Tega

Tega
Bab 208


__ADS_3

"Semua menyingkir!" kata Alan dengan nada tegas.


Tristan berusaha terus maju, namun Alan malah hampir menarik pelatuk senjatanya membuta Tristan kembali mundur.


"Jangan ada yang mengikuti aku turun, aku tidak main-main!" gertak Alan lagi.


Sementara Sarah benar-benar shock, dia tidak menyangka Alan bisa melakukan hal ini padanya. Menodongkan senjata padanya, Sarah sampai tak bisa memikirkan apapun lagi. Seumur hidupnya, ini kali pertama dia ditodong senjata seperti ini.


Alan terus membawa Sarah keluar dari ruang meeting, bersama pada anak buahnya yang berlari terlebih dahulu untuk menyiapkan mobil dan memastikan keadaan di luar aman untuk Alan.


"Jerry, kalau sampai terjadi sesuatu pada putriku...!"


"Diam kamu Damar Adhikara, sialll! kalau aku tahu Sarah putri kandung mu. Aku tidak akan menikah dengan wanita manja dan menyedihkan itu. Sialll!" pekik Alan marah.


Alan terus mundur sampai masuk ke dalam lift.


Tristan lantas berarti menuju ke arah lift yang lain. Dia lantas segera masuk bersama dengan Richard dan Andreas.


Sementara di lift yang dimasuki Alan dan Sarah. Sarah masih terus diam, dia gemetaran. Wajahnya pucat. Sedangkan Alan malah memeluk Sarah sambil menurunkan senjatanya.


"Lepaskan aku!" pekik Sarah yang merasa di pekik oleh Alan.


"Aku melakukan semua ini untukmu Sarah, hanya untukmu! aku kembali pada keluarga ku, aku mengambil semua yang bisa aku ambil agar bisa mengalahkan suamimu itu, dan sekarang aku membuktikan padamu. Aku mampu Sarah, ikutlah pergi bersama ku Sarah. Kita mulai semua dari awal!" bujuk Alan pada Sarah.


"Tidak akan pernah!" kata Sarah tegas.


"Apa yang membuatmu melupakan hubungan kita selama empat tahun, sedangkan kamu baru menikah dengan Tristan beberapa bulan saja. Aku yang paling mencintaimu...!"


"Kalau kamu cinta, kamu tidak akan selingkuh. Kamu tidak akan tega melakukan itu padaku, kamu tidak akan mengkhianati aku. Lupakan semuanya Alan. Pertanggung jawabkan semua yang sudah kamu lakukan!"


Ting


Pintu lift terbuka dan anak buah Alan langsung berteriak memanggil Alan.

__ADS_1


"Bos, lepaskan wanita itu. Kita tidak punya banyak waktu!" kata anak buah kepercayaan Alan.


Dengan berat hati Alan meninggalkan Sarah di dalam lift sementara dia berlari ke arah mobilnya. Saat sudah masuk ke dalam mobil. Alan menoleh ke arah Sarah yang terlihat masih gemetaran sambil bersandar ke dinding lift.


"Sarah, maafkan aku. Kita pasti akan bertemu lagi!" kata Alan yang langsung pergi dari tempat itu bersama anak buahnya yang tersisa di luar gedung perusahaan.


Tristan yang sudah sampai lantai basemen langsung keluar dari dalam lift. Tristan langsung menahan pintu lift yang masih ada Sarah di dalamnya supaya tidak tertutup lagi.


"Sarah!" ucap Tristan lalu memeluk Sarah dengan cepat.


Sarah masih butuh waktu beberapa detik sampai dia langsung menatap Tristan dan memeluk suaminya itu dengan erat.


"Tristan...!" lirih Sarah yang meneteskan air matanya karena begitu takut tadi.


Seumur hidup Sarah, baru kali ini dia melihat senjata api yang begitu dekat jaraknya dengannya. Sarah benar-benar sangat shock.


Tristan lantas mengusap punggung Sarah dan meyakinkan pada istrinya itu kalau semua sudah baik-baik saja.


Semua orang yang menyusul Sarah juga sampai di basemen. Widya langsung berlari memeluk Sarah, Sarah juga langsung beralih pada Widya. Sudah sejak lama Sarah merindukan delapan kasih seorang ibu. Kini dia mendapatkannya.


Sarah pun di ajak tuan Arya Hutama pulang ke kediaman Hutama. Bersama Tristan, Damar Adhikara dan Widya.


Di kediaman Hutama, Sarah di sambut oleh Arumi yang jalannya masih agak di seret perlahan karena keseleo tempo hari.


"Sarah, ya ampun. Apa yang terjadi? kamu baik-baik saja, aku dengar boneka tabung joget itu menghubungi mas Rendra dan bilang kamu di sandera oleh si Alan itu! Huh.. benar-benar tidak tahu malu ya satu orang itu. Kalau saja aku di sana tadi, aku patahkan giginya biar ada jendelanya itu kulit orang gak tahu malu!" geram Arumi dengan gaya khasnya.


Tapi pandangan Arumi lantas beralih pada wanita yang sejak tadi berada di samping Sarah. Kalau Arumi lihat sebab seksama, rasanya wanita itu mirip dengan Sarah.


"Sarah, Tante ini siapa?" tanya Arumi.


Sarah pun tersenyum, lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum meski dia masih shock atas apa yang menimpanya tadi.


"Dia ibuku, ibu kandungku Arumi!" jawab Sarah.

__ADS_1


Tapi Arumi malah menunjukkan ekspresi terkejut yang tidak senang.


"What! oh jadi ini ibu kandung yang sudah menelantarkan mu sejak usiamu 2 tahun...!"


"Arumi!" tegur Rendra yang berdiri di belakang Arumi.


"Apa sih mas? orang aku ngomong apa adanya kok!" sahut Arumi lagi.


Rendra sampai tepok jidat dengan tingkah istrinya yang selalu seenaknya saja itu.


"Ceritanya panjang Arumi...!"


"Di singkat saja, bisa kan?" yang Arumi lagi.


"Sudah, sudah... sebaiknya kita bicara sambil duduk. Ini juga sudah waktunya makan siang. Kita makan siang dulu baru bicara lagi!" sela tuan Arya Hutama menengahi.


Setelah makan siang, mereka semua duduk bersama. Sarah lantas menjelaskan semuanya yang menimpanya dan keluarga kandungnya akibat perilaku licik Mulya. Mendengar penjelasan Sarah, Arumi lantang mengepalkan tangannya dan memukulkan tangannya yan terkepal itu ke telapak tangannya yang satu lagi.


"Hem, coba saja aku ketemu sama si Mulya itu. Aku bikin jadi remahan koya dia. Bisa-bisanya ada orang yang tega misahin anak sama orang tuanya. Dia juga seorang ibu kan? ya ampun picik sekali pikiran manusia itu. Namanya saja Mulya, tapi kelakuannya bertolak belakang dengan namanya sendiri. Huh!" geram Arumi.


"Sabar sayang!" lirih Rendra pelan sambil mengusap lengan istrinya itu.


Arumi yang begitu emosional membuat Rendra takut. Takut kalau dia juga kena semprot nanti.


"Kami sangat bahagia, sekarang Sarah sudah punya keluarga yang lengkap!" kata tuan Arya Hutama.


"Kami juga sangat bahagia, Sarah punya suami dan keluarga yang begitu menyayanginya!" sahut Damar Adhikara.


Mereka semua berbincang tentang rencana mereka ke depannya. Sementara Damar Adhikara dan Widya akan tinggal di sini karena masih sangat rindu dengan Sarah. Mungkin beberapa minggu baru mereka akan kembali ke kota batu. Karena semua pekerjaan mereka ada di sana. Bukan hanya mengangkut satu dua pekerja, tapi ribuan. Damar tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Lagipula perjalanan dengan pesawat juga hanya dia jam. Kapanpun Damar Adhikara dan Widya rindu, mereka bisa menemui Sarah di Jakarta, atau sebaliknya. Sarah yang pergi menemui Damar Adhikara dan Widya di kota batu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2