
Keesokan harinya...
Steven dan Anika pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Damar dan Widya. Steven sudah mengecek semuanya, ternyata asetnya sekitar 70% memang sudah di kuasai oleh Jerry Alando.
Steven awalnya sangat shock. Sangat terkejut bahkan sempat merasa pusing dan tensi darahnya naik ketika mendengar apa yang telah di lakukan Jerry Alando pada perusahaan, besannya dan terutama pada Inka, menantunya.
Begitu kondisi Steven sudah membaik. Pria itu langsung mengajak Anika, istrinya menemui besan dan menantunya itu. Maksudnya mantan menantu dan mantan besannya itu. Karena Jerry Alando sudah menjatuhkan talak. Dan Inka juga sudah keguguran. Benar-benar tidak ada ikatan lagi antar mereka.
Begitu melihat Steven masuk ke dalam ruang rawat Inka. Damar langsung mengajak Steven dan Anika keluar.
"Kalau mau bicara, kita bicara di luar!" kata Damar.
Steven melihat sekilas kondisi Inka yang tampak berantakan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena bagaimanapun juga, dia juga ikut andil dalam mendidik Jerry Alando dan dia sudah gagal. Rasa malu dan bersalah Steven pada Inka dan keluarga Adhikara benar-benar membuat Steven sangat terbebani.
Setelah mereka bertiga berada di luar ruangan rawat Inka. Steven tampak menghela nafasnya lelah sebelum mulai bicara kepada Damar Adhikara.
"Mas Damar, aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi. Aku akan segera membawa Jerry kembali agar dia minta maaf padamu!" kata Steven yang berusaha untuk kembali mendapatkan muka di depan Damar Adhikara.
Tapi mendengar apa yang Steven katakan kepadanya, reaksi Damar Adhikara Hana datar saja. Bahkan dari ekspresi wajah pria paruh baya tersebut, menunjukkan rasa tak percaya kalau Steven mampu melakukan apa yang dia katakan.
"Benarkah? apa kamu yakin? dengan kekuasaan yang tidak lebih besar dariku, dengan harta yang sudah di ambil alih oleh putramu itu?" tanya Damar Adhikara dengan ketus.
Siapa juga orangnya yang tidak akan merasa emosi, kalau dia yang berniat baik memberikan bantuan modal usaha untuk menantunya itu, dengan menandatangani jaminan atas namanya. Malah di tipu sedemikian rupa, sehingga Damar Adhikara kehilangan sebuah pabrik yang dia bangun berpuluh-puluh tahun. Bahkan Jerry Alando juga memperlakukan istrinya sedemikian rupa, sampai dia kehilangan calon anaknya.
"Aku tahu mungkin apapun yang aku katakan padamu. Tidak akan membuatmu merasa lebih baik. Tapi aku pastikan, Jerry akan mengembalikan semuanya padamu. Mas Damar, aku akan pergi ke Jakarta menyusul Jerry...!"
"Dia pergi ke Jakarta?" tanya Damar Adhikara menyela ucapan Steven.
"Iya, menurut orang yang bisa kamu percaya. Dia sudah sampai Jakarta semalam!" kata Steven menjelaskan, membuat Damar Adhikara mengepalkan tangannya.
Steven dan Anika yang tidak dapat bicara apapun karena merasa malu sekaligus merasa bersalah meninggal tempat itu. Mereka akan mencoba mengambil apa yang sudah Jerry Alando putra mereka rebut dari Damar Adhikara.
Steven memang pebisnis tapi dia tidak pernah memakai cara licik untuk mendapatkan keuntungan atau mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sedangkan Damar Adhikara yang di tinggal Steven juga terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
'Setelah kepastian Inka itu anakku atau bukan, aku sendiri yang akan mengambil apa yang memang milikku!' batin Damar yang hanya mengalah untuk beberapa saat ini saja.
***
Di apartemennya, Sarah dan Tristan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Sayang, kamu jadi sekertaris ku saja ya?" tanya Tristan membujuk Sarah.
Tristan memeluk Sarah dari belakang, saat Sarah sedang merapikan blazer nya.
"Tristan, aku sama sekali tidak tahu apapun tentang tugas seorang sekertaris. Sudahlah, kan sudah ada Richard, kak Pandu, kak Liana. Mereka sangat terlatih, aku hanya tahu accounting tidak tahu hal lain!" kata Sarah melepaskan pelukan Tristan darinya kemudian meraih tas nya.
"Sayang, bagaimana kalau aku merindukanmu, haruskah ku pindahkan ruangan divisi keuangan di depan ruangan ku?" tanya Tristan yang langsung membuat Sarah terkekeh.
"Ha ha ha, sudahlah. Kita hanya akan berpisah tiga jam di pagi hari, dan empat jam di sore hari. Kamu jangan lebai begitu? kemana perginya pria yang dulu bilang tidak level denganku dan aku ini bukan tipenya sama sekali?" tanya Sarah menyindir Tristan.
Tristan yang merasa tersindir lantas duduk di tepi tempat tidur.
"Ck... kamu kan tahu aku ini setia, sekali aku jatuh cinta pada seorang wanita, sampai dia mengkhianati aku. Aku bahkan akan membawakan bulan kalau dia mau!" balas Tristan tak mau di bilang menjil4t ludahnya sendiri.
"Oh begitulah? kalau begitu apa kamu akan mengambilnya bulan jika aku minta?" tanya Sarah pada Tristan.
Tristan terkejut mendengar apa yang di katakan Sarah itu.
"Sayang, kamu tidak bercanda kan? itu bulan loh? segede apa coba? mau kita taruh dimana?" tanya Tristan pada Sarah.
Sarah semakin terkekeh.
"Dasar mulut pria, gombal saja bisanya. Kalau di suruh beneran ambilkan bulan juga tidak sanggup kan?" tanya Sarah yang langsung keluar dari dalam kamar.
Tristan langsung berdiri dan mengejar Sarah.
"Sayang itu umpamanya, itu hanya perumpamaan. Apapun yang kamu minta selama aku bisa melakukannya, aku pasti akan melakukannya untukmu. Begitu!" jelas Tristan.
"Benarkah, coba joget di depanku!" kata Sarah yang tiba-tiba saja muncul ide jahil itu di kepalanya.
__ADS_1
Wajah Tristan langsung terlihat bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, kamu serius. Ini Tristan Hutama loh, CEO perusahaan Arya Hutama grup. Kamu suruh pria tampan ini joget?" hanya Tristan tak habis pikir dengan keinginan istrinya itu.
"Ck.. ya sudahlah. Katanya mau lakukan apapun! joget saja tidak mau!" kesal Sarah.
"Sayang, yang benar saja. Yang lain saja ya? bagaimana kalau nanti siang aku mengajakmu makan siang romantis di restoran?" tanya Tristan.
"Tidak mau!" tegas Sarah.
"Bagaimana kalau nonton?"
Tiba-tiba saja bel apartemen Tristan berbunyi.
Sarah yang memang berada di dekat pintu langsung membukanya.
Ceklek
"Selamat pagi, dengan nyonya Sarah?" tanya seorang kurir wanita dengan ramah.
Sarah pun langsung mengangguk.
""Ini nyonya, ada kiriman paket sarapan pagi dari restoran kami. Silahkan!" kata kurir tersebut menyerahkan dua box makanan yang berukuran besar pada Sarah.
"Dari siapa?" tanya Tristan dengan wajah yang mulai tidak enak di pandang.
"Ini layanan pesan antar tuan, yang memesan tidak menyebutkan namanya! permisi!" kata kurir tersebut yang langsung pergi begitu paket itu di terima oleh Sarah.
"Dari siapa ya?" tanya Sarah penasaran.
Begitu dia membuka salah satu box makanan, dia terkejut karena Tristan merebutnya dengan paksa.
"Pasti dari pria gil4 itu, sudah buang saja!" kata Tristan yang langsung masukkan dua box makanan itu ke dalam kotak sampah.
***
__ADS_1
Bersambung...