Tega

Tega
Bab 220


__ADS_3

Kevin sudah pulang sekolah setelah di jemput oleh tuan Arya Hutama. Dan saat ini anak kecil menggemaskan itu sedang berlari dari dalam mobil dengan sangat terburu-buru. Dia mendengar kakeknya mengatakan kalau dia akan punya seorang adik sepupu dari mama Sarah-nya. Tentu saja Kevin sangat senang dan ingin segera menemui mama Sarah-nya.


"Mama Sarah!" panggil Kevin begitu masuk ke dalam rumah.


Sementara itu di dapur, Tristan masih berusaha untuk menelan jus mangga muda yang baru dia cicipi sedikit, benar-benar sangat sedikit. Susah payah Tristan mencoba menelan minuman itu tapi tidak bisa kunjung tertelan olehnya.


'Ya Tuhan, selamatkan aku!' batin Tristan berdoa dalam hati.


Tristan hanya bisa berdoa, karena memang dia tidak mau mengecewakan keinginan Sarah. Dia sering mendengar kalau permintaan wanita yang sedang mengandung itu tidak di turuti. Nanti anaknya bisa-bisa 1leran. Dan Tristan tentu saja tidak mau anaknya seperti itu.


Maka dengan susah payah, Tristan berusaha untuk menelan minuman itu.


"Mama Sarah!"


Sarah langsung menoleh ke arah ruang tengah.


"Kevin!" ucap Sarah.


Sarah langsung berdiri dari kursinya dan langsung meninggalkan ruang makan untuk menghampiri Kevin.


Tristan langsung berdiri dan menuju wastafel ketika melihat Sarah sudah pergi. Tristan mengeluarkan semua minuman itu dari mulutnya lalu membilas mulutnya.


"Huh... Kevin. Terimakasih, kamu telah menyelamatkan uncle dari minuman mengerikan itu!" kata Tristan yang langsung menyeka mulutnya dan pergi mengikuti Sarah.


Sarah yang melihat Kevin berlari ke arahnya langsung merentangkan kedua tangannya.


"Sudah pulang sayang?" tanya Sarah sambil mencium pipi Kevin.


Sarah lalu mengambil tas Kevin yang sudah tidak terpasang rapi di punggungnya dan meletakkan tas itu di sofa. Sarah duduk lalu memangku Kevin.


"Bagaimana sekolahnya?" tanya Sarah.


"Everything is good mama Sarah, kakek bilang padaku. Aku akan punya adik sepupu? mama Sarah sedang hamil adik bayi kan sekarang?" tanya Kevin dengan wajah yang begitu ceria.


Sepertinya Kevin sangat senang. Sarah juga langsung tersenyum dan merangkul Kevin ke pelukannya.


"Iya sayang, mama Sarah sedang hamil. Itu artinya Kevin sebentar lagi akan punya adik sepupu yang sama menggemaskannya seperti Kevin!" kata Sarah.


Kevin lantas turun dari pangkuan Sarah. Anak kecil berusia lima tahun itu bersorak senang sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.


"Ye ye... ye... Kevin akan punya adik ye.. ye...!"

__ADS_1


Kevin berseru seperti itu sambil mengelilingi sofa ruang tengah. Tuan Arya Hutama dan Tristan yang baru memasuki ruang tengah juga tersenyum sangat bahagia. Mereka sangat senang melihat Kevin begitu bahagia. Anak itu sudah lama tidak sebahagia itu sebelumnya.


"Uncle, Kevin akan punya adik!" kata Kevin yan. melihat Tristan dan memegang tangan uncle nya itu.


"Iya, Kevin akan punya adik sepupu!" jelas Tristan.


Bocah kecil lima tahun itu lantas mengernyitkan keningnya dan memiringkan kepalanya sedikit.


"Apa bedanya adik dengan adik sepupu uncle?" tanya Kevin dengan mimik wajah lucu.


Tristan lantas menggendong Kevin dan mengajaknya duduk di sebelah Sarah, Tristan memangku Kevin di samping Sarah.


"Kalau adik itu kalau Istri papa kamu yang hamil, kalau adik sepupu itu kalau istrinya uncle yang hamil!" kata Tristan mencoba menjelaskan.


Tapi sepertinya Kevin malah bertambah bingung dengan apa yang barusan uncle-nya jelaskan itu.


Tuan Arya Hutama yang melihat Kevin semakin bingung sampai garuk-garuk kepala lantas tersenyum dan mencoba menjelaskan dengan kata yang lebih sederhana.


"Begini Kevin, kalau adik Kevin itu artinya anak papa Rendra. Kalau adik sepupu artinya anak uncle Tristan!" jelas tuan Arya Hutama.


Memang lebih sederhana, tapi tetap saja Kevin masih terlihat bingung.


Mereka pun akhirnya bingung sendiri bagaimana menjelaskan perbedaan adik dan adik sepupu pada Kevin.


"Jadi begini sayang, kalau nanti mama Arumi...!"


"Tante Arumi!" sela Kevin saat Sarah sedang berkata.


"Oh oke oke, kalau nanti mama eh Tante Arumi yang hamil dan melahirkan, itu akan menjadi adik Kevin. Tapi kalau mama Sarah yang hamil dan melahirkan, itu akan menjadi adik sepupu Kevin. Bagaimana? sudah paham?" tanya Sarah pada Kevin.


Kevin pun mengangguk.


"Iya Kevin understand mama Sarah. Tapi kapan adik sepupu Kevin ini lahir mama Sarah?" tanah Kevin lagi dengan wajah polos.


"Sekarang sudah trimester satu akhir, mungkin 6 bulan lagi, adik sepupu Kevin akan lahir!" jelas Sarah sambil tersenyum.


"Enam bulan itu berapa jam mama Sarah?" tanya Kevin lagi.


Semua yang ada di ruangan itu kembali terkekeh setelah sebelumnya sempat tertegun dengan pertama Kevin itu. Mereka harus mengeluarkan ponsel untuk menghitungnya.


***

__ADS_1


Sementara itu di kantor Rendra. Arumi dan Rendra masih berada di kantor. Mereka baru akan bersiap-siap untuk makan siang.


Di depan pintu lift, Arumi bertemu dengan Arista.


"Kak, mau makan siang bersama?" tanya Arumi pada Arista.


Arista yang tidak enak karena takut mengganggu Quality time antara Rendra dan Arumi lantas menolak dengan halus.


"Tidak Arumi, terimakasih. Aku baru akan mengajak Renata makan siang bersama!" kata Arista beralasan.


"Oh, baiklah kalau begitu. Kami duluan ya!" kata Arumi pada Arista.


Rendra juga mengangguk dan tersenyum sedikit pada Arista.


"Iya, silahkan!" kata Arista sopan.


Karena yang ada di depannya bukan hanya adiknya, tapi juga adik ipar sekaligus atasannya di kantor ini.


Karena sudah terlanjur bilang ingin makan siang dengan Renata. Maka Arista pun segera pergi ke ruangan Renata.


Tapi tak di sangka, saat Arista akan membuka pintu dia mendengar para sekertaris sedang berbincang. Arista lantas mendengar dari balik pintu karena salah satu dari mereka menyebutkan nama Renata.


"Kamu aja yang bilangin sama Renata!" kata Alin.


"Ah gak ah kamu aja!" kata Muna.


"Gimana ya, apa kita gak usah bilang aja. Tapi kasihan sama Renata. Masak kemarin aku lihat pak Hamdan itu lagi jalan sama mantan istrinya. Sedangkan kita tahu dia lagi pedekate sama Renata. Gimana ini?" tanya Alin.


"Makanya kamu bilang aja, kasihan si Renata. Mana anak sulung pak Hamdan, si Rani itu galaknya bukan main, belum lagi nanti ketemu mantan istrinya yang tukang fitnes itu...!"


"Fitn4h!" ralat Alin.


"Iya makanya kamu bilang aja, mundur aja pelan-pelan daripada makan hati!" kata Muna.


Arista yang merasa kalau apa yang di katakan dua sekertaris itu ada baiknya, memberanikan diri untuk membuka pintu.


"Aku dengar semua yang kalian bicarakan, katakan saja padaku apa yang kalian lihat dan dengar. Aku akan beritahu pada Renata!" tegas Arista.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2