
Deg deg deg deg deg
Jantung keduanya berdetak dengan cepat. Namun menyadari apa yang telah dia lakukan, Rendra menarik bibirnya dari bibir Arumi.
"Arumi, aku... aku minta maaf!" kata Rendra sama sekali tidak menyangka dia bisa berbuat seperti itu pada Arumi.
Akal sehatnya tadi sempat hilang saat dia menatap Arumi yang mengatakan hal yang membuatnya jadi panas dingin.
Arumi pun menatap lekat ke arah Rendra yang terlihat begitu menyesal.
"Mas...!" kata Arumi sambil mengecap bibirnya sendiri.
Rendra langsung memperhatikan Arumi dengan seksama.
"Bagaimana kalau kita pacaran?" tanya Arumi.
Mata Rendra melebar, tapi itu mata yang melebar karena mendengar sesuatu yang membuat hatinya menjadi senang.
"Pacaran?" tanya Rendra gugup.
"Ya iyalah mas, mas udah dua kali loh nyosor aku. Masak gak mau tanggung jawab?" tanya Arumi membuat Rendra langsung menutup mulutnya rapat.
"Tanggung jawab?" tanya Rendra lagi.
Arumi yang melihat Rendra malah seperti orang yang sedang nge-bug menjadi kesal.
"Ck... mas, dari tadi nanya terus sih? ya udahlah kalau gak mau tanggung jawab. Aku mau pulang aja, kak Renata juga sudah pergi kan!" kata Arumi yang lantas berdiri dan bersiap melangkah pergi.
Namun Rendra yang melihat Arumi akan pergi langsung menahan tangan Arumi.
"Arumi tunggu!" kata Rendra yang langsung berdiri dan menuntun Arumi menghadap ke arahnya.
"Aku mau tanggung jawab. Arumi, maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Rendra ajak malu-malu. Sungguh, hanya Arumi yang bisa membuat Rendra bersikap seperti itu.
Arumi yang tadinya kesal langsung tersenyum pada Rendra. Dan langsung memeluknya, lebih tepatnya menubruk Rendra.
Rendra sedikit terkejut, namun dia malah tersenyum melihat apa yang Arumi lakukan itu.
***
Malam harinya, Sarah kembali ke apartemen. Dia sedikit terlambat karena mengurus masalah yang di sebabkan Richard tadi pagi. Sarah benar-benar sudah nyaman berada di posisinya di kantor saat ini. Menjadi staf divisi keuangan sudah sangat cocok untuk Sarah.
Setelah semuanya selesai, dan Richard yang di beri wewenang untuk mengurus perusahaan untuk sementara. Baru Sarah bisa pulang.
Sarah membuka pintu apartemen dan mencium aroma yang begitu enak. Sepertinya Tristan sudah pulang dan sedang memasak di dapur.
Sarah pun langsung menuju ke arah dapur. Ternyata benar, seorang pria tampan dengan kaos lengan pendek berwarna hitam sedang memakai apron dan memasak tumis daging sepertinya. Aroma masakan Tristan begitu sedap. Sarah jadi benar-benar lapar.
"Kamu sudah pulang?" tanya Tristan yang melihat Sarah berjalan ke arah dapur.
"Iya!" jawab Sarah singkat.
__ADS_1
"Mandi dan ganti pakaian lah, aku akan siapkan makan malam untuk kita berdua!" kata Tristan.
Sarah mengangguk patuh, Sarah juga langsung berbalik dan berjalan menuju ke kamar mereka.
Sarah menoleh sekilas ke arah Tristan. Pria itu benar-benar telah berubah. Tapi kenyataannya tidak akan berubah. Pria itu telah meninggalkan istrinya demi wanita lain. Dan besok adalah sidang mediasi pertama mereka.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sarah keluar dari dalam kamarnya. Dia bahkan sudah mengeringkan rambutnya setengah kering.
"Ayo, silahkan nona. Silahkan menikmati hidangan pembukanya!" kata Tristan memberikan Sarah salad tuna.
Sarah tersenyum melihat tingkah Tristan. Mereka pun makan malam bersama, Tristan begitu memperlakukan Sarah dengan baik. Bahkan tak jarang menyuapi Sarah makanan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Tristan.
Sarah memberikan dua jari jempolnya ke depan Tristan.
"Enak sekali, ini makanan paling lezat yang pernah aku makan!" kata Sarah memuji Tristan.
'Kalau kita tidak bercerai, maka kamu bisa makan makanan ini setiap hari, Sarah!' batin Tristan.
Tristan senang sekali melihat Sarah makan dengan lahap. Setelah itu, mereka duduk berdua di balkon.
Mereka duduk beralaskan karpet. Tristan bilang dia ingin menghabiskan malam ini dengan Sarah, bicara berdua di balkon apartemen mereka.
Sarah pun setuju, dan di sinilah mereka berdua sekarang. Berdua menatap banyak bintang di langit.
"Bolehkah aku tidur di pangkuan mu?" tanya Tristan pada Sarah.
"Maaf Tristan!" kata Sarah.
Tristan mengangguk paham, dia lalu meletakkan bantal kursi di atas karpet dan tidur dengan bantal itu sebagai tumpuan kepalanya.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat bintang sebanyak itu!" kata Tristan yang memandang ke arah langit luas, karena posisinya memang sedang berbaring dan menghadap ke atas.
Sarah pun melihat ke langit malam yang memang banyak bertabur bintang malam itu.
"Kamu benar, lalu apa kita akan tidur di sini juga?" tanya Sarah pada Tristan.
"Kenapa tidak? cuaca nya sangat bagus kan?" tanya Tristan lagi.
Tristan lalu menurunkan satu bantal kursi lagi dan meletakkan bantal itu di samping bantalnya.
"Berbaringlah di sini, kamu pasti lelah kan?" tanya Tristan lagi.
Sarah pun perlahan berbaring dengan posisi yang sama seperti Tristan. Dengan wajah dan tatapan melihat ke langit malam yang indah itu.
"Bagaimana harimu di kafe hari ini?" tanya Sarah karena merasa canggung ketika mereka berdua hanya diam tanpa suara.
"Baik, seperti yang kamu lihat. Aku tidak tahu, kalau aku bisa menjadi selebritis dadakan begitu, mungkin karena selama ini aku terlalu acuh dan arogan! aku terlalu lama melihat ke arah atas. Tapi sekarang aku mulai belajar cara pandang mu Sarah. Cara pandang yang selalu berusaha melihat ke arah bawah. Ternyata menjadi humble itu sama sekali tidak ada keburukannya sama sekali!"
Tristan menjeda kalimatnya sejenak.
__ADS_1
"Sarah, apa memang tidak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Tristan memiringkan tubuhnya ke arah Sarah saat dia bicara.
Sarah yang merasa Tristan melihat ke arahnya langsung menoleh. Tatapan mereka saling bertemu. Tapi setelah beberapa detik, Sarah kembali melihat ke arah atas.
"Sebaiknya kita tidur di dalam saja Tristan, bagaimana kalau tiba-tiba hujan! kamu bisa sakit!" kata Sarah mengalihkan pembicaraan.
Tristan merasa hati Sarah belum bisa memaafkan dirinya dan Tristan bisa memaklumi hal itu.
"Baiklah, ayo kita masuk!" kata Tristan.
Pada akhirnya, hujan memang turun malam itu. Sarah dan Tristan tidur di tempat tidur yang sama. Tapi sayangnya, hari itu Sarah begitu lelah mengurus masalah di perusahaan. Sampai dia tidak sadar, saat mendengarkan Tristan bicara dengan serius. Sarah malah tertidur.
Tristan hanya tersenyum melihat Sarah yang tidur dengan pulas. Tristan pun menyelimuti Sarah dan dia pun ikut tertidur juga, karena sebenarnya Tristan juga sangat lelah hari ini. Dia tidak pernah selelah hari ini.
***
Keesokan harinya...
Ketika Sarah terbangun, Tristan sudah tidak ada di kamar. Di sebelah, di tepi tempat tidur Sarah melihat ada blouse dengan warna yang sama dengan kemeja. Warna denim abu.
Ceklek
"Kamu sudah bangun Sarah?" tanya Tristan.
"Aku pilihkan baju itu dari lemarimu, kita bisa pakai pakaian couple kan, meskipun apa yang akan terjadi nanti. Setidaknya keinginan ku untuk pakai pakaian couple denganmu terwujud!" kata Tristan membuat Sarah serba salah.
Setelah ganti pakaian, Sarah pun keluar dari kamar. Dia mendengar bel pintu apartemen berbunyi.
Tristan baru akan berjalan dari dapur, tapi dia masih pegang spatula.
"Tristan, aku saja!" kata Sarah menawarkan untuk membuka pintu.
Tristan mengangguk setuju.
"Iya, siapa yang pagi-pagi datang?" gumam Tristan kembali ke dapur.
Ceklek
Sarah terdiam melihat siapa yang ada di depan pintu apartemen Tristan. Wanita cantik itu juga terdiam, tadinya dia tersenyum tapi begitu melihat Sarah yang membuka pintu, senyum wanita itu hilang.
"Siapa Sarah?" tanya Tristan dari arah dapur.
Tapi wanita itu langsung masuk, dan melewati Sarah begitu saja. Bahkan sempat menyenggol bahu Sarah.
"Siapa yang da...!"
Tristan tak melanjutkan apa yang dia katakan karena tak senang sama sekali melihat wanita yang ada di depannya itu.
"Untuk apa kamu kemari, Shanum?" tanya Tristan ketus.
***
__ADS_1
Bersambung...