
"Mas, setidaknya berikan aku pekerjaan!" kata Gisella lagi yang memang sengaja ingin lebih dekat dengan Rendra.
Rendra yang sudah panik ingin mengejar Arumi lantas berkata tanpa pikir panjang.
"Besok saja kita bicarakan ini. Aku harus pergi!" kata Rendra yang langsung meninggalkan Gisella yang sedang makan.
Setelah Rendra pergi, Gisella mengambil uang yang di berikan oleh Rendra dan menyimpannya.
"Yes, berhasil. Aku tahu mas Rendra memang berhati lembut. Huh.. seandainya dia lebih modern dan apa-apa tidak melarang ku. Saat ini kami pasti masih bersama!" gumam Gisella.
Sementara Rendra saat keluar dari restoran sudah tidak menemukan Sarah dan Arumi lagi. Apalagi sebentar lagi dia ada meeting penting. Dia sangat cemas.
Berkali-kali dia menghubungi Arumi, namun nomer Arumi tidak aktif. Sepertinya Arumi sengaja menonaktifkan ponselnya karena kesal dan marah pada Rendra. Dia juga berkali-kali menghubungi Sarah. Tapi hasilnya sama saja. Sarah juga tidak mengangkat panggilan telepon dari Rendra.
Rendra pada akhirnya menghubungi Winda untuk mencancel semua jadwalnya hari ini dan menggantinya besok.
Rendra pikir pasti Arumi akan pergi ke apartemen Sarah. Jadi Rendra menyusul ke sana.
Padahal, Sarah dan Arumi sedang ada di warung pinggir jalan dekat dengan kafe itu.
Arumi bahkan memesan nasi goreng yang pedasnya luar biasa.
"Jangan terlalu pedas Arumi, kamu kan punya asam lambung!" kata Sarah memperingatkan Arumi.
"Ya sudah bang, kurangi levelnya dari 30 ke 29!" kata Arumi.
"Arumi, apa bedanya. Bang kasih level 15 saja!" kata Sarah.
"Baik, tunggu sebentar!" kata Abang penjual nasi goreng.
Setelah Abang penjual nasi goreng itu selesai mencatat pesanan. Arumi baru protes pada Sarah.
"Aih, Sarah. Apa rasanya kalau cabainya hanya 15? aku kesal sekali. Baru kali ini aku merasa kesal pada mas Rendra. Aku kesaaaaalllll!" kata Arumi yang membuat beberapa pengunjung di dekatnya menoleh dan menatap heran ke arah Arumi.
Sarah yang sadar kalau para pengunjung melihat ke arah Arumi hanya bisa tersenyum dan mengangguk pada para pengunjung yang melihat Arumi dengan tatapan heran.
"Kalau kamu kesal, kenapa kita tidak pulang saja. Kenapa malah mengajakku kemari?" tanya Sarah pelan sambil mengusap lengan Arumi pelan beberapa kali.
"Mau bagaimana lagi, tadi kan kamu mau makan nasi goreng seafood. Aku tak mungkin tidak mengabulkannya, aku tidak mau keponakanku ileran kan!" jawab Arumi.
Sarah terlihat menghela nafasnya panjang.
"Jangan negatif thinking dulu Arumi, siapa tahu ma Rendra hanya kebetulan ketemu saja dengan Gisella..!"
__ADS_1
"Jangan sebut nama wanita soang itu, aku kesal. Aku sudah bilang kan! dia itu soang betina, aku tahu suatu saat dia akan menyesali perbuatannya meninggalkan mas Rendra dan kembali mengejarnya, aku benar kan?" tanya Arumi.
Sarah masih diam dan menyimak.
"Tapi aku tidak berharap mas Rendra meladeninya!" keluh Arumi yang melihat kedua tangannya di atas meja dan menempelkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat tersebut.
"Arumi, kafe itu kan memang tidak jauh dari kantor mas Rendra. Mungkin memang hanya kebetulan saja, mas Rendra mau ngopi dan wanita itu sedang makan di sana!" jelas Sarah mengatakan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Aku tidak yakin, mas Rendra duduk dan bicara dengan akrab dengan wanita itu. Kamu tahu kafe itu bayar dulu baru minum atau makan kan? aku tidak lihat mas Rendra memegang minuman atau ada makanan di depannya!" keluh Arumi lagi.
Dan pada akhirnya Sarah menyerah, apa yang Arumi katakan memang persis dengan apa yang dia lihat juga. Sepertinya keduanya memang datang bersama, dan Rendra hanya menemani wanita itu sarapan pagi. Wajar saja Arumi kesal.
Begitu makanan mereka datang, Arumi benar-benar menghabiskan nasi goreng pedas itu dengan cepat. Sarah berusaha untuk makan, tapi seleranya hilang melihat sahabatnya sekaligus iparnya itu sedih dan marah dalam satu waktu.
Sementara itu Rendra sudah sampai di apartemen Tristan dan Sarah. Ketika dia membunyikan bel apartemen tersebut. Tika yang membuka pintu apartemen tersebut.
"Selamat pagi tuan!" sapa Tika dengan ramah dan sopan.
"Tika, Arumi ada di sini?" Tanya Rendra panik.
Tapi Tika langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuat Rendra bertambah panik.
"Tidak tuan, tadi pagi memang di sini. Tapi katanya mau ke kafe, sampai sekarang belum kembali!" kata Tika menjawab pertanyaan Rendra.
Rendra segera mengusap wajahnya kasar.
"Apa Sarah mengatakan dia akan kemana setelah ke kafe?" tanya Rendra lagi.
Dan lagi-lagi Tika menggelengkan kepalanya.
"Tidak tuan, sepertinya nyonya Sarah tidak bilang seperti itu pada nyonya Wilda, dia hanya bilang mau ke kafe dengan nyonya Arumi!" kata Tika lagi.
Rendra pun diam dan berpikir, kira-kira akan kemana istrinya itu. Hingga pada akhirnya Rendra pun memutuskan untuk pergi ke sekolah Kevin saja. Sebentar lagi Kevin pulang, pasti Arumi akan ada di sana untuk menjemput pulang Kevin. Saat itu Rendra berpikir akan menjelaskannya pada Arumi.
"Ya sudah, Tika! aku pergi saja!" kata Rendra dan langsung bergegas meninggalkan apartemen tersebut.
Padahal Arumi dan Sarah masih berada di warung pinggir jalan yang tadi. Tapi bukan di dalam warungnya mereka berada di luar warung tersebut menunggu jam pulang Kevin.
"Tidak mau menunggu di sekolah Kevin saja?" tanya Sarah.
"Tidak Sarah! wajahku ini? pasti ibu-ibu sosialita wali murid yang lain itu akan tahu wajahku ini kenapa, mereka akan bergosip. Dari sini ke sana kan hanya sepuluh menit, kita berangkat mepet waktu saja. Begitu kita datang, Kevin keluar dari sekolah. Tapi aku harus ajak Kevin kemana ya? mas Rendra pasti di rumah? aku tidak mau bertemu dengannya dulu!" kata Arumi yang terlihat begitu terbebani dengan masalah ini.
Sarah juga bisa mengerti kalau apa yang terjadi semalam dan pagi ini begitu menyita pikiran Arumi.
__ADS_1
"Kita ke taman hiburan saja bagaimana? Kevin pasti senang?" tanya Sarah memberikan solusi.
"Ide bagus!" jawab Arumi tapi ekspresi sangat datar.
Tapi entah kesialan beruntun atau bagaimana untuk Rendra. Ketika dia tiba di sekolah Kevin. Ternyata Gisella juga sudah ada di sana.
Rendra memutuskan untuk diam di mobil saja dan tak menghampiri Gisella yang ada di tempat tunggu wali murid. Tapi Gisella yang melihat kehadiran Rendra malah menghampiri mobil Rendra.
"Mas Rendra!" panggil Gisella saat menghampiri mobil Rendra.
"Gisella untuk apa kamu kemari?" tanya Rendra.
"Aku jemput anakku lah? untuk apa lagi?" tanya Gisella yang sengaja menjemput Kevin untuk menarik simpati Rendra.
Tapi sepertinya hal itu malah membuat masalah baru bagi Rendra. Di saat yang sama, Arumi dan Sarah juga sudah sampai di sana.
Sarah sampai mengusap wajahnya kasar melihat Gisella yang berada di dekat mobil Rendra.
'Mas, kamu ini benar-benar sengaja buat masalah atau bagaimana sih?' tanya Sarah dalam hati yang jadi ikutan kesal pada Rendra.
Arumi juga melihat itu, tapi dia berusaha untuk menahan diri. Ini di depan umum, dan di depan semua wali murid teman-teman Kevin. Arumi tidak mau sampai Kevin berada dalam masalah karena hal ini.
Arumi dengan santai keluar dari dalam mobil begitu melihat Kevin keluar gerbang.
"Kevin!" panggil Arumi pada Kevin yang membuat Rendra menoleh ke arah Arumi.
Tapi ponsel Rendra berdering. Dan itu dari Sarah. Dengan cepat Rendra menerima panggilan telepon dari Sarah itu.
"Halo!"
"Halo mas, diam di dalam mobil dan jangan keluar untuk menghampiri Arumi dan Kevin. Arumi sudah berusaha untuk menahan dirinya. Jangan sampai dia meledak di sana dan membuat malu Kevin nantinya!"
Tut Tut Tut
Setelah mengatakan itu Sarah memutuskan panggilan telepon.
Arumi membawa Kevin ke dalam mobilnya.
"Sudah kamu hubungi dia?" tanya Arumi pada Sarah dan Sarah pun langsung mengangguk.
"Kevin, mau ke taman hiburan sekarang?" tanya Arumi.
"Wah, mau. Ayo mama Sarah, Tante Arumi kita bersenang-senang!" kata Kevin yang tidak tahu sedang ada masalah besar antara mama sambung dan papanya.
__ADS_1
***
Bersambung...