
Asisten Brian Kim keluar untuk menemui para penjaga keamanan yang masih berdebat dengan Hera.
"Maaf nona, kami tidak mengenalmu. Sebaiknya pergi dari sini. Kamu sudah membuat keributan!" kata petugas keamanan yang berjaga di depan tenda Brian Kim.
"Siapa yang membuat keributan. Lihat ya kalian, kalau aku sudah bertemu dengan Brian, kalian pasti akan di pecat!" kata Hera sombong.
"Nona Hera, silahkan masuk. Tuan Brian mempersilahkan anda untuk menemuinya!" kata Oliv.
Kedua penjaga keamanan itu saling pandang. Mereka tidak senang, tapi mau bagaimana lagi. Brian Kim mempersilahkan wanita yang menurut mereka sangat sombong itu masuk ke dalam tendanya.
Sementara Hera yang di persilahkan masuk langsung melotot dan berkacak pinggang saat melihat dua penjaga keamanan itu.
"Lihat saja, setelah ini kalian pasti akan di pecat!" gertak Hera yang merasa dirinya benar-benar menang dari dua penjaga keamanan itu.
Setelah Hera dan Oliv masuk ke dalam tenda. Dia penjaga keamanan itu lantang saling lirik dan terlihat cemas.
"Bagaimana kalau kita benar-benar di pecat?" tanya salah satunya.
"Ya sudah, kita jadi kuli bangunan lagi. Gak masalah kan? kita cuma menjalankan tugas. Selain artis dan tim tidak boleh masuk. Nona tadi kan bukan artis, bukan tim juga. Kita sudah benar. Sudah jangan cemas, ini mau tahun baru, banyak yang butuh kuli bangunan!" kata yang lain membuat penjaga keamanan yang satu lagi manggut-manggut paham.
Sementara itu di dalam tenda, Brian Kim sedang di make up untuk pengambilan gambar yang selanjutnya.
Kebetulan angin sedang kencang, jadi sangat bagus untuk scene yang selanjutnya.
Oliv dan Hera masuk ke dalam tenda, Hera terlihat sangat percaya diri. Dia melihat raungan itu dengan seksama.
'Wah, semuanya bawang mewah. Dia benar-benar orang kaya. Kalau masuk saja mudah begini, mendapatkannya pasti tidak susah kan?' tanya Hera dalam hatinya.
"Tuan, ini nona muda Ricardo!" kata Oliv pada Brian Kim.
'Tentu saja, tanpa ada embel-embel Ricardo di belakang namamu, kamu bukanlah apa-apa wanita licik!' pekik Brian Kim di dalam hatinya.
"Selamat malam nona Ricardo, ini sudah sangat malam bagi seorang wanita cantik sepertimu masih berkeliaran di luar. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Brian Kim tanpa melihat ke arah Hera karena dia sedang di make up.
Tapi sejujurnya, tidak di make up pun. Jerry Alando alias Brian Kim sangat malas untuk melihat ke arah Hera. Wanita yang sangat dia benci.
"Aku adalah penggemar beratmu Brian, aku kebetulan sedang berada di tempat ini...!"
__ADS_1
"Di dermaga? apa yang wanita cantik kaya raya sepertimu lakukan malam-malam begini di dermaga?" tanya Brian Kim menyela apa yang dikatakan oleh Hera.
Hera terkesiap, karena Brian Kim menyela apa yang dia katakan.
'Benar juga? apa yang akan di lakukan wanita cantik seperti ku di dermaga malam-malam begini?' batin Hera bingung sendiri.
Brian Kim terkekeh dalam hatinya melirik Hera yang terlihat bingung sendiri.
'Dasar wanita licik!' pekik Brian Kim alias Jerry Alando dalam hatinya.
"Em, maksud ku aku kebetulan saja lewat sini. Dan aku lihat ada keramaian, aku melihat poster mu di depan sangat besar. Aku pikir akan sangat menarik kalau kita bisa berkenalan bukan?" tanya Hera dengan memamerkan apa yang bisa dia pamerkan pada Brian Kim.
Tanpa perduli di sana masih ada make up artis Brian, dan juga Oliv.
'Astaga, perempuan ini sungguh murah4n!' batin Oliv.
'Berkenalan katamu? mengenalmu adalah hal terburuk dalam hidupku Hera' batin Brian Kim alias Jerry Alando kesal.
"Kamu tahu Brian Kim, aku adalah anak tunggal dari Ari Ricardo, pemilik perusahaan besar di kota ini. Aku bisa menjadikan mu, maksud ku merekomendasikan mu menjadi brand ambassador perusahaan papaku, kamu bisa tambah terkenal!" kata Hera membujuk Brian Kim.
"Benarkah? tapi apa kamu tahu berapa bayaran satu kontrak kerja sama denganku nona Ricardo?" tanya Brian Kim.
Rasanya Brian Kim alias Jerry Alando ingin sekali menampar wanita yang mendekatinya itu. Tapi dia hanya mengepalkan tangannya dan tersenyum pada Hera.
"Begitukah? kalau begitu buat janji temu dengan asisten ku nona Ricardo. Aku harus syuting, aku tidak bisa mengantarmu!" kata Brian Kim yang sudah sangat muak melihat Hera ada di sampingnya.
"Mari silahkan!" kata Oliv yang mengerti kalau Brian Kim sudah tidak mau bicara pada Hera lagi.
Dan itu benar, jika sebentar lagi saja Hera masih berada di sana. Maka Brian Kim alias Jerry Alando akan kehabisan kesabaran dan bisa saja memukul Hera. Padahal dia punya rencana yang luar biasa yang akan membuat Hera menyesal pernah menggunakan tubuh dan hartanya untuk merayu Alan saat masih berhubungan dengan Sarah dulu.
Setelah berada di luar tenda, Hera langsung bertanya pada Oliv.
"Bisa kamu atur besok malam aku bertemu dengan Brian kan?" tanya Hera.
"Aku minta maaf nona Ricardo. Tapi tuan sudah ada janji selama tiga hari ini. Hari ke empat, anda baru bisa membuat janji temu dengannya!" kata Oliv.
Tapi Hera pikir itu lama sekali, dia sudah menantang taruhan dengan teman-temannya hanya dalam waktu satu minggu. Tidak mungkin baru bertemu langsung memberi Brian obat dan tidur dengannya kan?
__ADS_1
"Usahakan...!"
"Maaf nona, silahkan!" sela Oliv mengusir Hera secara halus.
Setelah itu Oliv masuk ke dalam tenda.
"Ih, baru asisten saja sudah seperti itu. Lihat nanti kalau aku sudah jadi pacarnya Brian Kim. Aku tendang kamu asisten gak berkelas...!" gerutunya sambil berjalan ke mobilnya dan meninggalkan dermaga tersebut.
***
Keesokan harinya...
"Ayo dong, garis dua.. dua.. dua...!" gumam Arumi yang memegang dua buah test pack kehamilan di tangannya.
Pagi-pagi sekali Arumi sudah bangun, dan masuk ke dalam kamar mandi dengan dua buah test pack itu.
Mata Arumi terlihat berbinar, dengan mulut terus bergumam agar hasilnya garis dua. Dia benar-benar sudah tidak sabar di panggil bunda oleh Kevin.
"Ya, ayo... garis dua!"
Arumi terus bergumam. Tapi sayangnya...
"Hah, kenapa dua-duanya garis satu! ah... gagal lagi!" kata Arumi dengan mimik wajah kecewa.
Arumi lantas membuang dua test pack itu ke dalam kotak sampah.
"Ah, tidak bisa begini. Harus coba lagi ini!" kata Arumi yang lantas keluar dari kamar mandi.
Arumi berjalan menuju ke atas tempat tidur di mana Rendra masih terlelap.
Perlahan Arumi masuk ke dalam selimut dan mengganggu adik Rendra yang masih tertidur di sarangnya.
Rendra menggeli4t saat merasa ada yang membangunkan adiknya di bawah sana. Rendra tak bisa untuk tidak membuka matanya karena merasa adiknya sudah bangun.
"Sayang...!" panggil Rendra yang melihat Arumi tengah sibuk di bawah sana.
"Mas, kamu sudah bangun. Bagus... ayo lakukan lagi. Garisnya masih satu mas, kita harus terus berusaha sampai garisnya berubah menjadi dua!" kata Arumi yang sangat bersemangat. Dia bahkan sudah melepaskan piyama tidurnya.
__ADS_1
***
Bersambung...