Renata bicara agak berbisik pada Arumi.


"Emangnya kenapa?" tanya Arumi yang sebenarnya sudah tahu dari Sarah apa alasan Gisella meninggalkan Rendra. Karena dia lebih memilih pria lain dan mengejar karirnya.


"Itunya gak bisa tegak lama-lama. Ih, siapa juga yang bakal tahan sama suami kayak gitu!" kata Renata membuta mata Arumi terbelalak lebar.


Bahkan mata Arumi langsung melihat ke arah celana Rendra. Dimana benda yang sedang dibicarakan oleh Renata itu berada.

__ADS_1


Arumi menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan nya.


"Kaget kan kamu, makanya sudah deh gak usah lagi kamu berhubungan sama duda itu, lagian papi sama mami juga nggak bakalan setuju!" kata Renata lagi.


Rendra pun kembali menghampiri kedua wanita yang sedang membicarakannya diam-diam itu.


"Beritanya sudah di take down!" jelas Rendra.


Renata yang memang sangat tidak menyukai Rendra karena sudah lama mendengar cerita tentang dirinya dari Gisella. Langsung menatap dengan tatapan tidak suka ke arah pria yang sebenarnya sangat baik itu.


"Heh, telat. Keluarga kami juga sudah take down berita itu sejak kami melihatnya. Jadi tolong ya pak duda, jauhi adik saya. Dia masih polos dan gak tahu apapun tentang cinta dan hubungan semacam itu. Jangan sampai keluarga kamu melakukan apa yang tidak bisa kamu bayangkan...!"


Plakkk


Ucapan diplomatis Renata seketika terhenti karena dia mendapat pukulan yang lumayan keras di lengannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Arumi.


Dengan sangat tidak enak pada Rendra, Arumi tersenyum canggung ke arah Rendra tapi langsung melotot ke arah Renata.


"Gak peduli, dan gak mau tahu. Kalau kakak masih dengar kamu berhubungan sama pria ini. Kakak aduin sama papi!" kata Renata pada Arumi.


"Pak duda, ingat! jauhi Arumi!" kata Renata yang langsung pergi meninggalkan ruangan Rendra.


Rendra pun langsung mengajak Arumi duduk untuk bicara baik-baik.


Tapi judulnya sama yang katanya mau bicara, padahal sejak tadi keduanya hanya duduk berdampingan dan saling diam. Mereka bahkan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


'Harus aku mulai darimana? apa memang aku harus menjauhinya saja?' batin Rendra.


'Ih, itunya gak bisa berdiri lama ya? tapi kan jaman sekarang sudah moderen, alat medis banyak yang canggih. Masak iya, gak bisa di obati?' batin Arumi yang malah memikirkan hal yang seperti itu.

__ADS_1


"Jadi itu yang membuat mu mengatakan agar aku melupakan kejadian waktu itu ya Arumi?" tanya Rendra yang langsung membuat Arumi terdiam.


Arumi diam karena mencerna apa yang dikatakan Rendra. Arumi bukan wanita yang tidak pintar, di sangat pintar hanya saja sinyalnya kurang lancar. Jadi untuk memahami sesuatu tanpa salah. Arumi harus mencernanya dengan baik.


"Maksud mas Rendra, aku minta mas Rendra melupakan ciuman itu karena ku anak Chandra Wijaya?" tanya Arumi begitu frontal, tapi itu benar.


"Lalu karena apa?" tanya Rendra yang bahkan sampai saat ini masih bisa merasakan sens4si ciuman dengan Arumi itu tiap kali mengingatnya.


"Apa mas Rendra percaya? kalau aku bilang itu ciuman pertamaku?" tanya Arumi lagi.


Rendra yang sekarang malah terdiam, tapi dia percaya pada yang Arumi katakan. Karena Arumi memang sangat kaku, meskipun Rendra juga bukan ahlinya melakukan hal itu.


Arumi menghela nafas panjang.


"Menjadi keluarga Wijaya bukan hal yang mudah mas, tapi ada baiknya juga sih. Ketatnya keluarga ku menjagaku, membuat bibirku masih perawan saat di sentuh bibirmu kan. Bagaimana rasanya?" tanya Arumi dengan santainya pada Rendra.


Arumi yang memang tidak pernah dekat dengan pria manapun sebelumnya, memang tak tahu bagaimana cara memfilter ucapannya kalau bicara sedekat itu pada pria.


Tanpa Arumi sadari apa yang dia katakan itu malah membuat Rendra jadi panas dingin. Sebelumnya Rendra bahkan tidak pernah seperti ini, ada perempuan memakai pakaian renang dan sengaja menggodanya saja Rendra sama sekali tidak tergoda. Tapi gara-gara ciuman Arumi malam itu, Rendra seperti tak bisa mengontrol dirinya kalau di dekat Arumi.


"Kamu bertanya seperti itu pada seorang pria, Arumi! Tidakkah kamu tahu itu pertanyaan yang berbahaya?" tanya Rendra dengan suara yang berat.


Arumi hanya terdiam sambil menatap mata Rendra yang tengah menatapnya juga.


"Apa yang salah? aku hanya bertanya bagaimana rasanya...!"


"Emmmmptt!"


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2