
Selama di perjalanan menuju kediaman Ricardo, tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Hera. Rendra sesekali mencuri pandang ke arah Arumi.
Ada banyak pertanyaan di benak Rendra tentang wanita di sebelahnya itu. Dia ingat betul jam tangan yang di pakai Arumi. Jam dengan merek inisial depannya huruf J tersebut, adalah limited edition di negara ini. Hanya beberapa orang tertentu saja yang bisa mendapatkan jam tangan tersebut.
Sedangkan Rendra juga tahu betul berapa gaji seorang staf divisi keuangan di perusahaan milik adiknya tersebut. Mengumpulkannya sampai bertahun-tahun atau bahkan mendapatkan bonus setiap tahunnya juga tidak akan mampu membeli jam tangan tersebut.
Belum habis rasa penasaran tentang jam tangan Arumi yang belum didapatkan jawabannya oleh Rendra. Kini pria yang berstatus duda dan memiliki satu anak yang menggemaskan itu kembali dibuat bingung. Pasalnya kalung yang dipakai Arumi tersebut harganya juga tidak kalah mencengangkan dari jam tangan yang tadi pagi dia pakai.
Lalu adalah Arumi yang begitu pandai ilmu bela diri. Apa mungkin wanita yang sibuk mencari uang untuk kehidupan sehari-hari. Yang bekerja dari pukul 09.00 di pagi hari dan pulang pukul 05.00 di sore hari. Bisa punya waktu luang berlatih bela diri. Dan jika Rendra melihat dari semua jurus yang dipakai Arumi saat melawan para perampok tersebut, jurus-jurus dan gerakan-gerakan tersebut tidaklah sederhana.
Banyak sekali hal yang membuat Rendra terkejut tentang Arumi. Belum saja dia mendengar nama belakang atau nama ayah Arumi. Rendra pasti lebih terkejut lagi nanti.
"Mas Rendra, apa hanya kita saja yang datang?" tanya Arumi membuat Rendra langsung menoleh ke arah Arumi lagi.
Padahal baru saja satu detik yang lalu, Rendra melihat ke arah depan.
"Maksudnya?" tanya Rendra setelah mendengar pertanyaan Arumi itu sedikit ambigu.
"Maksud ku, apa hanya kita saja yang menghadiri pesta ular betina itu, eh buaya betina itu? tuan Arya Hutama dan tuan Tristan tidak di undang juga?" tanya Arumi.
"Ayahku di undang, tapi dia dan pak Samsudin sedang berada di luar kota untuk masalah keluarga. Ada saudara jauh ayah yang sakit parah dan ayah pergi ke sana!" kata Rendra.
Mendengar itu arumi langsung kaget.
"Loh, artinya Kevin di rumah sendirian dong?" tanya Arumi.
Rendra sedikit terkesiap awalnya, karena reaksi Arumi yang mengejutkannya seperti itu. Tapi beberapa detik kemudian dia malah tersenyum.
"Tidak, ada banyak bibi rumah. Ada pengasuhnya juga!" kata Rendra lagi.
"Mas, memangnya sangat percaya ya pada pengasuh? Kan banyak tuh cerita di televisi, pengasuh anak yang begitu kejam. Saat ada orang tuanya di rumah dia bersikap sangat baik, tapi begitu majikannya pergi meninggalkan si anak tersebut di rumah, anak itu disiksa, dan di ancam...!"
Belum juga Arumi selesai mengeluarkan pendapatnya namun Rendra langsung menyela Arumi.
__ADS_1
"Kamu kebanyakan nonton infotainment, gak semuanya seperti itu. Pengasuh Kevin ini sangat baik, para bibi juga sangat baik. Kevin juga anak yang cukup pintar kalau ada apa-apa dia pasti cerita padaku atau pada ayah!" jelas Rendra.
Mendengar penjelasan dari Rendra tersebut Arumi pun melakukan kepalanya paham.
"Syukurlah kalau begitu!" katanya terlihat bijak.
"Oh ya, apa kadomu untuk buaya betina itu?" tanya Arumi lagi.
"Kado?" tanah Rendra.
Arumi pun langsung mengangguk.
"Iya, bukankah kita akan menghadiri pesta ulang tahun masa kita tidak bawa kado?" tanya Arumi lagi.
"Aku sudah kirimkan rangkaian bunga, sebagai ucapan selamat!" kata Rendra.
"Bunga?" tanya Arumi heran dan Rendra pun mengangguk.
"Bukan, aku kirimkan rangkaian papan bunga!"
"Ha ha ha... ha ha ha..!"
Mendengar Rendra menjawab kalau pria tersebut mengirimkan rangkaian papan bunga kepada Hera. Arumi tak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Ada apa Arumi? ada yang salah?" tanya Rendra bingung.
Namun Arumi langsung melambaikan tangannya ke arah Rendra.
"Tidak.. tidak mas Rendra. Tidak salah, itu justru sangat benar. Ha ha ha, aku tidak bisa bayangkan raut wajahnya ketika melihat hadiahmu. Ya ampun... kamu benar-benar pandai mematahkan hati orang mas!" kata Arumi.
"Mematahkan hati orang?" tanya Rendra sambil tersenyum lirih.
'Hatiku yang sudah di patahkan sampai berkeping-keping' lirih Rendra sedih.
__ADS_1
"Iya mas, kamu kan tahu wanita ular alias buaya betina itu sedang mengejarmu, kamu malah kirimkan dia hadiah seperti itu!" lanjut Arumi.
Tapi Arumi lantas melihat ke arah Rendra. Melihat Rendra sedih Arumi pun diam, dia menutup mulutnya sangat erat. Saat ini Arumi yakin, kalau saat dia bicara masalah hati tadi, Rendra pasti ingat pada mantan istrinya. Wanita yang dulu di sukai bahkan sangat di idolakan oleh Arumi dan Sarah. Gisella Pricilla, dulu Arumi bahkan mengidolakan wanita itu setelah Bulletproof Boys Scout alias Bangtan Sonyeondan. Tapi sekarang Arumi dan Sarah sudah resmi jadi hatersnya Gisella Pricilla.
"Mas Rendra, apa aku salah bicara?" tanya Arumi mencoba mengajak Rendra mengobrol lagi agar pria itu lupa pada mantan istrinya yang sudah sangat kejam meninggalkannya dan juga anak mereka yang baru berusia 2 bulan kala itu.
"Tidak Arumi, aku hanya...!"
"Hanya ingat mantan?" tanya Arumi menyela ucapan Rendra.
Rendra pun terdiam.
"Maaf ya mas, aku memang belum pernah pacaran, belum pernah jatuh cinta. Jadi aku tidak tahu seperti apa itu rasanya jatuh cinta...!"
Rendra terlihat melirik heran ke arah Arumi. Rendra berpikir, masa iya di jaman modern seperti ini, masih ada wanita seumuran Arumi yang belum pernah pacaran.
"Tapi aku tahu, kalau dia sudah lepas dari tangan. Artinya dia bukan jodoh kita, coba untuk terus menatap masa depan, mas Rendra kan punya Kevin. Aku rasa, dengan memikirkan Kevin saja, mas Rendra pasti bisa bangkit dan melupakan semua rasa sakit itu!" kata Arumi yang terdengar sangat bijak.
Jika ada yang merekam apa yang di katakan oleh Arumi ini. Dan memperdengarkannya lagi pada Arumi. Pasti Arumi sendiri tidak percaya, kalau dia bisa mengucapkan kata-kata yang begitu berfaedah itu. Dia sendiri pasti terkejut mendengar apa yang dia ucapkan sendiri.
Rendra pun lantas tersenyum dan mengangguk setuju. Tanpa terasa mereka pun sampai di tempat acara. Ternyata Hera memang sedang menunggu kedatangan Rendra.
Begitu Rendra tiba, salah seorang asisten yang memang sedang di perintahkan menunggu kedatangannya langsung melapor pada Hera.
Hera lantas membenahi penampilannya hingga sesempurna mungkin. Dia bahkan mengajak kedua orang tua angkatnya untuk menemaninya menyambut kedatangan Rendra.
Fitria dan Ari Ricardo juga tidak dapat menolak permintaan anak angkatnya itu. Mereka bertiga langsung datang ke teras depan. Tapi pemandangan yang dilihat dari arah mobil Rendra membuat Hera yang sejak tadi tersenyum senang langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi kesal.
'Arumi, mas Rendra datang bersama Arumi. Tapi kenapa?' tanya Hera bingung sekaligus kesal.
***
Bersambung..
__ADS_1