
Leni benar-benar membutuhkan sebuah kursi untuknya duduk di belakang panggung. Dia sangat lemas, bagaimanapun banyak hal yang sudah dia dan Shanum korbankan di tanah air mereka demi bisa mendapatkan penghargaan di tempat ini.
Leni sangat berharap kalau Shanum di tempat acara, lebih baik kondisinya daripada dia di belakang panggung. Leni benar-benar sangat takut.
Masalahnya di dengar dari beberapa kru yang saling berbisik kalau nama-nama yang keluar sebagai pemenang sebenarnya bukan asli dari hasil penjurian. Namun para kru justru saling mengingatkan untuk tetap diam kalau mereka masih mau tetap bekerja. Karena orang yang menentukan hal itu terjadi, mampu berbuat apa saja pada mereka.
'Ya Tuhan, apa itu artinya semua ini karena ulah seseorang yang berkuasa? apa seharusnya memang kak Shanum yang menang? tapi bagaimanapun mungkin? semoga saja yang aku dengar tadi tidak benar!' batin Leni yang terus berdoa agar Shanum menjadi pemenang di sore hari itu.
Sementara acara penghargaan itu semakin sampai pada akhir acara. Nominasi terakhir, yang juga adalah nominasi puncak akan di bacakan oleh Miss Prancis, Maya Albert.
Para nominator langsung di minta panitia untuk duduk kembali di kursi nominasi. Ada empat orang, dan salah satunya tentu saja Shanum Margaretha.
Semua orang semakin gugup, karena Maya Albert tak langsung menyebutkan siapa pemenangnya. Lebih dulu wanita cantik itu menyampaikan speech dan sedikit motivasi untuk para model dan designer yang sedang berjuang membuktikan pada dunia kalau merekalah yang terbaik.
Begitu nominasi di bacakan, tepukan tangan yang begitu gemuruh mengiringi setiap nama yang di sebutkan. Shanum memejamkan matanya dan begitu berharap kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sepadan.
Bahkan demi hal ini dia sampai kehilangan orang yang sangat mencintai dan dia juga cintai selama bertahun-tahun. Demi ini, Shanum telah melepaskan Tristan. Dan berharap dengan ini, Tristan mau mengerti dan kembali lagi padanya suatu saat nanti.
Shanum semakin mengeratkan genggaman kedua tangannya sendiri di pangkuannya ketika Maya Albert berkata.
"And, Designer of the year. Goes to..."
(Dan, designer terbaik tahun ini. Jatuh pada...)
"Milain Rose!"
Seru Maya Albert, membuat nama yang di panggil langsung berdiri dan bersorak senang.
Namun hal itu juga membuat Shanum langsung menutup wajahnya tak percaya. Air mata bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya.
'Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin' batin Shanum shock.
Leni yang mendengar hal itu langsung berdiri dari duduknya dan berlari ke depan. Melihat dari sela-sela pinggir panggung. Dia bahkan sudah menangis ketika melihat Shanum terduduk lemas sambil menutup wajahnya. Sementara semua orang bertepuk tangan untuk sang pemenang.
"Kak Shanum!" lirih Leni yang sangat mengerti apa yang saat ini sedang Shanum rasakan.
__ADS_1
Dan dari bangku VVIP itu, pria yang sejak tadi terlihat senang melihat Shanum yang terus menerus kecewa karena hasil penghargaan itu tak sesuai apa yang Shanum harapkan. Semakin tersenyum puas begitu mendapati hasil akhir dari penghargaan tersebut. Melihat Shanum putus asa dan begitu kecewa membuat pria itu tersenyum puas dan bangga.
***
Sementara itu, di perusahaan Arya Hutama Grup. Arumi masih sibuk dengan segala pekerjaannya dan juga pekerjaan Tano yang diberikan Bu Sisilia padanya.
Sepanjang hari sambil mengerjakan tugas dia terus mengomel. Membuat salah seorang rekan kerja yang meja kerjanya tak jauh dari Arumi merasa sangat terganggu.
"Ya Tuhan, Arumi. Bisa tidak sih kamu diam? aku pusing?" keluh Erika yang sejak tadi kehilangan konsentrasi akibat omelan Arumi tentang Tano.
"Kalau pusing ya minum obat, repot!" balas Arumi yang membuat Erika rasanya tambah naik tensi darahnya.
"Ih, Arumi. Orang serius juga. Aku tuh deadline hari ini. Gara-gara kamu ngomel terus, aku malah salah ketik. Omelan kamu nyisip di ketikan aku. Plis deh Arumi, mohon pengertiannya!" kata Erika yang benar-benar butuh ketenangan untuk menyelesaikan deadline nya hari ini.
Mendengar Erika bicara begitu, Arumi lantas menghela nafas dan membuangnya kasar.
"Ya sudah, aku diem. Baik kan aku?" tanya Arumi yang membuat Erika memijat kepalanya bingung.
'Haih, aku tak habis pikir. Bagaimana Sarah bisa bersahabat dengan Arumi. Kalau lukisan, Arumi ini benar-benar lukisan abstrak. Ya sudahlah, yang penting dia diam!' batin Erika benar-benar lelah dengan tingkah Arumi.
Beberapa saat berlalu, dan semua orang satu persatu sudah pulang karena sudah waktunya pulang kerja. Bagi siapa saja yang deadline pekerjaan nya sudah selesai, tentu saja Bu Sisilia memperbolehkan mereka pulang. Bahkan Erika pun sudah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah pulang.
Arumi masih menggaruk kepalanya karena ternyata dia salah menyisipkan angka di laporan milik Tano. Yang dia masukkan malah angka yang seharusnya untuk laporannya.
Arumi menggaruk kepalanya dan membuat rambutnya acak-acakan.
"Akhggg... aku pusing. Ini angka-angka mau ngajakin ribut apa gimana sih? kenapa dari tadi kebalik terus. Semua ini gara-gara si Tano nih. Awas aja dia masuk nanti, aku bikin dendeng cabe ijo dia. Aduh... mana laper lagi!" gerutu Arumi sambil terus berusaha mengerjakan pekerjaannya.
Tanpa dia sadari dari dekat pintu, seseorang tengah melihatnya bersama dengan Bu Sisilia.
"Ini ruangan divisi keuangan, dan itu Arumi tuan Rendra. Mohon maaf kalau saya boleh tahu, apa Arumi telah membuat kesalahan?"
Tanya bu Sisilia yang khawatir pada salah satu bawahannya tersebut. Meskipun Arumi memang suka buat masalah, dan suka berdebat dengan Bu Sisilia. Tapi Arumi adalah salah satu karyawan yang rajin, jujur dan selalu membawa keceriaan bagi tekan kerjanya yang lain.
Ketika Bu Sisilia mengetahui tuan Rendra mencari Arumi. Bu Sisilia benar-benar takut kalau Arumi dengan sikapnya yang bar-bar dan tidak tahu aturan, telah menyinggung putra sulung pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu.
__ADS_1
Namun Rendra langsung tersenyum pada Bu Sisilia, dan lanjut berkata.
"Tidak Bu Sisilia, dia tidak membuat masalah. Bolehkah dia saya ajak pulang sekarang, saya ada sedikit urusan dengan Arumi?" tanya Rendra sopan pada Bu Sisilia.
Bu Sisilia agak terkejut, dia bahkan terbengong sebentar. Sebelum menjawab pertanyaan Rendra.
"Oh, iya tuan Rendra. Tentu saja, saya akan panggilkan dia...!"
Namun belum selesai bu Sisilia bicara. Rendra mengangkat tangannya menahan Bu Sisilia.
"Tidak usah, saya saja. Terimakasih bantuannya Bu Sisilia. Bu Sisilia bisa kembali ke ruangan anda!" kata Rendra sangat ramah.
Bu Sisilia pun mengangguk paham, tapi dia menoleh sekilas dulu ke arah Arumi sebelah. pergi.
'Semoga kamu tidak membuat masalah Arumi!' batin Bu Sisilia berharap Arumi baik-baik saja.
Sewaktu Arumi masih sibuk mengacak rambutnya karena pusing. Rendra datang di belakang Arumi, dia sedikit terkekeh pelan melihat keadaan Arumi saat ini yang berantakan.
"Nona Arumi!"
Mendengar suara yang memanggilnya, wajah Arumi langsung menjadi horor. Arumi belum berbalik, tapi matanya sudah melotot dan bergerak ke kanan dan ke kiri.
'Ah, ini pasti halu nih. Aku dengar suara tuan Rendra. Agkhhh... halu ni pasti!' jerit Arumi terkejut dalam hatinya.
Tak kunjung di respon, Rendra pun memanggil Arumi lagi.
"Nona Arumi!" kata Rendra lebih meninggikan nada suaranya.
Arumi langsung berbalik bersama kursinya, begitu dia melihat Rendra di depannya. Arumi yang terkejut bahkan terjengkang ke belakang dengan kursinya.
"Aduh!"
***
Bersambung...
__ADS_1