
Dan di sinilah Richard sekarang berada. Di sebuah ruangan yang meski pendingin ruangan hanya di nyalakan dengan suhu sedang. Tapi Richard seperti berada di kutub utara, bulu kuduknya berdiri semua seluruh tubuh. Dan dia merasa sangat dingin, dan mendadak suasana ruangan itu menjadi sangat mencekam.
Richard berdiri dengan kaki yang tidak bisa diam. Sejak tadi terus bergerak meski hanya sekedar bergerak ke depan dan belakang, gerakan yang sangat kecil dan tidak membuat posisinya berubah.
Sementara di depannya, tepatnya di meja kerja Tristan. Pria itu sedang duduk di tepi meja kerjanya melihat dengan tatapan tajam ke arah Richard.
"Sudah puas liburannya?" tanya Tristan dengan makna yang tidak sebenarnya.
"Senang bisa libur dua hari?" tanya Tristan dengan nada kesal.
Richard tidak menjawab pertanyaan itu karena dia yakin kalau dia menjawab maka Tristan akan semakin kesal lagi. Richard hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tahu tidak apa yang sudah terjadi saat kamu libur, saat kamu sedang bersenang-senang! aku di sini kesusahan. Sudah bosan jadi asisten pribadi ku?" tanya Tristan lagi.
"Bos... jangan dong bos. Kan bos yang kasih saya cuti...!"
"Jadi kamu nyalahin saya yang kasih kamu cuti?" tanya Tristan menyela Richard dengan mata melotot.
'Ih, salah aja perasaan. Kan dia yang kasih ijin libur, dia juga yang marah. Hadeuh!' batin Richard
"Terus kenapa kamu bisa datang dengan wanita freak itu?" tanya Tristan lagi.
"Ketemu di depan bos!" jawab Richard.
"Ya sudah sekarang kembali bekerja, oh ya... kemarin kerja sama dengan PT Tirtayasa gagal. Pokoknya kamu harus bisa buat temu janji ulang dengan perusahaan itu. Aku gak mau tahu ya, harus bisa sebelum pernikahan ku. Kalau tidak aku potong gajimu, sudah keluar sana!" perintah Tristan yang membuat Richard tidak bisa kalau tidak melongo.
Baru setelah beberapa detik kemudian, Richard berbalik dan meninggalkan ruangan Tristan.
Setelah tiba di ruangannya dia baru menggerutu.
"Oh em ji... ternyata kesenangan itu hanya sesaat. Iyuh...!"gerutu Richard.
__ADS_1
Tak lama, Liana dan Panji masuk ke dalam ruangan Richard.
"Yuk capcus duduk....!" ujar Richard yang langsung membuat Liana dan Panji duduk dengan cepat di depan meja kerja Richard.
"Yok siapa yang bisa kasih saya penjelasan kenapa si Nurma, si golden brain kita itu kena mental... eh maksud saya kena pecat sama bos?" tanya Richard dengan gayanya yang sangat khas.
Liana dan Panji saling pandang sebelum menentukan siapa yang akan menjelaskan.
"Ih kalian tuh kelamaan, pakai saling tatap tatap segala. Panji buruan ceritain...!" seru Richard.
"Jadi begini tuan Richard. Kemarin Sabtu itu kan tuan Richard sudah kasih kami perintah untuk ikut meeting jam satu siang dengan KH production itu. Kami juga sudah buat berkasnya, pokoknya semua laporannya. Tapi Nurma meminta kami libur saja. Saya dan Liana sudah jelaskan pada Nurma kalau meeting dadakan bisa saja terjadi, karena PT Tirtayasa suka begitu kalau buat janji, tapi dia bilang dia bisa mengaturnya. Bahkan dia membandingkan laporan kami dengan miliknya yang memang sangat jauh lebih baik milik dia untuk meeting dengan KH production. Jadi kami...!"
Panji langsung menunduk saat Richard menghela nafasnya.
"Ck... jadi karena itu kalian menjuluki dia golden brain. Sayangnya otaknya hanya pintar di akademik. Dia benar-benar tidak tahu cara bekerja sama dan attitude-nya sungguh menyedihkan. Sudahlah... dia pantas di pecat. Sekarang kerjakan tugas kalian masing-masing!" seru Richard yang kembali harus memegang kepalanya karena pusing harus menjadwalkan ulang pertemuan dengan klien yang banyak maunya.
***
"Tolong jangan buat keributan Jerry Alando. Sekarang juga keluar dari sini atau kami akan panggil security!" gertak Herman, kepala bagian HRD.
"Panggil saja, kenapa memangnya. Aku hanya telat masuk dua hari setelah skorsing. Lalu kalian seenaknya saja memecat ku. Kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya. Perusahaan ini bahkan bisa aku beli kalau aku mau!" teriak Alan tak karuan. Mata dan wajahnya merah, jelas terlihat kalau dia tengah emosi saat ini.
Semua orang di ruangan HRD hanya bisa menatapnya dengan tidak suka.
"Teruslah mengigau Alan, kerja sama seenaknya begitu mengkhayal jadi milyuner!" kesal Nita, bagian HRD yang tadi di buat kesal karena Nita yang memberikan surat pemecatan itu pada Alan dan Alan bertengkar dengannya sejak satu jam yang lalu.
Alan yang mendengar Nita berkata seperti itu lantas langsung menunjukkan hari telunjuknya ke arah wajah Nita.
"Kau, lihat saja. Saat aku kembali nanti, orang pertama yang akan kehilangan pekerjaannya adalah kamu Nita!" ucap Alan yang langsung berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Beberapa orang langsung menghela nafasnya lega. Sebab Alan benar-benar tak bisa di ajak bicara. Langsung marah-marah dan terus merusak beberapa barang yang ada di atas meja Nita.
__ADS_1
"Dasar orang tidak waras, kerja saja malas tapi tak mau di pecat. Dia pikir perusahaan ini punya bapaknya apa? ngeselin!" gerutu Nita sambil membereskan meja kerjanya.
"Sudah, sudah Nita. Yang penting sekarang dia sudah pergi. Kalian semua kembali ke meja masing-masing!" seru Herman.
Tapi sayangnya setelah Alan keluar dari ruangan HRD, dia tidak langsung meninggalkan perusahaan itu. Tapi dia malah melangkah tergesa-gesa dan menuju ke ruangan divisi keuangan.
Dengan mata dan wajah merah Alan langsung melangkah ke arah meja kerja Sarah.
Arumi yang melihat Alan menuju ke arah meja Sarah pun segera berdiri untuk menghalangi Alan. Sebab dari gelagatnya Alan tidak akan bicara baik-baik.
"Eh, mau ngapain kamu?" tanya Arumi.
Tapi Alan langsung menggeser lengan Arumi dan mendorongnya ke arah samping. Agar Arumi menyingkir dari jalan yang akan Alan lalui.
"Eh!"
Sarah yang tadinya serius mengerjakan pekerjaannya, langsung menoleh ke arah Arumi ketika mendengar suara Arumi. Dan Sarah langsung berdiri ketika melihat Alan menghampirinya.
"Mas Alan!" ucap Sarah bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Sarah lagi yang melihat Alan sangat berantakan dan mata dan wajahnya memerah.
"Sarah, aku akan pergi dari perusahaan ini. Tapi aku akan katakan sekali lagi padamu, wanita yang aku cintai, satu-satunya wanita yang pernah aku cintai dengan setulus hati hanya kamu, aku memang bodoh karena pernah tergoda dengan wanita murahan seperti Hera, setelah kamu menemukan kami bersama waktu itu, aku dan dia benar-benar sudah berakhir. Aku benar-benar menyesal Sarah!" jelas Alan dengan mata yang berkaca-kaca.
Arumi yang mendengar semua itu langung terdiam di tempatnya.
Mata sudah berkaca-kaca, terus terang hatinya sedih mendengar semua penuturan Alan, dan penyesalannya. Tapi semua sudah terlambat.
***
Bersambung...
__ADS_1