Tega

Tega
Bab 174


__ADS_3

Setelah mendapatkan tanda tangan Damar Adhikara, Alan terlihat sangat senang. Tapi yang dia butuhkan untuk mendapatkan semuanya belumlah selesai. Alan masih membutuhkan stempel khusus pabrik Adhikara. Alan sudah mencari tahu, dan stempel itu ada di rumah besar keluarga Adhikara.


Maka dengan alasan ingin mengajak Inka menemui ibunya. Alan pun minta ijin pada Damar Adhikara untuk mengunjungi Widya.


"Tentu saja nak, ayah senang kamu terlihat begitu perhatian pada Inka. Kamu mau membawanya menemui ibunya, ibunya pasti sangat senang sekali. Sebenarnya ibunya Inka juga begitu ingin menemui Inka. Hanya saja dalam adat kita kan, pertemuan antara ibu dan anak perempuannya yang sudah menikah itu di batasi. Jadi ibunya Inka tidak bisa berkunjung terlalu sering. Maklumlah, Inka anak kami satu-satunya!" kata Damar sambil sesekali mengusap pelan kepala Inka dengan lembut.


Inka sebenarnya ingin menangis. Dia sekarang merasa sangat takut pada Alan. Padahal dulu dia sangat menyukainya, ternyata apa yang di depan mata kita belum tentu dengan apa yang terlihat sebenarnya. Mata Inka terlalu di butakan kekaguman pada wajah Alan yang memang tampannya nyaris sebelas dua belas dengan Verrel Bramasta. Tapi sayang sifat sebenarnya dari seseorang yak bisa di lihat dari wajahnya. Atau mungkin memang Inka saja yang tak bisa melihat semua itu.


Alan yang sudah tak sabar mendapatkan apa yang dia mau. Segera berdiri juga menggandeng tangan Inka, agar istrinya itu berdiri.


"Sayang, ayo kita ke rumah ibumu. Keburu malam!" kata Alan yang begitu terlihat perhatian dan sayang pada Inka di depan Damar Adhikara.


Damar hanya tersenyum melihat putrinya menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Alan. Benar-benar seperti pasangan yang saling menyayangi dan mengasihi. Damar sangat tenang kalau begini.


"Kalian hati-hati ya, jangan ngebut Jerry!" kata Damar menasehati Jerry.


Keduanya mengangguk paham. Mereka lalu keluar dari ruangan itu, setelah sekali lagi Damar memberikan pelukan sayang pada Inka.


Begitu mereka keluar dari pintu, dan Inka menutup pintu ruangan sang ayah. Jerry Alando langsung melepaskan tangan Inka dan melihat dokumen yang dia bawa.


'Bagus sekali! akhirnya selangkah lagi. Semuanya akan jadi milikku. Tristan Hutama, tunggu saja. Kamu sudah merebut kekasihku dan memecat ku dari perusahaan itu. Kita lihat saja, siapa yang akan menjadi pemenangnya di akhir!' batin Alan yang masih memendam dendam pada Tristan yang telah menikahi Sarah, dan memecat dirinya secara tidak hormat dari perusahaan.

__ADS_1


Inka yang berjalan di samping Alan sebenarnya tidak tahu apa tujuan Alan melakukan semua itu. Dia hanya di ancam untuk mengatakan apa yang sudah Alan ajarkan padanya, pada ayah dan ibunya.


Sebut saja Inka bodoh, tapi memang jika berhadapan dengan yang namanya cinta. Orang sepintar apapun akan menjadi bodoh, bahkan orang sekuat apapun akan menjadi lemah. Seperti itulah cinta, bahkan seorang jenderal pun rela menjalani 999 penderitaan karena cinta. Demi seorang Dewi yang bernama Ching Er, yang bahkan tidak meliriknya sama sekali.


"Mas Jerry, apa setelah ini kamu benar-benar akan membawaku ke Jakarta?" tanya Inka penasaran.


Jerry Alando lantas menutup dokumen yang sedang dia baca dan menoleh ke arah Inka.


"Tentu saja, kamu istriku kan? Jadi kemanapun aku pergi, kamu pasti aku bawa bersamaku!" jawab Alan.


Dan Inka langsung tersenyum, astaga beginilah cinta Inka pada Alan. Meski sudah sering di sakiti baik fisik maupun verbal. Hanya dengan mendengar janji Alan yang akan membawanya ke Jakarta bersama dengannya saja, Inka seperti sudah melupakan semua rasa sakitnya dan malah tersenyum mendengar janji itu. Janji yang belum tentu akan di tepati oleh Alan.


Tak lama dari pabrik, Alan dan Inka sudah sampai di rumah besar Adhikara. Begitu melihat mobil Alan masuk ke pekarangan rumah, Mulya yang sedang menyiram tanaman di taman depan karena memang hari sudah menjelang sore pun langsung meletakkan selang air yang dia pegang ke bawah, ke rumput yamg ada di bawahnya.


Tapi langkah Mulya terhenti ketika dia melihat Widya keluar dari dalam rumah dan langsung bergegas menghampiri Inka yang juga langsung berlari ke pelukan Widya.


Mulya mengurungkan niatnya untuk menemui Inka, dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Tapi sambil menyiram tanaman, Mulya menitihkan air matanya sambil menundukkan kepalanya ke arah bawah.


'Inka, ibu rindu nak. Ibu sangat rindu padamu!' batin Mulya sambil terus menangis tapi sambil terus menyiram tanaman juga.


Mulya sadar, kalau dia memang harus terus menjaga batasan agar Widya dan Damar Adhikara tidak curiga padanya. Kalau sebenarnya dia adalah ibu kandung Inka, Mulya sudah menukar Inka dan Tari alias Sarah sewaktu bayi di rumah sakit. Saat itu para perawat sama sekali tidak curiga, karena Mulya juga melahirkan di hari dan waktu yang sama dengan Widya.

__ADS_1


"Ibu rindu sekali padamu nak? kamu kok kurusan sih? kenapa? kamu jangan malu-malu kalau makan di sana, rumah mertuamu sama dengan rumah ibumu!" kata Widya yang melihat Inka memang agak lebih kurus sekarang.


"Aku juga sudah bilang begitu Bu!" kata Alan yang langsung merangkul Inka.


"Aku sudah bilang agar dia makan yang banyak, tidak usah takut gemuk. Mau gemuk mau kurus, aku juga akan tetap cinta sama dia!" kata Alan berbohong.


Inka yang mendengar perkataan suaminya itu sangat senang. Meski dia tahu itu karena Alan di depan Widya. Tapi Inka sangat senang.


Melihat senyum Inka, Widya pun ikut tersenyum. Alan benar-benar pandai sekarang mengambil hati orang lain.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Widya mengajak Alan dan Inka sekalian untuk makan malam. Dan di kesempatan itulah, di saat Inka dan Widya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Alan menyelinap masuk ke ruang kerja Damar Adhikara.


Karena Alan adalah menantu Damar Adhikara, tak ada satupun pelayan yang curiga saat melihat Alan masuk ke dalam ruang kerja tuan mereka itu. Dan Alan pun dengan mudah mencari stempel yang dia butuhkan. Setelah berhasil mendapatkan stempel itu, Alan mengantonginya dan segera berjalan menuju mobilnya. Alan menyimpan stempel itu di dalam mobilnya.


Saat dia akan masuk ke dalam, Mulya menyapanya.


"Tuan Jerry, selamat sore. Apa kabar?" sapa Mulya sangat sopan.


Mulya merasa kalau Jerry Alando itu kan adalah menantunya, jadi dia ingin menyapa Alan dan meminta Alan menjaga Inka dengan baik. Tapi sayangnya, Alan yang di sapa Mulya sama sekali tidak merespon Mulya. Alan malah langsung pergi begitu saja meninggalkan Mulya tanpa ada babibu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2