Tega

Tega
Bab 82


__ADS_3

Alan mengikuti langkah Tarmizi dengan santai. Dia sesekali masih tetap melihat ke arah kanan dan kiri. Rumahnya itu masih sama seperti empat setengah tahun lalu ketika dia tinggalkan. Tadinya Alan bahkan berpikir, bulan depan ketika cicilan apartemennya dan mobilnya sudah lunas. Dia akan membawa Sarah menemui kedua orang tuanya, untuk di perkenalkan sebagai calon istrinya. Karena memang sebenarnya Alan sudah sangat serius dengan Sarah.


Hanya karena godaan wanita bernama Hera yang tak hentinya mengganggu Alan dua puluh empat jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu itu. Alan tidak mungkin jatuh ke perangkap nya dan berpisah dengan Sarah.


Tapi sialnya bagi Alan, kenapa saat dia akan memutuskan hubungannya dengan Hera. Saat itu Sarah bahkan menemukan mereka sedang bersama. Alan sungguh menyesali hal itu, padahal hari itu Alan memang berniat mengakhiri hubungan gelap dirinya dengan Hera di belakang Sarah itu.


Namun seperti apapun Alan menyesalinya, tetap saja semuanya sudah terlanjur. Dan dirinya yang sebagai Jerry Alando tidak akan pernah bisa bersaing dengan Tristan Hutama. Hanya Jerry Alando Kusuma Wijaya yang bisa menyaingi Tristan Hutama. Karena itulah dia kembali ke rumah orang tuanya.


Begitu Alan sampai di depan pintu rumah besar itu, yang yak kalah besar dari pintu gerbang di luar tadi.


Tarmizi lantas membunyikan bel, setelah itu tak berapa lama, terbukalah pintu besar itu. Menunjukkan ruangan yang begitu luas dan megah.


Ruang tamunya sangat besar, bahkan luasnya setengah lapangan bola. Sangat luas dan atapnya sangat tinggi.


Begitu pintu terbuka lebar, tampak dua orang paruh baya yang tengah berdiri di tengah ruang tamu yang sifatnya saja sandarannya setinggi satu meter itu.


Alan yang memang sudah siap akan segala konsekuensi karena kembali ke rumah itu pun mengangkat kaki kanannya ingin melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.


Namun baru dia akan melangkah, suara bariton terdengar membuat langkah Alan terhenti.


"Maju jika setuju dengan segala keputusan keluarga ini, jika masih membangkang maka silahkan keluar dari rumah ini!" Steven Enggar Kusuma Wijaya lah yang menyerukan kalimat tersebut.


Ayah kandung Alan itu ingin anaknya membuat keputusan dengan jelas. Dan memastikan kedatangan Alan kembali ke rumah itu adalah untuk menuruti apapun keputusan sang ayah.


Alan menghela nafasnya panjang, sekarang yang ingin dia lakukan hanyalah bagaimana agar dirinya menjadi lebih berkuasa dan tentu saja kaya. Karena selama empat tahun bekerja, dia hanya bisa mendapatkan sebuah apartemen dan satu buah mobil saja. Tabungannya bahkan tidak seberapa.


Alan melangkah masuk, membuat Steven tersenyum puas.

__ADS_1


"Lihat, aku sudah bilang padamu kan. Anakmu itu pasti kembali, orang yang sudah biasa punya kehidupan yang begitu nyaman. Maka seberapa kuat dia bisa bertahan di luar sana!" kata Steven dengan suara pelan pada sang istri Anika.


Anika sangat senang putra bungsunya itu kembali. Anika bahkan sempat sakit selama beberapa minggu karena Alan meninggalkan rumah kala itu.


Langkah Alan terdengar mantap ketika menghampiri Steven dan Anika.


"Nak...!"


Baru saja Anika Alan mengulurkan tangannya ingin memeluk Alan. Namun Steven mencegahnya, dan maju satu langkah mendekati Alan.


"Syarat agar kamu bisa mewarisi salah satu pabrik tekstil terbesar di kota ini masih sama Jerry. Kamu harus menikahi Inka Prastiwi. Jika kamu masih tidak mau menikahinya, maka...!"


"Aku bersedia ayah!" sela Alan pada ucapan sang ayah.


(Nama lengkap Alan itu, Jerry Alando. Tapi kalau di kediaman Kusuma Wijaya dan di kota ini, dia biasa di panggil dengan nama Jerry. Hanya teman sekolahnya dan di kota Seroja saja dia di panggil Alan. Itu Alan sendiri yang mau, karena dia ingin lepas dari segala macam yang berhubungan dengan aturan di kediaman Kusuma Wijaya)


"Jerry!" ucap Anika yang langsung memeluk Alan.


"Jika saja kamu menyetujuinya sejak dulu, kamu tidak perlu hidup susah di luar sana nak. Ibu sangat mencemaskan mu!" ucap Anika mencurahkan kekhawatiran dan kerinduannya pada putra bungsunya itu.


Anika melepaskan pelukannya dari Jerry dan berkata.


"Ibu akan segera menghubungi Inka dan keluarganya. Mereka pasti senang kamu kembali!" kata Anika penuh semangat.


Sementara Steven menepuk bahu Alan dengan lumayan kuat beberapa kali.


"Lihat dirimu, kamu keluar dari rumah ini seperti ini. Dan kembali masih sama seperti ini juga. Ingatlah nak, tidak ada tempat sebaik dan senyaman di rumah sendiri. Sekarang masuk dan beristirahat lah. Nanti malam kita akan makan malam bersama dengan keluarga om kamu, Damar Adikhara!" tegas Steven.

__ADS_1


Alan pun kembali ke kamarnya. Kamar yang sudah dia tinggalkan selama empat tahun lebih. Namun tetap di bersihkan setiap hari oleh para pelayan.


Ketika Alan sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kamarnya. Suara langkah kaki terdengar mendekati kamar Alan tersebut.


Ceklek


Alan menoleh ke arah suara pintu yang terbuka itu.


"Ku pikir kamu tidak akan kembali, pupus sudah harapanku menikahi Inka!" kata Raes Hidayat, sepupu Alan.


Alan lantas berdiri dan menghampiri pria yang seumuran dengan dirinya itu.


"Bermimpi lah, karena selamanya kamu dan juga ayahmu, hanya akan hidup di bawah bayang-bayang ayahku saja. Jadi jangan terlalu banyak berharap!" ujar Alan sombong.


Sejak dulu hubungan Alan dan Raes memang sangat tidak baik. Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat di muka umum. Namun sebenarnya ada jurang yang begitu dalam memisahkan mereka berdua. Bahkan keduanya tak jarang saling menjatuhkan, namun hal itu tidak di sadari oleh kedua orang tua mereka.


Raes yang mendapatkan jawaban seperti itu dari Alan. Lantas berbalik dan hendak pergi dari kamar Alan. Namun saat Alan kembali duduk di kursinya, Raes berbalik dan melirik ke arah Alan dengan kesal.


'Lihat saja, meski kamu kembali. Semuanya sudah tak lagi sama seperti dulu. Inka bahkan sekarang sudah sangat membencimu!' batin Raes tersenyum puas lalu pergi dari ruangan itu.


Sementara Alan yang sedang duduk di kursi malah sedang memikirkan wanita lain. Bukan Inka calon istrinya, tapi Sarah.


'Sarah! tunggu saja. Tidak lama lagi, aku akan buktikan padamu. Kalau aku juga akan sama berkuasanya seperti Tristan Hutama itu. Saat itu, aku akan membuatmu kembali padaku. Bagaimanapun caranya!' batin Alan yang begitu percaya diri semua rencananya akan berhasil.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2