
Untung saja Sarah tidak sampai cidera, dia bersyukur perlahan rasa sakit di punggung dan pinggangnya perlahan mereda setelah di beri krim pereda nyeri dan sakit pada sendi.
"B4umu sekarang seperti nenek-nenek!" kata Tristan yang mencium aroma krim gosok itu di tubuh Sarah.
Untungnya juga krim itu bisa Sarah usapkan sendiri di sekitar punggung dan pinggangnya. Jadi dia tidak perlu bantuan Tristan.
"Ck..."
Sarah hanya berdecak kesal tanpa ada tambahan kata lain. Dia benar-benar malas berdebat dengan Tristan. Karena perutnya juga sudah mulai terasa lapar.
Sarah berdiri dari tempat tidur, namun saat dia berdiri pinggangnya malah terasa nyeri lagi.
"Aduh!"
Lirih Sarah yang memang merasa sakit di pinggangnya. Melihat hal itu, Tristan ikut berdiri dan kembali menuntun Sarah untuk duduk lagi.
"Sudah tahu masih sakit, malah gak bisa diam!" kata Tristan.
"Aku lapar, aku mau ke dapur membuatkan sarapan untuk kita!" jawab Sarah.
Tristan pun menghela nafas panjang.
"Ya sudah, biar aku saja yang membuat sarapan. Kamu diam di sini saja, biar kirim itu bekerja dengan baik. Berbaring saja!" kata Tristan yang langsung berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Sarah terus melihat Tristan, sejak dia berdiri sampai Tristan keluar kamar.
"Hah, dia bilang apa tadi? dia yang mau buat sarapan? apa aku sedang bermimpi?" gumam Sarah yang terus bertanya-tanya sendiri sambil menepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Perubahan sikap Tristan itu jelas sangat dirasakan oleh Sarah. Sekarang dia bisa mengerti satu hal, bahwa Tristan itu memang akan perduli pada seseorang yang memang ada hubungan dengannya. Sarah berpikir seperti itu karena dulu sebelum mereka menikah Tristan sangat acuh padanya, bahkan mungkin orang yang paling ingin Sarah celaka ya Tristan.
Tapi sikap Tristan berubah semenjak mereka menikah. Itu artinya Tristan bersikap pada seseorang itu ya, berdasarkan hubungan mereka.
__ADS_1
Sarah pernah melihat dia bersikap sangat galak dan dingin pada seorang anak yang yang kebetulan berpapasan dengannya di suatu tempat, tapi pada Kevin. Sikap Tristan begitu hangat dan lembut, perhatian dan begitu memanjakan keponakannya itu.
Sarah tersenyum karena ternyata Tristan memang adalah pria yang begitu menghargai sebuah hubungan. Tapi hanya dalam beberapa detik senyum Sarah itu menghilang.
"Sarah, apa yang kamu pikirkan. Kalau dia memang seorang yang seperti itu. Mana mungkin dia membuat surat perjanjian itu. Dasar bodohh!" gumam Sarah.
Sarah akhirnya harus menyadari kalau semua yang tadi dia pikirkan tentang Tristan hanya asumsinya saja. Kenyataanya tak akan seperti yang dia pikirkan itu.
Setelah beberapa saat, Tristan pun datang ke kamar. Saat itu Sarah sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Hei, wanita freak. Makanannya sudah siap. Ayo!" kata Tristan.
Sarah pun perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan ke arah Tristan. Punggungnya sudah lebih baik karena krim oles itu.
Begitu tiba di depan meja makan, Sarah di buat terpana dengan masakan yang ada di atas meja makan. Sosis dan daging panggang, juga ada salad sayurannya.
"Wah..!"
Ucap Sarah begitu saja, masalahnya Sarah tidak tahu kalau Tristan juga pandai memasak. Dia tidak akan menyangka kalau semua masakan di meja itu adalah masakan Tristan, seandainya saja mereka tidak berada di pulau.
Tapi karena mereka di pulau, dan tidak ada orang lain selain Sarah dan Tristan. Maka Sarah yakin, kalau semua hidangan di atas meja itu adalah hasil kerja keras Tristan.
"Ternyata kamu sangat pandai memasak, kenapa tidak jadi koki saja?" tanya Sarah berbasa-basi.
Sarah pun langsung menarik kursi dan duduk. Sarah menarik piringnya lebih dekat lagi ke hadapannya.
"Selamat makan!" kata Sarah yang langsung menyantap makanan buatan Tristan.
Sarah terlihat sangat puas dengan rasanya. Sarah bahkan makan tanpa jeda.
Tristan yang melihat cara Sarah menikmati masakan buatannya jadi tersenyum. Dia merasa senang, Sarah memakan masakannya dengan lahap. Sesekali Sarah bahkan makan salad sayuran yang Tristan buat juga. Terkadang mata Sarah sampai terpejam, saat makan daging panggang buatan Tristan.
__ADS_1
Ini adalah kali kedua Tristan memasak untuk orang lain. Kali pertama dia melakukannya untuk Shanum, namun karena Shanum seorang model dan designer maka cara makan Shanum tentu saja berbeda dengan Sarah.
Saat itu Shanum hanya makan beberapa potong saja. Tidak seperti Sarah yang sudah menghabiskan makanan dalam piringnya dalam sekejap.
"Wow, Tristan semuanya sangat enak. Aku rasa aku bisa melupakan semua rasa sakit ku dengan masakanmu. Terimakasih. Aku mandi dulu ya!" ucap Sarah yang begitu senang dengan masakan Tristan yang begitu lezat menurutnya.
Tristan hanya mengangguk sambil menghabiskan makanannya. Dia melihat ke arah piring Sarah yang memang sudah kosong.
'Dia begitu senang, padahal hanya sepiring sarapan saja!' gumam Tristan dalam hatinya.
Ada perasaan haru di dalam hati Tristan. Memberi kebahagiaan pada Sarah ternyata begitu sederhana sekali.
Setelah mandi Sarah pun kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan makan yang dia tinggalkan tadi. Tapi sampai di dapur, Tristan bahkan sudah membersihkan semuanya.
"Tristan, kamu...!"
"Sudah aku bereskan semuanya!"
"Wah!"
"Apanya yang wah! hari ini kru kapal datang. Sebaiknya kamu pikirkan apa saja yang kita butuhkan untuk tiga hari ke depan!" kata Tristan yang berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Sarah pun memeriksa kulkas dan lemari yang berisi stok makanan. Setelah itu dia memutuskan menunggu di depan bungalow. Karena melihat ada sebuah ranting di atas pasir. Sarah pun turun dan meraih ranting itu. Dia membuat sebuah bentuk lingkaran yang besar di atas pasir dengan ranting itu. Dan namanya yang di ukur sedemikian rupa.
Tak lama kemudian, Tristan keluar dengan baju yang sudah rapi dan penampilan yang tentu saja sangat tampan.
Ketika dia melihat apa yang dilakukan oleh Sarah dari atas bungalow. Senyumnya kembali mengembang. Sampai dia baru menyadari, setelah dia berdamai dengan Sarah dan tidak selalu membuat keributan dengan wanita itu. Juga mengenalnya lebih baik lagi, sebenarnya Tristan mulai banyak tersenyum.
Tristan berbalik dan menghela nafasnya panjang.
'Semoga liburan ini cepat berlalu. Jika tidak aku tidak tahu...!' batin Tristan yang sepertinya mulai mengerti kalau dekat dengan Sarah adalah hal yang berbahaya untuk hubungannya dengan Shanum.
__ADS_1
***
Bersambung...