
Malam harinya, Richard sudah sampai di basemen apartemennya. Dia sangat lelah hari ini, Tristan yang tidak datang ke kantor beberapa waktu ini membuatnya harus menangani banyak sekali pekerjaan.
Dia juga sebenarnya sedih dengan apa yang terjadi pada bosnya itu. Tapi jujur saja, Richard saat ini berada di pihak Sarah. Karena dia memang gemas pada bosnya itu. Sudah punya istri cantik, baik, tapi masih mengharapkan wanita yang jauh di sana, dan ternyata wanita itu malah menyakitinya sampai seperti itu. Menyesal juga tidak guna.
Bukan tidak perduli pada nasib Tristan, tapi Richard merasa kalau sekali-sekali bosnya memang harus merana agar dia paham, kalau seharusnya dia membuka matanya lebih baik lagi agar bisa melihat mana yang benar dan salah, mana yang seharusnya dia lakukan dan tidak. Mana yang menguntungkan dan akan merugikan dirinya sendiri.
Richard melangkah dengan langkah pelan, dia sungguh lelah. Punggungnya seperti di bebani dengan satu kwintal karung kapas. Benar-benar membuat Richard merasa sangat keberatan.
Saya dia tiba di depan unit apartemennya. Richard menghentikan langkahnya.
"Bos!" kata Richard yang melihat Tristan sedang duduk di depan pintu apartemen Richard.
Tristan duduk di lantai dan bersandar di pintu apartemen Richard. Sementara sebuah koper ada di sampingnya.
Merasa mendengar suara Richard, Tristan yang tadinya menunduk pun menoleh dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Richard.
Richard yang terkejut memang beberapa saat terdiam, tapi setelah dia melihat Tristan melihat ke arahnya. Richard langsung bergegas menghampiri Tristan dan membantunya untuk berdiri.
"Bos, ayo bangun. Lantainya dingin, apa yang bis lakukan di sini?" tanya Richard yang meskipun tadinya dia memihak Sarah. Namun melihat Tristan dengan wajahnya yang sayu dan keadaan nya seperti itu. Richard juga tidak tega.
"Richard, kamu pasti sudah tahu semuanya kan. Aku sekarang sudah tidak punya tempat tinggal, sampai aku dapat pekerjaan apa boleh aku menumpang di apartemen mu?" tanya Tristan dengan wajah yang begitu sulit di gambarkan, sulit untuk di deskripsi kan dengan kata-kata.
Melihat bosnya yang begitu angkuh dan arogan menjadi seperti itu. Richard pun menjadi ikut sedih.
"Bos, apartemen ini bisa kumiliki juga karena mu bos. Masuklah, ayo masuk!" kata Richard yang langsung membuka pintu apartemen nya dan menarik koper Tristan ke dalam apartemennya.
Richard mempersilahkan Tristan duduk di ruang televisi. Richard bahkan sudah memasukkan koper Tristan ke dalam kamar tamu. Biasanya adik Richard kalau liburan akan menginap di apartemen nya. Jadi dia punya dua kamar yang selalu rapi. Karena Richard memang suka kebersihan dan kerapian.
__ADS_1
"Bos, mau minum apa? bos sudah makan belum. Sebentar ya, aku akan masakkan sesuatu untuk bos!" kata Richard yang langsung bergegas menuju dapur.
Tristan hanya diam, hanya tempat ini yang terpikir oleh Tristan untuk di tuju. Jika rumah sudah tak bisa menerima kehadirannya. Maka Tristan bisa apa.
Sementara Richard yang sesekali melirik Tristan saat menyiapkan segelas jus. Merasa sangat sedih, wajah Tristan sangat sayu, seperti seseorang yang tak punya harapan. Richard baru kali ini melihat wajah Tristan yang seperti itu.
Richard membawakan minuman untuk Tristan, dia juga langsung memasak. Setelah itu mereka makan malam bersama. Saat makan malam, Tristan benar-benar tidak berselera. Bukan karena masakan Richard yang tidak enak, tapi karena memang tenggorokan nya menolak untuk makan lebih banyak.
"Bos, semua pasti akan baik-baik saja. Masih ada waktu kan?" tanya Richard yang berusaha membesarkan hati Tristan.
"Semua ini salahku Richard, aku pantas mendapatkan semua ini. Apa ada kabar tentang Sarah? apa dia sudah menandatangani surat perpisahan yang di siapkan ayah?" tanya Tristan pada Richard.
"Soal itu aku tidak tahu bos, apa bos mau aku menghubungi nona Sarah untuk menanyakannya?" tanya Richard pada Tristan.
"Tidak usah, ini sudah malam. Mungkin Sarah sudah tidur. Terimakasih untuk makan malamnya Richard. Aku akan istirahat, besok aku akan melamar kerja di cafe dekat apartemen ini, di sana aku lihat ada lowongan kerja tadi!" kata Tristan lalu pergi meninggalkan Richard.
'Hah, bos mau ngelamar kerja di cafe? jadi apa ya? pasti sulit mencari kerja tanpa nama belakang Hutama, ck... aku jadi dilema ini. Aku kesal sih sama bos. Tapi kalau sudah begini, aku kasihan juga!" gumam Richard sambil melanjutkan makan malamnya.
Kondisi kesehatan tuan Arya Hutama memburuk sejak semalam, Rendra sudah berusaha membujuk ayahnya untuk di bawa ke rumah sakit. Namun tuan Arya Hutama menolak dan terus menolak.
Tak punya pilihan lain, Rendra pun menghubungi Sarah yang memang menginap di rumah sewa sementara panti asuhan bunda Tiara.
Pagi-pagi sekali Sarah datang ke kediaman Hutama untuk melihat keadaan tuan Arya Hutama. Sebenarnya Sarah sudah bisa menduga ini, tuan Arya Hutama sangat sayang pada anak bungsunya. Sebelum menikah tuan Arya Hutama yang mengatakan itu pada Sarah. Wajar saja, setelah semua yang terjadi, tuan Arya Hutama menjadi sangat terbebani dan pasti semua itu menguras emosi dan pikirannya. Dia yang sudah sepuh, pasti sangat lelah menghadapi semua ini.
"Sarah, untunglah kamu cepat datang. Kondisi ayah semakin memburuk!" kata Rendra yang langsung menyambut Sarah yang baru masuk ke dalam rumah.
Sarah tak bicara, tapi dia langsung mengikuti langkah Rendra yang berjalan dengan cepat menuju ke kamar tuan Arya Hutama. Setelah kedatangan Sarah, akhirnya tuan Arya Hutama mau di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah memastikan tuan Arya Hutama kondisinya sudah stabil, Rendra pun mengajak Sarah untuk keluar karena memang tuan Arya Hutama sedang istirahat saat ini.
"Bagaimana dengan gugatannya Sarah, sudah di ajukan?" tanya Rendra yang begitu penasaran.
"Sudah kak, siang ini Andreas memintaku datang ke kantornya. Ternyata rumit sekali ya?" tanya Sarah sambil tersenyum lirih.
"Aku ingin mengatakan ini sejak kemarin Sarah, aku mengucapkan banyak terimakasih padamu, kamu sudah mau memenuhi permintaan Tristan untuk bercerai dengan cara seperti ini, mungkin kalau kamu mengikuti ayah, hari ini surat pisah kalian sudah keluar dari pengadilan!" kata Rendra terlihat sedih.
Sarah hanya diam, sungguh ini bukan hal yang mudah bagi Sarah.
"Kamu sudah sarapan belum?" tanya Rendra.
"Sudah kak, kak Rendra sendiri?" tanya Sarah.
"Aku belum sempat Sarah, mau menemaniku ke kafe dekat sini?" tanya Rendra dan Sarah pun menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju.
Rendra tersenyum dan mereka pun berjalan ke kafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.
Mereka duduk dan memesan makanan.
Tapi mereka tak menyangka kalau yang menyajikan makanan itu adalah...
"Silahkan!"
Sarah dan Rendra langsung menoleh ke arah pria yang mengantar makanan mereka. Sarah dan Rendra hafal betul dengan suara itu.
"Tristan!" ucap Rendra tak percaya adiknya menjadi pelayan kafe.
__ADS_1
***
Bersambung...