Tega

Tega
Bab 146


__ADS_3

Mendapat serangan tiba-tiba dari Arumi membuat mata Rendra langsung menatap ke arah Arumi yang bahkan memejamkan matanya saat mendaratkan bibir manisnya itu ke bibir Rendra.


Tanpa Rendra sadari, tangan kanan sudah bergerak secara refleks memeluk punggung Arumi. Bahkan satu tangan lagi, yaitu tangan kiri Rendra malah berada di belakang kepala Arumi.


Selama lima tahun lebih Rendra tidak pernah berciuman dengan wanita lain. Rasanya aliran darah Rendra berpacu seiring bibirnya yang makin menuntut. Tidak hanya sekedar menempel seperti apa yang di lakukan Arumi. Rendra menuntut lebih.


Arumi yang tadinya terpejam, membelalakkan matanya ketika mendapat serangan yang lebih mengejutkan dari Rendra. Benar-benar seperti mendapat gelombang kejut, Arumi tak dapat menolak sentuhan tangan Rendra dan membuatnya mengikuti apa yang Rendra lakukan. Keduanya bahkan lupa kalau di depan mereka ada Hera.


Hera yang melihat pasangan di depannya itu bergulat bibir dengan panas pun ikut merasakan bara yang seperti sedang membakar hatinya. Kalau di film kolosal, ubun-ubun Hera saat ini sudah mengeluarkan asap, dan wajahnya sangat merah karena amarah.


Sementara orang-orang di tempat itu begitu terkejut, melihat Rendra Hutama yang di kenal sebagai sosok yang pendiam dan tenang. Bisa melakukan hal seperti itu di depan umum.


Tapi sebagian lagi malah bertepuk tangan, membuat mata Rendra terbuka dan segera melepaskan ciumannya dari Arumi.


Matanya menatap Arumi dengan penuh penyesalan. Arumi yang juga bingung dengan apa yang Rendra lakukan, lantas berbalik menghadap ke arah Hera dan menyeka bibirnya yang basah karena ulah Rendra.


"Sudah puas, dasar sukanya melihat adegan dew4sa batu puas!" kesal Arumi yang lantas menarik tangan Rendra untuk kembali ke mobil mereka.


Arumi tak mau orang-orang menggunjing tentang mereka. Makanya dia langsung menarik Rendra masuk ke dalam mobil.


Sementara Hera masih terbakar amarah, dia masih mengepalkan tangannya dengan kesal dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri sampai Rendra dan Arumi masuk ke dalam mobil.


"Wah, ini berita besar. Ternyata yang di kabarkan media itu tidak benar ya!" kata salah seorang tamu undangan yang melihat Rendra mencium Arumi tadi.


"Iya, itu gosip berapa tahun yang lalu juga hoax aja sih aku yakin, itu yang katanya di artis terkenal minta cerai gara-gara tuan Rendra melambai, kayaknya enggak deh. Tuan Rendra ya ampun, mereka yang ciuman aku yang panas dingin loh!" kata salah seorang lagi pada temannya yang lain.

__ADS_1


Hera yang mendengar itu langsung menghentakkan kakinya berkali-kali lalu masuk ke dalam rumah dengan kesal. Wajahmu benar-benar merah padam seperti kepiting rebus yang terlalu matang.


Sementara itu di perjalanan pulang mengantarkan Arumi. Rendra masih diam sambil berusaha fokus mengemudi. Fokusnya benar-benar terganggu setelah Rendra melirik dari kaca spion dalam mobil, merah dan bengkaknya bibir Arumi akibat ulahnya.


Arumi sendiri juga merasa bibirnya menjadi begitu tebal dan tidak nyaman. Namun dia berusaha bersikap biasa, karena memang dia yang memulainya.


Arumi yang tidak pernah berciuman sebelumnya, tidak tahu kalau apa yang dia lakukan akan membuat duda tampan seperti Rendra menjadi begitu agresif membalas ciumannya. Arumi bahkan merasa jantungnya mau copot tadi, desiran desiran aneh juga membuat Arumi tak berani menatap Rendra sampai sekarang. Jadi dia memilih diam saja sambil melihat ke arah pemandangan di luar kaca jendela mobil.


Suasana seperti itu tetap bertahan sampai di depan rumah Arumi. Rendra menepikan mobilnya, dan Arumi pun melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai.


Arumi pikir, dia akan turun saja langsung tanpa bicara pada Rendra. Sebab dia benar-benar sangat canggung.


Namun saat Arumi akan membuka pintu, dia agak kesulitan melakukan itu. Dan yang membuat hal itu terjadi adalah pria yang duduk di kursi kemudi di sebelahnya itu. Dan Rendra memang sengaja mengunci otomatis pintunya, agar Arumi tidak keluar dulu. Sebab ada yang ingin Rendra bicarakan dengannya.


Mengetahui siapa biang keladi dirinya tak bisa membuka pintu mobil itu. Arumi lantas berbalik dan menghadap ke arah Rendra.


Rendra pun segera melihat ke arah Arumi dan mengarahkan posisi duduknya menghadap ke arah Arumi.


"Arumi... aku minta maaf atas apa yang terjadi di pesta ulang tahun Hera tadi. Di teras tadi, aku...!"


"Ya ampun mas, kenapa minta maaf. Itu benar-benar tidak masalah. Soal ciuman itu... anggap saja itu tidak pernah terjadi. Sekarang tolong buka pintunya, aku harus istirahat. Besok aku harus kerja. Kalau aku terlambat, Bu Sisilia akan mengomel!" kata Arumi yang bersikap seolah hal itu bukan masalah besar.


"Tapi Arumi, itu tadi...!"


"Mas, kita ini bukan remaja yang akan mempermasalahkan hal sepele seperti itu kan. Ayolah, mas pasti sudah banyak melakukannya dengan wanita lain kan?" tanya Arumi dengan ekspresi yang begitu santai.

__ADS_1


Rendra terkejut mendengar ucapan Arumi tersebut. Rendra juga langsung membuka kunci otomatis.


Arumi yang merasa kunci pintunya sudah terbuka langsung membuka pintu mobil itu dan akan keluar.


Tapi Rendra memanggil Arumi.


"Arumi!"


Arumi pun menoleh padahal, sebelah kakinya sudah ada di luar pintu mobil, sudah mau di turunkan dari mobil.


"Setelah lima tahun bercerai dengan mamanya Kevin. Tadi itu ciuman pertamaku dengan wanita lain, selain mamanya Kevin!" ucap Rendra jujur.


Kejujuran Rendra itu justru membuat Arumi merasa sangat tidak nyaman. Arumi hanya menatap Rendra dan beberapa detik kemudian dia langsung turun dari mobil dan menutup pintu mobil Rendra.


Arumi melangkah cepat meninggalkan mobil Rendra dan masuk ke dalam rumahnya.


Sementara Rendra terus memandang ke arah pintu rumah Arumi. Pria yang sudah menduda selama lima tahun dan tak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain setelah itu merasakan perasaannya begitu campur aduk tidak karuan.


Ada rasa kesal di hatinya, karena Arumi mengatakan agar menganggap semua yang terjadi di teras rumah Ari Ricardo tadi tidak pernah terjadi. Ada rasa kecewa saat Arumi bilang padanya, hal yang baru mereka lakukan itu adalah hal yang sepele bagi Arumi.


"Ini bukan hal sepele Arumi, bagaimana bisa wanita yang belum pernah jatuh cinta dan pacaran seperti mu menganggap ini hal sepele. Kamu pasti berbohong!" kata Rendra yang langsung meninggalkan tempat itu.


Sementara Arumi masih berdiri di belakang pintu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Dasar bodoh, kenapa aku bilang begitu. Mas Rendra pasti berpikir aku ini wanita nakal. Ya ampun Arumi, apa yang ada di otakmu. Masa gara-gara marah sama Hera, kamu main nyosor aja. Yah, gak perawan lagi deh nih bibir!" gerutu Arumi sambil masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2