Tega

Tega
Bab 258


__ADS_3

Rendra masih bersama sedang Arumi di apartemen Sarah. Dia sedang memperhatikan Arumi yang sedang berusaha menenangkan Sarah karena sejak tadi terlihat gelisah memikirkan Tristan.


"Sarah, jangan seperti itu. Ingat kamu sedang hamil, kamu harus percaya dan terus berdoa agar Tristan baik-baik saja. Dia itu bela dirinya lebih hebat dari mas Rendra, kamu tenang saja!" kata Arumi.


Mendengar istrinya berkata begitu, Rendra cuma bisa menatap Arumi dengan tatapan pasrah. Mau bagaimana lagi? apa yang di katakan Arumi itu memang benar. Bahkan Arumi lebih jago taekwondo di bandingkan dengan Rendra.


Widya juga mengusap lembut kepala Sarah.


"Arumi benar nak! kita doakan Tristan baik-baik saja. Okey!" kata Widya.


Sarah pun mengangguk setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibu dan sahabatnya. Tapi tetap saja hatinya tidak tenang.


"Iya Bu, tapi aku merasakan firasat yang tidak enak. Entahlah, hatiku tidak tenang, Aku akan hubungi mas Tristan dulu?" kata Sarah yang langsung pergi ke kamarnya karena akan mengambil ponselnya yang dia letakkan di sana.


Dan saat Sarah sedang berjalan ke arah kamar, ponsel Rendra tiba-tiba saja berdering. Dan itu, nomer yang tidak dia kenal.


"Halo!"


"Halo, apakah benar ini nomer tuan Rendra? kakak tuan Tristan?" tanya petugas yang menghubungi Rendra.


"Iya benar, ini siapa?" tanya Rendra.


"Saya petugas Galih, dari kepolisian. Maaf karena saya harus menyampaikan, kondisi tuan Tristan kritis. Dia tertembak oleh salah satu anak buah Jerry Alando, dan saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit Medika!"


Mendengar penjelasan polisi, Rendra langsung membelalakkan matanya lebar. Membuat Arumi yang melihat suaminya berekspresi seperti itu menjadi ikut cemas.


Arumi lantas bangun dan mendekati Rendra.


"Mas, ada apa?" tanya Arumi.


Bersamaan dengan pertanyaan Arumi itu, Rendra melihat Sarah yang sedang keluar dari kamarnya sambil mulai menghidupkan ponselnya.


"Tristan...!" lirih Rendra.


"Kami akan tetap mengusahakan yang terbaik, tolong tuan atau anggota keluarga yang lain bisa datang. Atau kami bisa wakilkan untuk menandatangani semua persetujuan tindakan medis?" tanya polisi tersebut.


"Iya lakukan saja seperti itu pak polisi, selama aku belum datang tanda tangani saja. Aku mohon lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan adikku!" kata Rendra.


Brakk

__ADS_1


Ponsel Sarah terjatuh, dan semua lantas menoleh ke arah Sarah. Arumi yang mendengar apa kata suaminya juga langsung menghampiri Sarah dan membantunya karena sudah nyaris jatuh.


"Mas Tristan.. mas Tristan kenapa mas?" tanya Sarah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tanpa bicara lagi, Rendra langsung menutup panggilan telepon dan menghampiri Sarah juga. Rendra membantu Arumi untuk membawa Sarah duduk di sofa.


"Sarah, kamu tenang dulu ya!" kata Rendra.


"Mas, sebenarnya ada apa?" tanya Arumi yang juga sudah panik.


"Nak Rendra, Tristan kenapa?" tanya Widya ikut panik.


Rendra terlihat ragu untuk mengatakannya pada Sarah. Rendra takut Sarah shock dan itu akan mempengaruhi kandungannya.


"Sarah, jangan panik ya. Ingat kamu sedang hamil!" kata Rendra mewanti-wanti Sarah.


Sarah yang sudah berurai air mata mengangguk cepat.


"Mas Tristan kenapa kak?" tanya Sarah.


"Tristan tertembak!"


"Tristan!"


"Mas Tristan!"


"Aku mau ke sana mas, aku mau ketemu mas Tristan!" kata Sarah yang langsung berdiri dan hendak berjalan ke arah pintu.


Rendra lantas melihat ke arah Arumi. Arumi yang mengerti lantas menahan Sarah.


"Sarah, Sarah.. tenang dulu. Kami mengerti perasaan mu. Tapi kamu sedang hamil, kita di sini saja ya. Kita berdoa agar Tristan bisa selamat, biar mas Rendra yang ke rumah sakit" kata Arumi.


Tapi Sarah menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Arumi. Aku mau ikut ke rumah sakit. Aku akan berdoa di sana. Mas ayo kita ke rumah sakit!" kata Sarah menarik tangan Rendra.


"Sarah!" lirih Arumi yang sangat sedih. Dia tahu benar apa yang sedang di rasakan oleh Sarah saat ini.


Arumi lantas melihat ke arah Rendra.

__ADS_1


"Mas, tidak apa-apa. Kita ajak Sarah ke rumah sakit saja. Aku akan menjaganya!" kata Arumi.


Akhirnya Rendra setuju, Arumi dan Sarah pergi bersamanya ke rumah sakit. Sementara Widya dan Tika tetap di rumah untuk menjaga Kevin yang memang sedang tertidur di kamar yang dia siapkan Tristan untuk calon anaknya kelak.


Yang tadinya ruangan bar yang di pakai oleh Tristan sebagai ruangan pribadinya. Kini sudah di sulap menjadi sebuah kamar bayi bernuansa astronot. Kevin sangat menyukai kamar itu, sampai dia setiap ke apartemen Sarah dan Tristan, pasti akan tidur di tempat itu.


Selama di perjalanan, Arumi terus berusaha untuk menenangkan Sarah. Sarah juga tak berhenti menangis karena menurutnya tertembak itu pasti sangat menyakitkan. Dia begitu kasihan pada Tristan, apalagi penjelasan Rendra yang dia ceritakan pada Sarah tadi, Tristan sedang kritis. Tambah panik lagi Sarah jadinya.


Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Sarah langsung turun dari mobil, membuat Arumi bergegas mengejarnya.


"Aku akan ke pusat informasi! kamu tunggu di sini, nanti kamu laleh!" kata Arumi yang melihat Sarah bingung harus kemana lebih dulu.


Dalam keadaan panik dan khawatir, tentu saja yang ada di pikiran Sarah hanya Tristan. Hingga saat dia bergegas masuk ke rumah sakit juga dia langsung mengedarkan pandangannya mencari ruang UGD.


Arumi lantas berlari ke pusat informasi, begitu tahu dimana Tristan di tangani. Dia kembali lagi berlari menemui Sarah dan mengajaknya ke tempat itu. Namun ketika Arumi berjalan dengan kecepatan normal, Sarah malah menarik tangannya agar berjalan dengan cepat.


"Sarah, kamu sedang hamil. Jangan berjalan dengan cepat seperti itu!" kata Arumi yang khawatir pada kehamilan Sarah.


"Aku baik-baik saja, ayo Arumi!" kata Sarah yang tak bisa menutupi tahun panik dari wajahnya.


Rendra juga langsung menyusul mereka setelah menemukan tempat parkir. Sarah yang melihat ada petugas polisi di depan ruang UGD lantas menghampiri petugas itu.


"Pak, bagaimana keadaan suami saya, bagaimana mas Tristan?" tanya Sarah panik dan cemas.


"Anda istri tuan Tristan?" tanya petugas itu dan langsung di balas anggukan kepala oleh Sarah dengan sangat cepat.


"Iya, saya istrinya!"


"Tuan Tristan sedang di tangani di dalam, dia dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah. Dia tertembak di dada bawah sebelah kanan..!"


"Mas Tristan!" Sarah begitu sedih.


Arumi memeluk Sarah dengan sangat erat.


"Untung saja persediaan golongan darah yang sama dengan tuan Tristan cukup banyak!" jelas petugas itu lagi.


Arumi menghela nafas lega mendengarnya. Setidaknya tidak akan ada masalah dengan hal itu.


"Sarah, sabar ya. Kamu dengar kan kata petugas, Tristan itu orang baik. Niatnya baik, akan ada kemudahan baginya. Tristan juga pasti akan berusaha dengan baik di dalam sana, dia tidak akan melewatkan kesempatan menjadi seorang ayah, kamu juga harus kuat Sarah. Sabar ya!" ucap Arumi yang sebenarnya juga sangat cemas, namun dia berusaha terlihat tegar dan kuat di hadapan Sarah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2