
Kecepatan mobil Rendra tentu saja masih kalah di bandingkan dengan mobil Tristan. Harganya saja jauh berbeda, Rendra memang tidak suka hal-hal yang berlebihan dalam hidupnya. Pria tampan itu terbiasa dengan segala hal yang sederhana. Itulah salah satu alasan Gisella tidak bisa bertahan menjadi istri Rendra. Karena ekspektasi Gisella sungguh berbeda dengan kenyataan saat dia menikah dengan Rendra. Pria itu tidak bisa mengimbangi gaya hidup glamor Gisella meskipun sebenarnya Rendra mampu, bahkan jauh di atas kata mampu.
Namun sepertinya Rendra yang akan sampai terlebih dahulu di toko perhiasan. Sebab, Rendra bersama dengan Sarah yang sangat tenang bahkan tidak membuat suara sedikitpun dan hanya memejamkan sesekali matanya kalau Rendra melajukan mobilnya terlalu kencang sambil berdoa agar mereka baik-baik saja dan sampai di tujuan dengan selamat.
Tapi di mobil Tristan, konsentrasi Tristan benar-benar terganggu dengan jeritan tidak jelas Richard yang mengalahkan jeritan ARMY jika bertemu dengan tujuh bujang tampan aset negara Korea Selatan itu.
"Ah... Tuhan tolong hamba mu ini!" pekik Richard ketika Tristan menambah kecepatan mobilnya karena sudah akan tersalip oleh Rendra.
"Ya Tuhan, bos... tidakkkk!"
Tristan benar-benar merasa terganggu, hingga sesekali dia bahkan harus berteriak dan menoleh ke arah sampingnya itu untuk menyuruh Richard diam.
"Diam Richard, kenapa kamu berteriak seperti perempuan?" tanya Tristan kesal dengan nada suara yang meninggi.
Tapi bukannya diam, Richard malah semakin histeris. Bahkan hingga saat Rendra berhasil menyalip Tristan dan berada jauh di depannya. Saat Tristan menginjak pedal gas nya lagi, konsentrasinya lagi-lagi terganggu dengan suara Richard yang terus mengeluh.
"Bos, pelan-pelan oh em ji, cicilan apartemen ku masih beberapa tahun lagi bos. Siapa yang akan mengirim uang ke nenek ku di desa bos!"
Dan masih banyak lagi keluh kesah Richard yang membuat konsentrasi Tristan benar-benar terpecah. Hingga tak jarang Tristan tidak bisa mengendalikan laju mobilnya yang berkecepatan tinggi itu dengan stabil.
"Agkh... ada kucing bos!"
"Aghk.. ada guguk bos!"
"Awas bos burung lewat bos!"
"Diam Richard, ini jalan raya. Bukan kebun binatang. Yang benar saja, kenapa tidak sekalian kamu bilang ada gajah lewat!" kesal Tristan tanpa menoleh ke arah Richard.
Richard sampai bengong saat Tristan bicara seperti itu. Tapi memang dia melihat semua binatang itu, Richard benar-benar melihatnya di pinggir jalan. Dan kalau burung itu memang tadi terbang di atas jalan.
Sedangkan Tristan sudah tidak melihat mobil Rendra lagi. Tristan sampai memukul setirnya karena kesal.
Cittt
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Rendra dan Sarah yang sampai terlebih dulu di depan toko perhiasan. Senyuman tipis langsung terkembang di bibir Rendra. Sarah bisa melihat itu namun perasaannya masih tidak karuan, takut dan deg-degan karena tak pernah naik mobil dengan kecepatan seperti itu sebelumnya sampai usianya 26 tahun ini.
Sarah pun menghela nafasnya lega dan langsung melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai dan segera keluar dari dalam mobil.
Di luar Sarah langsung menghirup udara dalam-dalam. Melihat Sarah yang ketakutan, senyum Rendra lantas lenyap. Rendra juga langsung melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai lalu menghampiri Sarah.
"Sarah, astaga... maafkan aku. Kamu pasti sangat takut tadi. Ayo ke dalam, aku akan ambilkan minum untukmu!" ujar Rendra yang merasa sangat bersalah pada Sarah.
Rendra tanpa sadar merangkul Sarah untuk menuntunnya masuk ke dalam toko perhiasan. Sarah yang sedang berusaha menetralkan rasa takutnya bahkan tak menyadari kalau Rendra tengah merangkulnya.
Pintu kaca mewah toko perhiasan megah itu pun terbuka dengan sendirinya ketika Rendra dan Sarah melewati line detektor yang berada satu meter di depan pintu.
Seorang pelayan dengan sangat sopan mempersilahkan Rendra dan Sarah masuk ke dalam toko. Manager toko yang sudah di hubungi Rendra lantas menghampiri Rendra dan Sarah.
"Tuan muda Hutama, silahkan. Di sebelah sini!" ucap sang manager dengan ramah sambil menunjuk ke suatu arah dan mempersilahkan Rendra dan Sarah mengikutinya.
Rendra menuntun Sarah untuk duduk setelah mereka masuk ke sebuah ruangan yang cukup mewah dan sangat bersih juga rapi.
Rendra bahkan mengangkat cangkir teh untuk Sarah. Dan memberikannya pada Sarah.
"Ini minum dulu Sarah!"
"Terimakasih kak!"
Tristan dan Richard yang baru sampai langsung menemui resepsionis dan resepsionis langsung meminta pelayan untuk mengantarkan mereka ke ruangan yang tadi dimasuki oleh manager toko, Sarah dan juga Rendra.
Begitu pelayan membuat pintu, Tristan pun masuk ke dalam. Dan saat itu manager yang melihat perhatian Rendra pada Sarah. Jadi salah sangka, dan mengira kalau Rendra yang akan memilih cincin pernikahan dengan Sarah. Sebab dia hanya di beritahu kalau tuan muda Hutama yang akan datang bersama calon istrinya.
"Wah, tuan muda Hutama sangat perhatian ya pada calon istrinya!"
"Uhukk... uhukk...!"
Sarah langsung tersedak, dia baru menyadari kalau memang dia dan Rendra tadi terlalu dekat sejak masuk ke toko tadi.
__ADS_1
Prok prok prok
Rendra dan Sarah juga manager toko langsung melihat ke arah sumber suara itu. Suara tepuk tangan Tristan yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Rupanya drama skand4l adik ipar dan kakak ipar sudah di mulai bahkan sebelum ada pernikahan ya?" tanya Tristan yang langsung membuat Rendra berdiri karena marah.
Sarah yang tak ingin ada keributan juga berdiri, tapi dia menjelaskan kepada manager toko perhiasan itu.
"Maaf nyonya, sepertinya anda salah faham. Tuan muda Hutama yang akan menikah itu, yang itu...!" jelas Sarah sambil menunjuk ke arah Tristan.
"Dan yang ini tuan muda pertama keluarga Hutama. Calon kakak iparku!" jelas Sarah yang tak ingin ada kesalahpahaman yang bisa menciptakan keributan.
Manager toko perhiasan itu langsung membungkukkan badannya.
"Saya minta maaf, saya yang salah. Saya benar-benar minta maaf!" ucapnya yang merasa sangat tidak enak.
Tristan lalu duduk dengan santai di sofa yang berseberangan dengan Sarah dan Rendra.
"Tidak perlu di jelaskan, siapa yang akan tahu masa depan. Aku juga tidak keberatan kalau kakak yang menikahi wanita ini!" ucap Tristan seenak jidatnya.
Sarah sudah mulai memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Tidak henti-hentinya dalam satu hari Tristan membuat masalah untuknya. Dia tidak tahu kalau sudah menikah nanti seperti apa pria yang duduk sambil mengangkat kakinya dan meletakkan kakinya dikakinya yang satunya lagi.
"Tristan, cukup. Sekali lagi kamu bertingkah konyol begini. Aku benar-benar akan menelepon ayah!"
Rendra bukan sedang menggertak, kali ini dia benar-benar serius. Karena kesabaran nya sudah benar-benar habis.
Melihat wajah serius kakaknya, Tristan langsung mendengus kesal.
"Sudahlah, cepat keluarkan perhiasannya!" seru Tristan mengalihkan pembicaraan dan manager itu langsung mengangguk paham lalu mengeluarkan semua koleksi terbarunya.
***
Bersambung...
__ADS_1