Tega

Tega
Bab 68


__ADS_3

Dan pada akhirnya, di sore hari yang cerah itu. Tristan dan Sarah sudah berada di atas sebuah kapal yang cukup besar. Yang hanya di sewa oleh tuan Arya Hutama untuk Sarah dan juga Tristan menuju ke pulau Belitung.


Mereka akan melalui perjalanan selama kurang lebih 12 jam dari tempat mereka sekarang. Dan ini membuat Tristan semakin kesal. Yang membuatnya bertambah kesal adalah niat dari ayahnya untuk membuat dirinya semakin dekat dengan Sarah sangat terlihat di sini. Dimana tuan Arya Hutama bahkan menyiapkan segalanya agar Tristan bisa berlama-lama berdua saja dengan Sarah.


"Niat sekali orang tua itu membuat aku dan wanita freak itu menjadi dekat. Mana mungkin itu bisa terjadi! itu tidak akan mungkin terjadi, itu pasti!" gumam Tristan di atas kapal sambil duduk dan melihat pemandangan laut yang kala itu tidak terlalu berombak.


Setelah beberapa saat, Tristan baru sadar kalau dia tidak membawa ponselnya.


"Ya Tuhan, ponselku. Ck... Shanum pasti kesal karena sudah dua hari aku tidak menghubungi nya!" keluh Tristan sambil mengusap wajahnya gusar.


***


Sementara itu di lain tempat, Hera masih sangat kesal saat dirinya berada di dalam mobil dalam perjalanan pulangnya dari kampung halaman Ari Ricardo.


Bahkan sejak ikut ke kampung halaman Ari Ricardo, Hera sepertinya sangat kesal. Bahkan dia berniat untuk tidak ikut sejak awal.


"Hera, coba kamu ambilkan air minum di sana itu!" kata Fitria meminta anak angkatnya itu mengambil minum di dekat dia duduk.


Meski kesal Hera tetap mengambil air minum tersebut dan menyerahkannya pada di Fitria.


"Ma, masih lama tidak sih. Ya ampun, kita menghabiskan satu hari satu malam untuk perjalanan saja. Kenapa juga aku harus ikut kalian? aku kan sudah bilang aku tidak mau ikut kalian, aku jadi tidak bisa menghadiri undangan pernikahan Sarah kan?" tanya Hera yang membuat Fitria menghentikan kegiatan minumnya dan menutup botol itu kembali.


"Kenapa bicara seperti itu? kalau papa kamu mendengarnya bagaimana? dia akan sedih!" balas Fitria.

__ADS_1


Hera yang sudah memendam kekesalannya selama tiga hari ini pun tak perduli lagi pada peringatan sang ibu angkat.


"Tapi aku kesal ma, aku kan sudah menyiapkan hadiah dan gaun yang bagus untuk pergi ke acara pernikahan Sarah. Akhirnya semuanya sia-sia begitu saja!" keluh Hera terus menerus.


Fitria yang selama ini sudah cukup bersabar pun akhirnya tak bisa menahan rasa kesalnya juga.


"Hera, cukup! cukup dengan semua tingkah mu yang konyol dan kekanak-kanakan itu. Memangnya kita pergi tamasya atau apa? hah? kita ini pergi melayat. Paman dari papa kamu meninggal, paman yang sejak kecil merawat papa kamu. Kenapa kamu tidak bisa bersimpati sedikit saja untuk masalah ini. Kenapa kamu selalu mementingkan dirimu sendiri? kamu sudah bukan anak kecil atau anak remaja lagi, Hera! setidaknya berpikirlah seperti Sarah meski sedikit saja. Kalau dia sekarang ada di tempat mu, dia tidak akan pernah mengatakan hal yang menyakiti hati orang lain seperti kamu saat ini!" seru Fitria yang benar-benar sudah habis kesabarannya.


Mendengar nasehat ibu angkatnya itu panjang lebar, Hera bukannya mengerti dan belajar sesuatu. Tapi dia malah terlihat mendengus kesal dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


"Mama yang cukup ma, kenapa mama selalu saja membandingkan aku dengan Sarah? yang mama dan papa angkat dan adopsi sebagai anak kalian itu, aku. Bukan Sarah! kenapa terus memuji Sarah, di mata kalian itu hanya Sarah yang paling benar, aku selalu saja salah di mata kalian!" kesal Hera dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.


Fitria yang melihat Hera hampir menangis pun menyudahi pertengkaran mereka. Untung saja suaminya tidur dengan memakai headset. Jika tidak, mungkin Ari Ricardo juga akan ikut bertengkar dengan Hera. Karena Ari Ricardo sebenarnya sudah tidak menyukai sikap dan perilaku Hera sejak lama, hanya saja dia masih tetap diam dan memaklumi karena Fitria yang memang sangat sayang pada Hera.


Fitria lantas merangkul Hera dan mengusap air mata yang sudah mulai menetes di sudut mata anak angkatnya itu.


'Hais, aku sudah muak dengan keluarga ini. Mereka sudah mulai tidak menyayangi ku, sekarang saja uang bulanan ku berkurang. Untung saja ada uang untuk panti, kalau tidak aku mana bisa shoping shoping lagi. Pokoknya aku harus bisa mendapatkan Rendra Hutama itu, dengan cara apapun. Agar aku juga bisa pergi dari rumah kedua orang tua yang sudah mulai banyak aturan ini!' gumam Hera dalam hatinya.


***


Langit mulai mendung saat Tristan dan Sarah sudah melalui seperempat perjalanan mereka. Sudah tiga jam mereka berlayar. Sudah waktunya makan siang, Sarah yang sudah menyiapkan makanan bersama kru kapal pun menghampiri Tristan yang masih asik duduk sendiri di lantai tiga, lantai paling atas kapal ini.


"Hei, makan siang susah siap. Ayo turun, kita makan bersama dengan para kru!" ajak Sarah yang berdiri sebentar di sebelah Tristan lalu setelah dia selesai dengan apa yang ingin dia katakan, Sarah pun berniat ingin kembali ke lantai dua.

__ADS_1


"Apa mereka saudara mu?" tanya Tristan.


Sarah yang tidak mengerti maksud Tristan pun berbalik dan melihat ke arah Tristan.


"Maksudnya?" tanya Sarah.


"Kenapa harus makan bersama mereka, apa mereka saudara mu? oh aku lupa, kamu kan dari panti asuhan, kamu pasti merasa semua kru kapal ini adalah saudara mu, apa kalau nanti kita bertemu dengan pengemis di jalan, kamu juga akan mengajak mereka makan bersama, ck... benar-benar wanita freak!" keluh Tristan yang memang tidak suka makan bersama dengan orang asing.


Sarah hanya menghela nafasnya panjang, dia juga tidak ingin membuat keributan di tempat ini.


"Mereka memang bukan saudara ku dan kamu benar, aku memang seorang yatim piatu, aku memang menganggap semua orang saudara!" Sarah menjeda kalimatnya sebentar lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tapi tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Yang membedakan kamu dan orang-orang yang bekerja di sini dan para pengemis di jalanan itu hanyalah nasib dan keberuntungan saja. Nasibmu baik, karena kamu lahir sebagai anak ayah Arya Hutama. Kamu terlahir dengan segala fasilitas yang ada, kamu tidak pernah tahu betapa sulitnya mencari uang untuk makan. Tapi bagaimana jika suatu pagi kamu terbangun dan nasibmu berubah? bagaimana kalau kamu terbangun di jalanan yang dingin dengan pakaian compang-camping...?"


"Bicara apa kamu?" sela Tristan yang sepertinya merinding mendengar apa yang Sarah katakan.


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Tristan, semua hal bisa terjadi. Bagaimana jika yang aku katakan ini menjadi kenyataan, saat kamu bangun, kamu menjadi seorang kru kapal yang tiap hari kepanasan, kehujanan menarik tali jangkar yang begitu berat...!"


"Hentikan, dasar wanita freak! pokoknya aku tidak mau makan bersama mereka. Bawakan makanan ku kemari, dan jangan katakan hal-hal tidak masuk akal itu lagi di depanku!" ucap Tristan yang memalingkan wajahnya dari Sarah.


Sarah hanya menghela nafas dan berbalik menuju ke lantai dua.


'Tidak kusangka, dia juga bisa takut mendengar hal-hal semacam itu. Lagian mana mungkin, dia terbangun menjadi pengemis atau kru kapal. Hartanya saja tidak akan habis tujuh turunan!' gumam Sarah sambil menuruni anak tangga.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2