Tega

Tega
Bab 270


__ADS_3

Sarah benar-benar menghubungi Tristan, saat Rendra masih ada di kantornya.


"Halo sayang!" sapa Tristan.


"Halo mas, Arumi dan Kevin akan menginap. Aku pikir mungkin akan lama, karena Arumi sedang kesal. Tolong atur perabotan di kamar Arumi ya mas, kita pakai saja dulu itu kamar yang untuk anak kita!" kata Sarah.


Rendra terlihat mendengarkan, tapi karena Tristan tidak menghidupkan speaker ponselnya, jadi Rendra tidak bisa mendengar dengan jelas. Hanya samar-samar saja.


"Baiklah sayang, aku akan minta Richard mengurus semuanya. Tempat tidur untuk Arumi dan Kevin, juga lemari dan meja rias untuknya!" kata Tristan yang membuat Rendra sedikit melongo.


"Terimakasih mas!"


"Sama-sama sayang!" sahut Tristan.


"Apa itu tadi, tempat tidur untuk Arumi? untuk apa?" tanya Rendra yang mendadak jadi blank karena kecemasannya memikirkan Arumi yang marah padanya.


"Istrimu sepertinya akan mengajak Kevin menginap cukup lama, begitu kata Sarah!" jawab Tristan.


Rendra kembali mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ya Tuhan, Arumi. Bagaimana ini, masalahnya tidak akan pernah selesai!" keluh Rendra.


"Makanya jadi suami yang tegas dong, istri kamu itu berbeda dengan wanita lain yang akan memberi kesempatan kedua. Sebaiknya kamu renungi kesalahanmu itu, tapi merenungnya jangan pergi ke klub malam ya!" kata Tristan.


"Apa kamu pikir aku dirimu?" tanya Rendra.


Tristan mengangkat bahunya sekilas.


"Entahlah, tapi awas kalau sampai kamu bertemu dengan mantanmu itu. Kak, mantan itu masa lalu, dan masa lalu mu itu sudah mengkhianati kamu dan menelantarkan Kevin. Dia memang mengandung Kevin selama 9 bulan, tapi dia meninggalkan Kevin selama 5 tahun. Pikirkan itu kalau dia menggertak mu dengan embel-embel seorang ibu yang melahirkan bertaruh nyawa. Katakan padanya, memang kalau tidak di lahir kan mau dia simpan di dalam perutnya selamanya. Katakan saja itu padanya, wanita itu menyebalkan sekali!" ujar Tristan yang merasa sangat kesal pada Gisella.


Rendra hanya diam, dia pikir memang benar. Hatinya yang terlalu mudah simpati dan kasihan pada orang lain, akan menjadi ancaman untuk rumah tangganya sendiri.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau pulang. Mau menemui istriku, makan makanan yang dia buat, lalu tidur sambil memeluknya. Kamu juga segera pulang saja, Kevin dan Arumi aman di apartemen ku!" kata Tristan yang lantas pergi dari ruangannya untuk menuju ke apartemennya.


Rendra juga berdiri dan meninggalkan ruangan Tristan. Tidak ada gunanya dia di sana. Tapi dia sedih mendengar apa yang dikatakan Tristan tadi. Seharusnya, saat ini dia juga bisa seperti Tristan kan, pulang ke rumah. Di sambut senyuman hangat dari Arumi, lalu tidak bisa tidur karena Arumi ingin sekali cepat menjadi seorang ibu. Rendra benar-benar menyesal menyimpan kunci apartemen lamanya dengan Gisella. Itulah awal masalah mereka.


Saat Tristan kembali ke rumah, semua barang-barang yang sudah di pesan oleh Richard sedang di rapikan di lantai dua.


Tapi Sarah masih memperhatikan tangga yang menuju lantai dua. Setelah memperhatikan tangga, Sarah lantas mendekati Arumi.


"Richard, tolong beli juga dispenser air juga rak serbaguna untuk gelas dan semacamnya!" kata Sarah pada Richard yang ada di dekat Arumi.


"Baik nyonya bos!" kata Richard.


"Sayang, semua sudah di beli?" tanya Tristan pada Sarah.


"Sudah mas, tinggal dispenser air. Supaya Arumi tidak sulit untuk naik turun tangga hanya untuk mengambil minum!" kata Sarah.


Tristan hanya mengangguk, dia juga tidak bertanya alasannya kenapa Sarah sampai seperhatian itu karena memang Arumi ada di sebelah mereka.


"Sayang, tumben. Biasanya Kevin kan nempelnya sama kamu. Itu, kenapa dia tidur di pangkuan Arumi. Apa dia sudah tahu masalah kedua orang tuanya?" tanya Tristan berbisik pada Sarah.


"Mas, untuk apa menjelaskan masalah seperti itu pada anak kecil. Tapi sejak Kevin tahu dia akan punya adik, dia terus menempel pada Arumi. Apa mas tidak perhatikan juga, Kevin tadi sudah panggil Arumi dengan sebutan bunda!" jelas Sarah.


"Benarkah?" tanya Tristan meyakinkan.


Dan Sarah pun langsung mengangguk membenarkan.


"Kalian itu bisik-bisik apasih? kalau mesra-mesraan di kamar sana deh, bikin keki saja!" keluh Arumi yang sejak tadi memperhatikan Sarah dan Tristan berbisik-bisik asik berdua. Padahal hampir saja Sarah mengatakan pada Tristan kalau Arumi hamil, tapi Arumi lebih dulu menyelanya.


Mendengar ucapan Arumi yang ketus, Sarah terkekeh. Sementara Tristan yang biasanya akan ngegas dan adu argumen dengan Arumi. Kali ini dia hanya diam, dia tahu Arumi sedang dalam mode yang tidak bisa di ajak bercanda. Sejak Sarah hamil, Tristan sepertinya sudah banyak membaca tentang buku-buku bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Hingga dia banyak merubah perilakunya demi menjaga wibawa nanti di depan anak laki-lakinya.


"Tadi sore suamimu ke kantor ku, dia terlihat frustasi. Apa aku boleh menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi menurut versi kak Rendra padamu Arumi?" tanya Tristan.

__ADS_1


Sarah pun mengharap Arumi mengangguk setuju. Hingga masalahnya dengan Rendra akan segera clear. Tapi sepertinya Arumi memang lebih sensitif. Arumi terlihat menghela nafas dan berkata.


"Tidak perlu, untuk saat ini aku lebih percaya pada mataku. Menyebalkan!" ujar Arumi.


Sarah dan Tristan pun tak bisa berbuat banyak. Karena memang ini masalah pribadi Arumi dan Rendra, masalah rumah tangga mereka.


Sementara itu di kediaman Hutama, makan malam berdua antara tuan Arya Hutama dan Rendra terasa sangat hampa.


Tuan Arya Hutama jadi tak berselera, meski makanan yang di siapkan oleh asisten rumah tangga di rumah itu tak kalah enaknya dengan makanan di restoran bintang lima.


"Aku lupa kalau besok tanggal merah, kalau tahu begitu. Mungkin aku juga akan menginap di apartemen Tristan. Tidak ada Arumi dan Kevin, rumah ini benar-benar sepi!" kata tuan Arya Hutama meletakkan sendoknya di atas piring.


Rendra masih diam, sejak tadi dia hanya mengaduk-aduk isi dan kuah sup di dalam mangkuk yang ada di hadapannya.


Tuan Arya Hutama yang baru menyadari hal itu merasa kalau ada yang tidak beres. Jadi dia mulai bertanya pada Rendra dengan pertanyaan sederhana.


"Berapa lama Arumi dan Kevin tinggal bersama Sarah, Ren?" tanya tuan Arya Hutama.


Dan benar saja, Rendra tidak menjawabnya. Rendra masih diam. Tuan Arya Hutama akhirnya tahu kalau sedang ada masalah antara anak dan menantu sulungnya.


"Rendra!"


"Rendra!"


"Iya ayah!" kata Rendra yang terkejut mendengar suara nada tinggi ayahnya.


"Katakan, ada apa sebenarnya? apa kamu dan Arumi bertengkar?" tanya tuan Arya Hutama.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2