
Arumi mengajak Rendra ke rumah sakit yang ada di dekat tempat mereka berada tadi. Tentu saja dengan bantuan aplikasi maps yang ada di ponsel Arumi.
Niat hati memang ingin lewat jalan itu agar tidak terlambat sampai di kantor. Tapi ujung-ujungnya terlambat juga. Karena Arumi harus menolong Rendra dan membawanya ke rumah sakit.
Setelah di periksa, ternyata memang Rendra mengalami luka dalam di perutnya. Akibat hantaman penjahat yang mau merampok Arumi tadi.
"Jadi seperti itulah hasil pemeriksaannya, tuan Rendra. Untuk sementara waktu tuan sebaiknya banyak beristirahat dan jangan melakukan gerakan-gerakan yang menekan perut atau sebagainya. Agar trauma perutnya lekas hilang!" jelas dokter cantik di depannya itu.
Arumi langsung menoleh ke arah Rendra yang wajahnya terlihat tidak senang dengan penjelasan sang dokter.
'Ya ampun, gara-gara mau nolongin aku tuan Rendra malah jadi sakit begini. Padahal gak di tolongin juga aku pasti bisa tuh ngalahin tuh para perampok. Tapi ya sudahlah!' batin Arumi.
"Kalau begitu kami permisi dokter. Terimakasih!" kata Arumi.
Arumi akan membantu Rendra berdiri, dia baru akan merangkul lengan Rendra. Tapi Rendra langsung mengangkat tangannya dan di perlihatkan pada Arumi. Itu tandanya Rendra tak mau Arumi membantunya.
Mengerti akan isyarat Rendra itu, Arumi pun menarik tangannya kembali.
"Aku tidak apa-apa nona Arumi. Aku bisa sendiri!" kata Rendra yang berjalan duluan keluar dari ruangan dokter cantik tersebut.
Setelah sampai di luar, Arumi pun bertanya pada Rendra.
"Apa anda yakin tuan, tadi kata dokter kan anda tidak boleh banyak melakukan gerakan yang menekan perut. Aku antar pulang saja ya?" tanya Arumi pada Rendra.
Namun Rendra malah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak nona Arumi, hari ini aku ada meeting penting dengan perusahaan Golden River. Aku harus ke kantor. Terimakasih sudah mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku pergi dulu!" kata Rendra yang pergi begitu saja meninggalkan Arumi.
Saat ke rumah sakit, Rendra memang ikut dengan mobil Arumi. Namun supir Rendra juga mengikuti mereka ke rumah sakit ini. Arumi lantas mengangkat bahunya sekilas, dia pikir kalau Rendra memang tidak mau di bantu ya sudah tidak apa-apa. Yang penting dia sudah menawarkan bantuan.
Tapi saat Arumi akan berjalan keluar, dokter di dalam ruangan itu kembali memanggil Arumi.
"Nona Arumi, ini resep obat untuk tuan Rendra. Kalian meninggalkannya di dalam tadi!" kata dokter cantik itu.
"Oh!" Arumi lantas menerima resep itu dari dokter cantik itu.
"Terimakasih dokter, iya tadi tuan Rendra terburu-buru mau meeting. Aku akan tebus obatnya dan antarkan padanya!" kata Arumi yang di balas anggukan dari dokter cantik itu.
Arumi pun lantas bergegas menuju apotek yang ada di rumah sakit itu. Dan menebus obat untuk Rendra. Setelah itu Arumi juga bergegas menyusul Rendra ke kantornya. Tapi sebelum itu Arumi menghubungi Bu Sisilia untuk meminta ijin.
__ADS_1
"Arumi, jangan keterlaluan ya? kamu pikir ini kantor ayahmu bisa seenaknya minta datang jam sepuluh?" tanya Bu Sisilia yang terdengar sangat kesal karena Arumi bilang akan datang ke kantor jam sepuluh.
"Ibu Sisilia cantik, aku tahu kantor itu memang bukan punya ayahku. Tapi kantor itu punya ayah pria yang sedang aku berusaha tolong ini!" bantah Arumi.
"Pria yang kamu tolong? siapa? kamu menolong siapa? tuan Tristan? memangnya dia kenapa? bukankah ada Sarah yang akan menolongnya? kamu ngomong apa sih Arumi?" tanya Bu Sisilia yang terdengar bingung.
"Ibu Sisilia cantik, memangnya anak tuan Arya Hutama cuma Tristan si manusia bat... eh maksudku, memang cuma suami Sarah saja. Kan ada satu lagi. Aku tuh lagi mau menyelamatkan nyawa tuan Rendra. Sudah ya Bu, aku ijin masuk jam sepuluh pokoknya. Bye...!"
"Arumi..!"
Arumi langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Bu Sisilia, ketika dia masih mendengar Bu Sisilia berusaha bicara padanya.
"Nah, beres. Kan harus cari dulu dimana perusahaan cabang kedua. Mending ijin sampai jam sepuluh kan!" gumam Arumi sambil menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit untuk mencari dimana perusahaan Rendra Hutama berada.
Beberapa saat kemudian, Rendra sudah berada di kantornya. Perusahaan Golden River itu ternyata adalah perusahaan milik tuan Ari Ricardo.
Untung saja saat Rendra datang, tuan Ari Ricardo juga baru sampai ke kantornya. Dengan dua orang wanita di belakangnya. Yang satu Rendra mengenalnya sebagai sekertaris tuan Ari Ricardo, Lusi. Dan yang satu lagi, Rendra merasa familiar, tapi lupa siapa wanita muda itu.
"Selamat pagi tuan Ricardo, maaf saya malah datang setelah anda tiba!" kata Rendra sopan sambil menjabat tangan tuan Ari Ricardo.
"Selamat pagi tuan Rendra, tidak apa-apa. Saya juga baru datang!" kata tuan Ari Ricardo santun.
"Pa!"
Tuan Ari yang mengerti maksud anak angkatnya tersebut langsung berkata.
"Oh iya tuan Rendra, ini kenalkan putri saya. Hera, dia yang akan mewakili saya menjalankan kerja sama kita yang baru ini!" kata tuan Ari Ricardo.
Hera lantas mengulurkan tangannya pada Rendra. Karena Rendra menganggap kalau niatnya memang ingin bekerja sama, Rendra pun dengan senang hati menyambut uluran tangan Hera.
Namun Rendra agak terkejut, karena saat berjabat tangan dengan Hera. Wanita itu malah mengusap telapak tangannya dengan ujung jari tengah Hera. Dengan cepat Rendra menarik jabatan tangannya dari Hera. Tapi karena tuan Ari Ricardo langsung mengajak Rendra ke ruang meeting. Rendra tak lagi memikirkan hal yang barusan terjadi.
Pembicaraan bisnis pun di mulai, selama meeting Hera memang tak bicara satu patah kata pun. Namun pandangannya terus mengarah ke arah Rendra. Membuat Rendra jadi risih di buatnya.
Kenapa Hera bisa ikut meeting bersama Ari Ricardo, jawabannya adalah karena Hera membujuk Fitria, mama angkatnya. Hera bilang dia ingin serius mempelajari pekerjaan di perusahaan. Dia janji akan bekerja dengan benar kalau dia di perbolehkan menangani kerja sama dengan perusahaan Rendra Hutama. Alhasil, karena Ari Ricardo mang sangat mencintai sang istri dan selalu menuruti permintaan Fitria. Hera pun bisa ikut dengan tuan Ari Ricardo saat bertemu dengan Rendra Hutama.
Perjanjian bisnis pun telah di tandatangani. Tuan Ari Ricardo dan Rendra pun ke ruangan Rendra untuk membahas masalah orang-orang yang akan di tunjuk selanjutnya sebagai pengawas proyek kerja sama mereka. Namun tiba-tiba saja tuan Ari Ricardo mendapatkan telepon dan harus pergi. Maka dia menyerahkan pembicaraan dengan Rendra itu pada Hera.
Di dalam ruangan CEO Rendra memberikan beberapa nama orang-orang kepercayaannya. Hera yang duduk agak jauh dari Rendra pun mendekat ke arah Rendra.
__ADS_1
Rendra yang menyadari gerak-gerik Hera yang mencurigakan itu langsung berdiri.
"Maaf nona Hera, sebaiknya kita fokus pada pekerjaan!" tegur Rendra yang jelas tidak senang dengan Hera yang begitu agresif.
Hera masih tidak menyerah, dia ikut berdiri dan mendekati Rendra. Bahkan merangkul lengan Rendra.
"Mas Rendra, panggil namaku saja ya. Supaya kita lebih dekat. Aku tahu mas Rendra duda, dengan satu anak yang tampan dan pintar.. aku juga single!" ucap Hera dengan wajah yang menggoda Rendra.
Arumi yang tengah berada di depan pintu ruangan CEO, karena mau mengantarkan obat Rendra. Merasa sangat familiar dengan suara wanita yang di buat-buat manja di dalam itu. Arumi pun mengintip sedikit dari celah pintu yang dia buka sedikit.
'Astaga, itu si wanita ular. Berani-beraninya dia menggoda tuan Rendra yang polos dan berhati bersih itu. Waduh gawat nih, Kevin bisa punya ibu tiri nenek sihir kalau begini. Tidak bisa di biarkan!' batin Arumi yang merasa kasihan pada Kevin kalau sampai Hera jadi ibu tirinya.
Selain kasihan pada Kevin, Arumi juga kasihan pada Sarah kalau harus iparan dengan wanita yang telah menusuknya dari belakang itu.
Arumi pun tiba-tiba saja punya sebuah ide. Arumi membuka pintu ruang kerja Rendra itu dengan cepat.
"Sayang...!" panggil Arumi pada Rendra.
Arumi langsung menghampiri Rendra dengan cepat, lalu berdiri di tengah Rendra dan Hera. Arumi bahkan menarik tangan Hera yang menempel di lengan Rendra. Arumi bahkan mendorong Hera hingga terhuyung menjauh ke arah belakang.
"Sayang, ini obat kamu ketinggalan. Ya ampun, pagi-pagi begini buaya betina kok sudah lepas sih. Meresahkan!" seru Arumi sengaja menyindir Hera.
Hera yang tak terima di dorong Arumi langsung kesal dan berdiri di depan Arumi.
"Heh, Arumi kamu apa-apaan sih?" tanya Hera.
"Kamu tuh yang apa-apaan. Ngapain kamu gandeng-gandeng calon suami orang?" tanya Arumi.
Mata Hera melotot mendengar pernyataan Arumi.
"Calon suami orang?" tanya Hera kesal dan bingung dalam waktu yang bersamaan.
"Iya, mas Rendra itu calon suami aku. Jangan macam-macam ya. Awas kalau kamu rayu dia kayak kamu rayu si Alan dudul itu. Aku bikin rempeyek kamu!" gertak Arumi.
Hera yang kesal tapi sadar diri kalau dia tak bisa melawan Arumi pun memilih segera meraih tasnya dan pergi dari ruangan itu sambil membanting pintu.
Setelah Hera pergi, Arumi dengan cepat menarik tangannya dan menjauh dari Rendra.
***
__ADS_1
Bersambung...