Tega

Tega
Bab 165


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Shanum, Tristan terdiam. Karena gugatan perceraian ini memang bisa terjadi karena kebodohan Tristan.


Sarah yang merasa pelukan Tristan mulai merenggang dan tatapan matanya menunduk ke bawah merasa sangat bersalah pun lantas berkata.


"Tadinya iya...!"


Shanum yang mendengar hal itu, yang tadinya sudah berpikir akan ada kesempatan lagi bagi dirinya juga lantas bangkit dan menyeka air matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Shanum dengan tatapan kesal dan benci pada Sarah.


Jelas dia benci pada Sarah, karena dia berpikir kalau Sarah tidak ada. Maka semua hal ini tidak perlu terjadi. Tristan masih akan sama seperti Tristan yang dulu, yang setiap dia pergi jauh, seberapa lama pun itu. Tristan akan setia menunggu Shanum. Sekarang karena kehadiran Sarah, hati Tristan bahkan berpaling darinya. Tentu saja Shanum tidak menyukai hal itu, dan muncul kebencian di dalam hatinya pada Sarah meskipun mereka baru pertama kali ini bertemu.


Tristan juga cukup kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah barusan. Tapi hatinya merasa begitu antusias ingin mendengar kelanjutan ucapan Sarah itu.


"Tadinya aku memang mau menggugat cerai Tristan, tapi ku pikir sekarang aku akan mencabut gugatan ku. Aku tidak akan bercerai dengan Tristan!" kata Sarah.


Tristan sampai tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi matanya berbinar, dia begitu senang mendengar pernyataan Sarah barusan.


Shanum yang tidak suka pada keputusan Sarah lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, kamu tidak boleh seperti itu. Tristan hanya milikku, dia hanya mencintaiku..!"


Shanum bahkan sudah akan mendorong Sarah. Namun Tristan dengan sigap berbalik dan memeluk Sarah. Hingga punggung Tristan yang terkena pukulan Shanum beberapa kali.


"Tristan, kamu tidak boleh melakukan ini padaku. Kalian tidak boleh melakukan semua ini padaku!" pekik Shanum masih terus memukuli punggung Tristan


Kejadian yang begitu dramatis, Sarah hanya bisa diam di dalam pelukan Tristan. Karena Tristan sepertinya memang sengaja membiarkan Shanum melampiaskan kekesalannya pada diri Tristan. Mereka bisa saja menghindari Shanum, tapi Tristan lebih memilih diam dan menahan semua pukulan dan cak4ran dari Shanum.


"Kalian jahat... hiks... kalian semua jahat padaku!" lirih Shanum yang sepertinya sudah lelah memukul Tristan.


Shanum terduduk kembali di lantai sambil menangis. Sarah yang mengintip dari balik tubuh Tristan sebenarnya sangat kasihan pada Shanum. Dari amarahnya yang begitu besar, dari air matanya yang sejak tadi tidak berhenti mengalir. Sebenarnya Sarah tahu, kalau Shanum itu juga mencintai Tristan. Rasa cintanya juga sangat besar, kalau tidak mana mungkin Shanum sampai se-emosional itu.


Tristan juga sama, tapi dia sudah menentukan pilihan hatinya. Dan dia benar-benar ingin menjalani hidupnya untuk sekarang dan ke depannya dengan Sarah saja.

__ADS_1


Tak lama bel apartemen Tristan berbunyi lagi. Sarah yang berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu.


Ceklek


"Maaf, permisi. Apa kak Shanum ada dayang kemari?" tanya wanita yang baru datang yang ternyata adalah Leni.


Begitu mendengar wanita itu menyebut Shanum dengan panggilan kak, dan wajahnya juga jelas terlihat sangat khawatir. Maka Sarah pun segera membuka lebar pintu apartemen Tristan.


Mata Leni melebar, dia langsung berlari ke arah Shanum yang terduduk di lantai.


"Kak, kak Shanum. Ayo bangun, ada apa ini?" tanya Leni bingung dan cemas dalam waktu yang sama.


Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Shanum yang masih terus menangis. Leni bangkit berdiri dan bertanya pada Tristan.


"Kak Tristan, ini ada apa sebenarnya. Kak Shanum kenapa?" tanya Leni pada Tristan.


"Maaf Leni, sebaiknya kamu bawa kakak sepupu mu itu pergi dari sini. Apa aku perlu panggil security untuk membantumu?" tanya Tristan.


Leni terdiam sejenak, dia melihat ke arah Tristan kemudian beralih ke arah Shanum yang terlihat sangat sedih. Lalu ke arah Sarah yang masih diam berdiri di dekat pintu dengan tatapan yang terlihat kasihan pada Shanum.


Leni terlihat menahan air mata sambil kembali berjongkok di depan Shanum.


"Kak, aku mohon demi aku kak, kita pergi dari sini ya. Aku mohon!" Leni sudah tak sanggup menahan air matanya lagi.


Air mata Leni tumpah seiring Shanum yang melihat ke arahnya. Shanum menahan segala rasa sakit hati dan kecewanya. Lalu menyeka air mata di wajah Leni.


"Kita pulang ya kak, ke rumah kecil kita. Kita mulai lagi semuanya dari awal!" kata Leni.


Kata-kata Leni membuat Tristan sedikit bergeming. Tapi kemudian dia merasa kalau apapun. tentang Shanum sudah bukan urusannya lagi. Tristan pun memilih untuk diam dan tidak bertanya, apalagi ikut campur.


Sementara Sarah yang melihat Shanum, meskipun sangat sedih dan terluka masih menyeka air mata adik sepupunya. Juga merasa sangat haru. Sepertinya mereka memang hanya memiliki satu sama lain saja, hingga hubungan mereka begitu dekat.


Shanum perlahan bangkit seiring Leni memapahnya. Mereka pun pergi dari apartemen itu, tapi sebelum benar-benar keluar, Shanum tampak melihat ke arah Sarah yang berdiri di dekat pintu.

__ADS_1


Sarah yang menyadari tatapan kebencian Shanum itu balas menatap Shanum tak kalah tegas. Dia tak mau kalau sampai Shanum beranggapan dirinya lemah, di tatap setajam itu oleh Shanum lalu menghindari tatapan itu atau malah menunduk. Sarah tidak melakukan itu, dia malah balas menatap Shanum seperti berkata.


'Aku tidak takut' seperti itu.


Leni segera menarik pelan lengan Shanum, membuat Shanum kembali melangkah meninggalkan apartemen itu.


Tristan mendekat ke arah Sarah dan memeluk Sarah dari belakang.


Tapi Sarah melepaskan tangan Tristan dari perutnya.


"Aku tahu kamu pasti masih kesal, tapi terimakasih karena kamu memberiku kesempatan Sarah!" kata Tristan sadar diri.


"Tidak ada manusia yang sempura Tristan, tidak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Bahkan keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Aku harap kamu ingat pada kata-kata mu sendiri!" kata Sarah yang masih sama mode waspada on.


Tristan langsung mengambil sikap siap dan sikap hormat di depan Sarah.


"Siap nyonya, apapun perkataan mu!" kata Tristan diplomatis sekali.


"Baiklah, ayo kita berangkat!" kata Sarah.


"Kemana?" tanya Tristan bingung.


"Ke pengadilan, ini sudah jam berapa. Kita harus menghadiri sidang mediasi...!"


"Sarah, bukankah katamu kamu akan mencabut gugatan cerai padaku?" tanya Tristan menyela Sarah.


"Iya, tapi aku tidak tahu prosedurnya. Aku akan tanya pada pak Andreas dulu, dan dia sedang menunggu kita di pengadilan!" jelas Sarah.


"Sarah, kita tidak usah ke pengadilan, aku akan mengurusnya...!"


"Enak saja! tidak bisa! kamu minta gugatannya sesuatu prosedur kan? ya pencabutan gugatan harus sesuai prosedur lah!" balas Sarah tak terima semua harus berjalan seperti maunya Tristan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2