Tega

Tega
Bab 72


__ADS_3

Sarah harus meredakan amarahnya pada Tristan agar dapat tidur. Dan itu ternyata tidak berlangsung lama, karena ketika mereka sedang tertidur. Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka.


Tok tok tok


"Tuan, nona cepat bangun. Terjadi badai yang cukup besar!" teriak salah satu kru kapal berusaha membangunkan Tristan dan Sarah.


Mereka tahu kalau mungkin kedua orang di dalam itu pasti sedang tidur. Jadi mereka mengetuk pintu itu dengan keras dan terus memanggil Tristan dan Sarah.


Sarah yang mendengar hal itu pun lantas bangun, dan ketika dia bangun ternyata benar kapalnya berguncang keras.


Sarah langsung buru-buru membangunkan Tristan.


"Tristan bangun... Tristan!" teriak Sarah sambil menggoyang-goyangkan lengan Tristan.


Saat Tristan terbangun, dia pun kaget dengan kerasnya guncangan yang terjadi pada kapal yang mereka tumpangi.


Tristan langsung bangun dan langsung melompat turun dari tempat tidurnya.


"Ada apa ini?" tanya Tristan.


Sarah langsung berjalan dengan cepat ke arah pintu, dan membuka pintu itu.


Ceklek


"Nona, tuan, cepat masuk ke ruangan kedap air yang ada di lantai dua. Kapten sedang mencoba menerjang badai ini, kapten minta agar kami membawa tuan dan nona ke tempat yang aman!" kata kru kapal yang terlihat panik itu.


Sarah pun mengerti dengan ucapan kru itu, dia lantas melihat ke arah Tristan.


"Tristan, ayo!" ajak Sarah yang langsung mengikuti langkah kru kapal itu.


Mereka menuju ke lantai dua kapal, terlihat hujan belum reda. Sarah hanya melihat sekilas ke arah jendela kaca yang ada dekat tangga menuju lantai dua.


Setelah masuk ke dalam ruangan yang di maksud. Kru kapal pun meninggalkan Sarah dan Tristan.


"Kalian mau kemana?" tanya Sarah yang merasa heran kenapa dua orang kru itu tidak ikut mereka masuk ke dalam ruangan kedap air itu.

__ADS_1


"Kami akan berjaga di luar nona, jika ada sesuatu yang terjadi. Kami akan mengajak nona dan tuan pergi dari kapal ini dengan sekoci!" jelas kru kapal itu.


Sarah merasa sangat terkejut, dia tidak menyangka di saat seperti ini mereka para kru kapal benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Yang terpenting bagi mereka bahkan bukan nyawa mereka. Tapi mereka lebih mementingkan keselamatan Sarah dan Tristan.


"Kami akan tutup pintunya nona, nona kunci dari dalam. Nanti kami akan mengetuk jika terjadi sesuatu!" kata kru kapal itu lagi dan langsung menutup pintu ruangan kedap air itu.


Tristan yang terlihat cemas dan kesal pun langsung duduk di sebuah kursi yang ada di dalam ruangan itu.


Sementara Sarah masih mencemaskan keselamatan para kru kapal yang lain.


"Ini benar-benar mengesalkan, bagaimana bisa ayah membawa kita dalam keadaan seperti ini!" keluh Tristan.


Sarah pun ikut duduk di depan Tristan.


"Ayah juga tidak akan mengira akan ada badai seperti ini!" balas Sarah.


Cukup lama mereka terdiam, terkadang mereka sampai ikut bergoyang ke kanan atau ke kiri sangking kerasnya gelombang ombak yang menerjang kapal yang mereka tumpangi.


"Bagaimana kalau kita tidak selamat?" lirih Tristan.


"Apa yang kamu katakan Tristan? kenapa bicara hal buruk seperti itu. Bunda Tiara selalu mengatakan padaku, setiap ucapan yang keluar dari mulut kita ini adalah doa. Maka bicaralah yang baik-baik saja. Bunda Tiara juga bilang selama dalam hati kita masih memiliki tujuan yang baik, maka Tuhan akan menyelamatkan kita sampai kita menggapai tujuan kita itu!" ucap Sarah dengan suara pelan dan dengan intonasi rendah agar Tristan mengerti apa yang dia katakan.


Tristan hanya terdiam mendengar semua yang dikatakan Sarah. Semakin kencang guncangan semakin Tristan terlihat cemas.


"Apa kamu menyesal pergi denganku dengan kapal ini?" tanya Tristan yang tiba-tiba melihat ke arah Sarah.


Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, tidak sama sekali. Aku yakin kita akan selamat Tristan. Aku masih banyak hal yang belum aku wujudkan. Aku yakin kamu juga kan, kamu pasti masih ingin bertemu dengan ayah, kak Rendra dan Kevin kan. Dan aku yakin kamu masih mau bertemu dengan kekasihmu itu, kamu ingin nanti suatu saat kalian bisa bersama dan bahagia kan? maka dari itu. Tetap optimis dan percayalah kalau kita akan selamat!" ucap Sarah lagi membuat Tristan tertegun.


Karena sebenarnya dia malah melupakan hal itu, dan yang dia takutkan saat ini adalah kalau dia tidak bisa bertemu ayahnya lagi.


Dan tiba-tiba saja listrik mendadak padam, membuat Tristan dan Sarah sama-sama terkejut. Tapi kemudian lampu emergency pun menyala di salah satu sudut ruangan itu.


Saat Sarah melihat ke arah Tristan, Sarah bisa melihat kalau Tristan sangat cemas. Terlihat jelas dari pandangan matanya yang menatap nanar ke satu arah, dan kedua tangannya yang saling bertaut sambil mengepal di atas meja.

__ADS_1


Sarah tahu kalau hal ini mungkin adalah kali pertamanya Tristan berada dalam situasi seperti ini. Dia adalah anak orang kaya, yang selalu di berikan segala fasilitas, kenyamanan dan kepraktisan dalam hidupnya. Sarah yakin kalau ini pasti hal baru bagi Tristan, dan meskipun usianya sudah 29 tahun tapi semua orang pasti akan terkejut dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang menakutkan seperti yang sekarang ini sedang mereka berdua hadapi.


Sarah pun memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Tristan itu. Meskipun konsekuensinya ya akan di denda mungkin, karena itu jelas adalah kontak fisik.


"Tristan... jangan takut. Kita pasti selamat!" ucap Sarah pelan sambil menggenggam erat tangan Tristan.


Tristan pun melihat ke arah Sarah dan ke arah tangan Sarah yang menggenggam tangannya itu secara bergantian.


"Bunda Tiara pernah bilang, kekuatan manusia adalah doa. Jadi lebih baik kita berdoa sekarang!" ucap Sarah sambil menundukkan kepalanya dan menengadahkan tangannya sambil memanjatkan doa-doa untuk memohon keselamatan mereka pada Tuhan.


Hingga setengah jam kemudian, kru kapal mengetuk pintu ruangan kedap air itu.


Tok tok tok


"Tuan, nona!" seru kru kapal dari arah luar.


Sarah yang lebih dulu membuka matanya karena mereka berdua di dalam sedang berdoa pun segera bergegas ke arah pintu dan membuka kunci pintu itu.


"Bagaimana?" tanya Sarah.


"Badai sudah berlalu nona, kapten sudah berhasil membawa kita melewati badai. Sekarang tuan dan nona bisa kembali ke kamar kalian. Perjalanan kita masih tiga jam lagi nona!" jelas kru kapal itu.


"Alhamdulillah!" seru Sarah sangat senang dan lega.


Sarah lalu menghampiri Tristan.


"Kita selamat Tristan, ayo kembali ke kamar!" ucap Sarah yang langsung berbalik hendak pergi dari ruangan itu menuju kamar mereka di lantai tiga.


"Ingat ya, kamu berhutang dua kali kontak fisik padaku!" seru Tristan yang langsung berjalan melewati Sarah dan keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.


Sarah yang masih berdiri mematung di tempatnya langsung mengepalkan kedua tangannya di depan dada.


"Dasar batu.... aku kan melakukan itu untuk menenangkannya! ah.. tahu begitu aku biarkan saja dia ketakutan. Menyebalkan!" keluh Sarah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2