Tega

Tega
Bab 264


__ADS_3

Arumi lantas masuk ke dalam rumah, kebetulan dia bertemu dengan tuan Arya Hutama yang kebetulan akan keluar dan melihat apa yang terjadi.


"Ayah, ayah mau kemana? ini sudah malam. Sebaiknya ayah istirahat saja!" kata Arumi yang membantu tuan Arya Hutama yang akan pergi keluar.


"Suara klakson tadi membangunkan aku. Siapa yang malam-malam begini membuat keributan, kemana satpam dan penjaga rumah?" tanya tuan Arya Hutama.


"Maaf ya ayah, aku kurang cepat bangun. Jadi itu soang terus membunyikan klakson mobilnya berulang kali. Tapi semua sudah dalam kendali kok ayah, dia tidak akan membunyikan klakson lagi. Kalau itu masih dia lakukan, aku akan kempes kan ke empat ban mobilnya!" kata Arumi.


"Soang? soang apa? ada soang bisa bawa mobil?" tanya tuan Arya Hutama.


Maklum saja, sekarang ini masih pukul 02.30 dini hari. Jadi wajar saja kalau tuan Arya Hutama terkejut dan loading nya belum full.


Arumi terkekeh, dia menepuk bahu ayah mertuanya itu pelan. Untung saja pelan, kalau kencang, mungkin tuan Arya Hutama bisa langsung memecatnya sebagai menantu.


"Ayah bisa saja, maksudku bukan soang benar-benar soang ayah. Itu hanya sebuah istilah. Itu si Gisella Pricilla yang katanya model terkenal itu kehilangan kunci apartemen. Dia kemari karena katanya mas Rendra pasti masih punya kunci cadangannya!" kata Arumi.


Tapi mendengar perkataan Arumi yang terkesan biasa saja. Tuan Arya Hutama juga sedikit heran, masalahnya situasinya itu kan seorang mantan istri sedang datang ke rumah mantan suaminya, dan minta kunci apartemen yang pernah mereka tinggali bersama meskipun cuma beberapa hari saja.


Tapi Arumi menanggapi semua itu dengan sangat santai dan seperti tidak ada rasa kesal atau cemburu sama sekali pada situasi ini. Dan tuan Arya Hutama pun merasa kalau Rendra pasti masih punya kuncinya. Kalau istrinya cemburuan, pasti sudah akan terjadi masalah besar. Menyimpan barang yang menjadi kenangan pernikahannya yang lalu. Bukankah itu sama artinya dengan Rendra yang masih tak bisa melupakan masa lalu. Pasti kalau istrinya cemburuan, dia pasti berpikir seperti itu.


"Arumi, kamu tidak kesal?" tanya tuan Arya Hutama.


"Ayah, aku kesal sekali. Aku kesal sampai aku ingin makan orang. Tapi mau bagaimana lagi, daripada soang itu terus membuat keributan dan membangunkan para tetangga. Wah.. bisa p4nsos dia nanti. Enggak deh, mendingan aku minta kunci itu sama mas Rendra. Aku kasih ke soang itu, kelar deh urusan!" jelas Arumi panjang lebar.


Tuan Arya Hutama pun lantas mengangguk setuju.


"Iya kamu benar Arumi. Ya sudah, ayah kembali ke kamar ya. Arya percaya kamu bisa handle ini!" kata tuan Arya Hutama yang langsung di angguki oleh Arumi.


"Mau aku antar ayah?" tanya Arumi menawarkan bantuan kepada ayah mertuanya.

__ADS_1


"Tidak perlu nak, ayah bisa sendiri. Kamu semangat ya!" kata tuan Arya Hutama sambil berlalu.


Sambil berjalan kembali ke kamarnya, tuan Arya Hutama menggelengkan kepalanya beberapa kali. Menantu sulungnya itu memang lain daripada yang lain. Tapi dia senang, karena Arumi tidak cemburuan maka rumah tangga anak sulungnya itu tidak akan terjadi banyak cek cok yang tidak perlu nantinya.


Arumi lantas membuka pintu kamarnya. Rendra masih berdiri di jendela yang bentuknya seperti pintu kaca di sisi kanan tempat tidur king size mereka.


"Mas, ngapain di situ?" tanya Arumi.


"Ada apa?" tanya Rendra.


"Mas kalau penasaran kenapa gak keluar juga tadi? aku pikir mas akan keluar?" tanya Arumi memancing suaminya.


Rendra lantas menghampiri Arumi dan memeluk pinggangnya.


"Ada istriku yang luar biasa ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Iya kan?" tanya Rendra.


"Tidak juga, perempuan itu minta kunci apartemen lamanya. Dia bilang mas pasti masih simpan kuncinya, kunci miliknya hilang. Lagian ya haru gini, apartemen kok masih pakai kunci kuno, kan bisa pakai kunci otomatis tuh seperti apartemen Sarah dan Tristan!" kesal Arumi.


"Kamu cemburu ya?" tanya Rendra.


"Pakai di tanya lagi? lagian ya mas, kenapa gak kasih semua kuncinya sama dia. Kenapa harus simpan cadangannya?" tabya Arumi.


Dan apa yang di tanyakan Arumi itu memang membuat Rendra sadar, kalau apa yang dia lakukan itu mang salah. Sebenarnya sebelum bertemu dengan Arumi, bahkan saat Rendra sudah mengenal Sarah. Rendra masih menyimpan harapan untuk bisa kembali lagi dengan Gisella. Itulah kenapa selama ini dia tidak mempunyai kekasih atau menerima perjodohan dari sang ayah.


Tapi semua berbeda ketika Rendra bertemu dengan Arumi. Dia bisa melupakan Gisella dengan begitu mudah. Mungkin memang seperti itu, orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat. Itu mungkin memang benar.


"Maafkan aku, aku ambilkan kuncinya ya!" kata Rendra.


Dan mengetahui suaminya benar-benar masih menyimpan kunci itu membuat Arumi kesal. Setelah Rendra memberikan kunci itu pada Arumi. Arumi lantas melotot menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang.. kenapa melotot?" tanya Rendra.


"Masih ada barang lain tidak yang kamu simpan? kenang-kenangan kamu dengan soang betina itu, masih ada gak?" tanya Arumi yang lumayan ngegas seperti sebuah sepeda motor yang baru terisi full tangki bensinnya.


"Gak ada sayang.. gak ada lagi. Aku akan sudah kasih semua foto-foto itu sama kamu, yang kamu bakar beberapa bulan yang lalu!" kata Rendra.


"Baju couple?" tanya Arumi lagi dengan mode serius.


"Gak ada sayang!" jawab Rendra.


Sebab dulu Gisella memang tidak pernah mau pakai pakaian couple atau semacamnya. Menurut Gisella hal seperti itu norak.


"Benar sudah tidak ada? surat tanah? surat rumah?" tanya Arumi lagi.


"Tidak ada sayang, semua surat-surat dan barang berharga, rumah, apartemen, mobil sudah aku berikan pada Gisella. Aku hanya ambil hal asuh Kevin!" kata Rendra.


"Ya ampun, ya sudahlah! aku kasih dulu kuncinya sama dia!" kata Arumi yang tak mau memperpanjang masalah dengan Rendra gara-gara soang betina itu.


Arumi tidak mau sampai Gisella tahu, dia ribut dengan Rendra. Bisa besar kepala Gisella.


Setelah keluar dari rumah, Arumi lantas mendekati pagar. Dan Gisella yang tadinya berada di dalam mobil karena di luar memang sangat dingin. Langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri Arumi.


"Mana kuncinya? mas Rendra masih simpan kan?" tanya Gisella senang karena Rendra masih menyimpan barang-barang kenangannya dengan Gisella.


"Ini kuncinya, tapi jangan terlalu percaya diri ya! Mas Rendra tuh sudah bakar semua barang kenangannya sama kamu. Berhubung ini kunci dari baja dan gak bisa ikut hangus di bakar, jadinya masih di simpan. Tapi aku pertegas ya sama kamu. Jangan pernah berpikir, mas Rendra masih ingat sama kamu. Itu tidak mungkin!" kata Arumi mempertegas kata ' tidak mungkin' yang dia ucapkan. Dan itu berhasil membuat Sarah Gisella merasa mendidih.


'Kita lihat saja Arumi, kamu begitu sombong. Sampai kamu lupa, kamu itu baru di cintai mas Rendra beberapa bulan, sedangkan aku... dia bahkan masih terus diam-diam melihatku saat pementasan busana. Padahal itu sudah bertahun-tahun sejak kami berpisah. Kita lihat saja, aku atau kamu yang benar-benar ada di hati mas Rendra!' batin Gisella yang lantas pergi meninggalkan kediaman Hutama.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2