
Setibanya di panti asuhan, Sarah yang di antarkan oleh Arumi saat pulang ke panti melihat satu buah mobil di depan rumah sewa sementara panti asuhan. Arumi yang penasaran pun ikut turun, sebab dia melihat Sarah yang seperti mengenal mobil itu.
"Mobil siapa? calon suami galak mu bukan?" tanya Arumi yang mengira kalau mobil mewah di depan rumah sewa sementara itu adalah mobil milik Tristan.
Arumi berjalan mendekati Sarah, Sarah juga langsung menoleh ke arah Arumi.
"Sepertinya bukan!" kata Sarah sambil memperhatikan mobil itu lagi.
"Oh... itu mobil paman Ari Ricardo, itu ayah angkatnya Hera!" jawab Sarah setelah ingat siapa pemilik mobil mewah itu.
Arumi langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi tidak senang.
"Kenapa mereka kemari, apa Hera mengadu yang tidak-tidak pada orang tuanya. Ayo kalau begitu, aku juga akan masuk. Kan kemarin yang dorong si cewek PHO, alias perusak hubungan orang itu aku. Biar aku yang jelaskan pada orang tuanya!" kata Arumi yang sudah berdiri di depan Sarah.
Sarah lantas menahan lengan Arumi.
"Eh, nanti dulu. Belum tentu mereka datang untuk itu. Mereka itu donatur di panti meskipun terakhir kali mereka donasi itu lima tahun yang lalu. Lagipula Hera juga tidak mungkin menceritakan masalah itu pada kedua orang tuanya, Paman dan bibi itu orang baik. Aku rasa mereka bahkan tidak tahu tentang kelakuan Hera yang seperti itu!" jelas Sarah panjang lebar.
"Benarkah? baiklah. Tapi aku tatap ingin ikut ke dalam. Aku sudah bilang akan menjagamu, maka aku harus memastikan kamu baik-baik saja...!"
Sebelum Arumi selesai bicara, Sarah sudah memeluk Arumi.
"So sweet banget my guardian Angel!" ucap Sarah dengan nada manja.
"Hei, jangan peluk aku sambil berkata begitu. Apalagi bilang aku sweet, aku ini strong woman you know?" tanya Arumi yang langsung di balas anggukan oleh Sarah.
"I know, yuk masuk udah mau magrib nih!" ucap Sarah yang langsung menggandeng Arumi menuju ke arah pintu masuk rumah sewa itu.
"Assalamualaikum!" sapa Sarah dan Arumi bersamaan.
"Waalaikumsalam!" sahut semua yang berada di dalam.
__ADS_1
Ari Ricardo dan istrinya langsung menoleh sambil mengucap salam, sedangkan bunda Tiara yang berhadapan dengan pintu masuk langsung tersenyum melihat Sarah datang sambil menyahuti salam Sarah barusan.
"Paman, bibi apa kabar?" tanya Sarah sambil menyalami kedua orang tua angkat Hera itu.
Ari Ricardo dan Fitria langsung berdiri, dan Fitria langsung memeluk Sarah.
"Kabar kami baik nak, kamu sendiri bagaimana?" tanya Fitria dengan wajah berbinar karena senang melihat Sarah lagi.
"Aku baik bibi, oh ya kenalkan paman, bibi ini sahabat ku Arumi!" ucap Sarah memperkenalkan Arumi pada Ari Ricardo dan Fitria.
Ketiganya lalu berkenalan, Sarah lalu mengajak Arumi duduk di dekat bunda Tiara.
"Paman dan bibi, aku sangat senang bisa bertemu paman dan bibi lagi!" kata Sarah.
"Kami juga senang nak, kebetulan kami bisa datang bersama kemari. Kalau biasanya tiap bulan kami titipkan uang donasi untuk anak-anak panti pada Hera, ini kami bisa datang dan menyerahkan nya sendiri. Ini bunda, kami harap bisa berguna bagi anak-anak panti!" ungkap Fitria yang memberikan satu amplop berwarna coklat yang cukup tebal pada bunda Tiara.
Sarah dan Arumi pun saling pandang, begitu pula dengan bunda Tiara.
"Oh ya Sarah, selamat ya nak. Kamu akan menjadi nyonya Tristan Hutama sebentar lagi. Kamu wanita yang baik, kamu memang pantas mendapatkan nasib baik seperti itu!" tambah Fitria tersenyum pada Sarah.
"Alhamdulillah dek Fitria, dan dek Ari. Sarah mendapatkan lamaran dari keluarga yang baik. Tuan Arya Hutama dan putra sulungnya Rendra Hutama sendiri yang datang kemari melamar Sarah untuk nak Tristan!" terang bunda Tiara merasa bangga.
Fitria langsung melihat ke arah suaminya dengan tatapan sedih.
"Alhamdulillah bunda, seandainya Hera juga mendapatkan lamaran yang baik. Selama ini dia malah berhubungan dengan pria yang tidak jelas...!"
"Ma...!" sela Ari Ricardo memperingatkan istrinya agar jangan menceritakan kelakuan buruk Hera pada orang lain.
"Maaf pa. Ya sudah, kami pamit dulu ya bunda. Sarah, senang sekali hidup kamu selalu bahagia nak. Meski kamu dulu berharap kalau kamu bisa menjadi anak kami...!"
Fitria menjeda kalimatnya karena matanya sudah berkaca-kaca. Sarah langsung berdiri dan pindah duduk di sebelah Fitria.
__ADS_1
"Bibi, aku dan adik-adik panti di sini semuanya juga anak bibi kan? bibi selalu memberikan donasi untuk panti ini. Kami semua di sini sudah menganggap bibi seperti orang tua kami!" ucap Sarah sambil mengusap lengan Fitria dengan lembut.
'Sarah, seandainya kamu yang dulu kami adopsi. Kami pasti sangat bangga dan bahagia!' lirih Fitria dalam hati.
"Sudah ma, Sarah, bunda kami pamit dulu ya. Sampai ketemu minggu ini di acara pernikahan mu Sarah!" kata Ari Ricardo.
"Iya paman, bibi. Terimakasih banyak!" ucap Sarah sambil sedikit membungkukkan badannya.
Setelah Ari Ricardo dan Fitria pergi, bunda Tiara pun menghela nafas panjang.
Bunda Tiara sangat sedih, karena selama lima tahun ini ternyata Ari Ricardo dan Fitria tetap menyumbang ke panti seperti biasanya. Tapi sayang uang itu tidak pernah di berikan Hera ke panti. Bunda Tiara sangat sedih karena anak yang dia selamatkan saat di buang oleh saudara dari orang tuanya di pemakaman kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan itu malah begitu tega mengambil hak, adik-adik pantinya.
Anak-anak yang nasibnya tak jauh beda dari dirinya. Hera juga bisa hidup enak karena Sarah mengalah. Jika tidak, Hera bahkan tidak tahu jadi apa sekarang, karena dia memang malas dan tidak terlalu pintar juga.
Melihat Bunda Tiara diam dan melihat ke satu arah. Sarah langsung mengusap lengan bunda Tiara perlahan.
"Sudahlah bunda, ikhlaskan saja. Mungkin Hera lebih membutuhkan uang itu!" kata Sarah.
"Bukan masalah uangnya Sarah, tapi kok ya dia tega sama adik-adik panti. Kok bisa dia pakai uang yang seharusnya jadi hak anak yatim!" sedih bunda Tiara.
"Sudah ya bunda, yang penting kan adik-adik selama ini tidak pernah kekurangan. Bunda jangan sedih lagi ya!"
"Iya nak, bunda simpan uangnya dulu ya!" kata bunda Tiara dan Sarah pun mengangguk.
Setelah bunda Tiara masuk ke dalam kamarnya. Arumi langsung mendekati Sarah.
"Parah banget tuh manusia satu ya Sarah, uang anak yatim di makan juga. Bener-bener gak takut kena azab tuh manusia muka tembok!" kesal Arumi yang membuat Sarah hanya bisa menghela nafas sedih.
***
Bersambung...
__ADS_1