
Sarah melangkah perlahan mendekati meja kerja Tristan. Sarah tidak melihat ke arah Tristan, dia bahkan memilih melihat ke lantai marmer yang hitam legam tapi mengkilat dan membuat Sarah merasa pemandangan yang dia lihat sekarang lebih baik dan menentramkan hati, di bandingkan melihat wajah Tristan yang selalu garang saat di tunjukkan pada dirinya.
Saat Sarah telah berdiri di sana, sebuah dokumen tiba-tiba terbang dan mendarat tepat di depan Sarah. Di atas meja Tristan, di bagian depan Sarah berdiri. Persis di hadapannya.
Tentu saja dokumen itu tidak benar-benar terbang, yang melemparkan dokumen itu pada Sarah adalah Tristan. Mata Sarah langsung melihat dokumen itu.
"Duduk dan baca baik-baik dokumen itu!" perintah Tristan.
Tanpa melihat ke arah Tristan, Sarah pun langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh CEO perusahaan tempatnya bekerja selama lebih dari empat tahun itu.
Sarah duduk di kursi yang ada di sampingnya, dan perlahan membuka dokumen dengan map berwarna hijau itu.
Begitu membaca halaman pertama, baru membaca judulnya saja. Sarah sudah menghela nafas.
'Seperti yang aku pikirkan, perjanjian pra nikah!' batin Sarah.
Sebenarnya Sarah sudah mengira akan ada semacam kontrak pernikahan dengan Tristan. Tapi dia tidak menyangka kalau itu malah surat perjanjian pra nikah.
'Eh, apa ini sama saja dengan perjanjian kontrak pernikahan?' tanya Sarah lagi dalam hati.
Sarah menghela nafas lagi, semakin dia membaca isi dokumen di hadapannya itu dia semakin menghela nafas saja.
Beberapa poin seperti perjanjian-perjanjian pada umumnya. Pihak satu dan dua tidak boleh saling ikut campur urusan masing-masing, bahkan urusan pribadi. Lalu pihak dua tidak boleh memerintahkan atau meminta tolong apapun pada pihak satu di depan Arya Hutama dan Rendra.
Lalu yang ketiga, tidak ada kewajiban bagi pihak satu memenuhi kewajiban sebagai seorang suami, termasuk dalam hal materi. Poin ke empat, pihak kedua harus senantiasa mengurus rumah dan membuat rumah tangga mereka terlihat baik-baik saja dan harmonis di depan Arya Hutama dan Rendra, juga di depan orang lain.
Poin ke lima, pihak kedua juga harus melaksanakan kewajiban seperti layaknya seorang isteri. Semua poin di atas jelas menguntungkan Tristan dan sangat merugikan Sarah. Apalagi poin terakhir yang menurut Sarah sangat membuktikan kalau rumah tangga mereka tidak akan berlangsung lama.
Poin ke enam itu adalah poin dimana Sarah tidak boleh ikut campur sama sekali tentang hubungan Tristan dengan Shanum. Bahkan Sarah tidak boleh mengadu pada Arya Hutama dan Rendra karena setelah menikah pun Tristan tidak akan pernah mengakhiri hubungannya dengan Shanum.
Setiap poin yang Sarah baca, selalu berhasil membuatnya menghela nafas. Ternyata dirinya benar-benar harus menjalani pernikahan palsu dan penuh muslih4t seperti ini dengan Tristan.
Sarah lantas membuka lembar kedua, di sana tertulis kalau selama menikah dengan Tristan, Sarah boleh tinggal bersama dengan Tristan di apartemen nya. Lagi-lagi Sarah menghela nafas, karena kalau mau protes juga percuma kan.
__ADS_1
Dan poin terakhir, setelah pernikahan ini selesai. Entah kapan itu terjadi, maka Tristan akan memberikan dua puluh persen dari jumlah kekayaannya pada Sarah sebagai kompensasi.
Melihat poin terakhir itu, Sarah merasa kalau sebenarnya pria di depannya itu masih punya sedikit rasa kemanusiaan. Yah, meskipun hanya sedikit.
Setelah melihat Sarah membalik halaman ke dua, Tristan langsung berkata.
"Tanda tangani surat itu segera, dan jangan sampai ada yang tahu. Surat ini hanya kau, aku dan Richard yang mengetahuinya. Mengerti!" seru Tristan yang sebenarnya tak butuh jawaban dari Sarah.
Bagaimana tidak, Tristan itu bertanya, tapi nada bicaranya seperti memerintah. Lalu untuk apa Sarah menjawabnya. Tak mau buang waktu lebih lama dengan manusia kutub di depan itu, Sarah pun segera meraih pulpen yang selalu ada di saku blazernya.
Tristan cukup terkejut dengan hal itu. Biasanya jarang ada wanita yang melakukan itu. Tadinya Tristan hampir meraih pulpennya yang ada di atas meja.
Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Sarah langsung berdiri.
"Jika sudah tidak ada lagi urusan dengan saya, saya permisi!" ucap Sarah yang meskipun hatinya sedikit dongkol tapi dia masih berusaha bersikap dan berkata sopan pada Tristan.
"Pergilah!" ujar Tristan yang memang merasa urusannya dengan Sarah telah selesai.
Sarah pun segera keluar dari ruangan CEO dan kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Apa yang terjadi, apa dia memberimu kerja lembur tanpa bayaran lagi?" tanya Arumi.
Arumi sejak tadi sudah ketar-ketir. Karena dia merasa tidak akan pernah ada hal baik kalau Sarah berurusan dengan Sarah. Alhasil, Arumi selalu negatif thinking terhadap Tristan.
Sarah hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak Arumi, dia hanya...!"
Sarah menjeda kalimatnya, hampir saja dia keceplosan. Karena Arumi memang sahabat baiknya selain Hera. Jadi dia juga sering menceritakan keluh kesah dan apa yang terjadi di kehidupan nya pada Arumi.
Tapi mengingat peringatan Tristan untuk tidak bicara pada siapapun. Sarah juga tak akan bicara pada siapapun, meskipun itu bunda Tiara. Karena selain tidak ingin membuat Tristan marah, Sarah juga tak ingin bunda Tiara sedih. Karena bunda Tiara pasti sedih mendengar perjanjian seperti itu yang jelas-jelas bisa sangat menyakiti Sarah nantinya. Bagaimana tidak, seorang suami membuat perjanjian kalau istrinya harus tutup mata dan telinga dengan hubungan bersama wanita lain.
"Hanya menjelaskan tentang sesuatu saja!" ucap Sarah meralat ucapannya yang pertama.
__ADS_1
Tapi tatapan Arumi menunjukkan kalau dia tidak sepenuhnya percaya.
"Tapi ada drama marah-marahnya kan?" tanya Arumi memastikan.
Sarah sampai terkekeh mendengar apa yang dikatakan Arumi itu.
"Kamu seperti cenayang ya? bagaimana kamu tahu ada drama marah-marahnya?" tanya Sarah yang seolah membenarkan hal tersebut.
"Tuh kan, heran deh. Sudah mau jadi suami istri masih ada drama marah-marah. Ck... nanti kalau kamu sudah menikah dengan tuan Tristan itu kamu harus sekuat baja ya Sarah!" ujar Arumi yang langsung di balas anggukan kepala oleh Sarah.
Karena memang apa yang dikatakan Arumi itu benar. Sarah memang harus sekuat baja menghadapi Tristan ke depannya.
***
Kabar tentang rencana pernikahan Sarah dan Tristan ternyata begitu cepat menyebar. Bahkan sampai jadi obrolan di WA grup perusahaan.
Alan yang sedang berada di apartemennya karena masih di skorsing pun terkejut bukan main melihat beberapa orang yang membicarakan tentang hal itu.
Banyak yang mencibir Sarah, karena itu hanya grup bagian pemasaran. Sarah tidak tergabung di dalamnya.
*Kok bisa sih, apa bagusnya dia sih sampai jadi calon nyonya CEO.
*Jangan-jangan pakai pelet.
Dan masih banyak lagi, tidak hanya cibiran. Beberapa bahkan menyindir Alan, karena setahu mereka Alan dan Sarah itu berpacaran.
*Emang dia udah putus sama Alan.
*Udahlah, gak pada tahu ya drama sujud sujud di lobby
Brakkk
Alan langsung membanting ponselnya membaca chat seperti itu dari teman kantornya.
__ADS_1
***
Bersambung...