Tega

Tega
Bab 240


__ADS_3

Hamdan sangat senang karena Renata mau menikah dengannya dalam waktu dekat. Hamdan pun langsung setuju dan segera menyiapkan segalanya.


Sementara Renata sudah berganti pakaian dan kembali ke ruangan sekertaris.


"Mbak Muna, ada yang bisa aku bantu?" tanya Renata.


"Aduh Renata, jangan gitu dong. Kan kamu sebentar lagi mau jadi nyonya Hamdan, jangan minta kerjaan sama aku, bisa di tegur aku sama pak Hamdan nanti!" kata Muna yang tak enak kalau membagi pekerjaannya dengan Renata.


Berita tentang Renata yang akan menikah dengan Hamdan sudah tersebar. Itu semua karena pak Hamdan yang mengumumkannya sendiri. Memangnya siapa yang tidak bangga, jika seorang duda beranak tiga bisa menikahi seorang wanita single yang cantik dan pintar seperti Renata. Lulusan luar negeri, dengan gaya khas sosialita kelas atas. Pakaian dan apa yang dia kenakan selalu tampak modis dan bermerek. Gayanya juga menawan, itulah kenapa selama delapan tahun Nathan, pejabat itu tak mau melepaskan Renata sebelum masalah yang di timbulkan oleh Chandra Wijaya.


Renata pun akhirnya jadi sangat bosan karena baik itu Alin atau Muna tak ada yang mau membagi pekerjaannya dengan Renata. Padahal, biasanya Renata akan banyak mendapatkan pekerjaan dari Hamdan agar bisa terus mondar-mandir ke ruangan Hamdan.


Merasa bosan, Renata pun pergi ke ruangan Hamdan lagi.


Sebelum membuka pintu, Renata mendengar Hamdan berbicara dengan nada keras. Tapi dia tidak dengar satu lagi lawan bicaranya. Jadi Renata menyimpulkan kalau Hamdan pasti sedang bicara di telepon dengan seseorang.


"Kamu keterlaluan, kita sudah pisah lama sekali. Jangan usik kehidupan ku lagi, setelah bercerai kamu bahkan sudah mendapatkan 60 persen harta gono-gini. Apa itu tidak cukup?"


Renata masih terus mendengarkan. Dia tidak berniat membuka pintu dengan lebar sebelum percakapan Hamdan dengan seseorang yang Renata pikir itu pasti mantan istrinya. Karena mereka membicarakan tentang harta gono-gini.


"Tidak, kalaupun aku menikah lagi. Anak-anak tetap bersamaku!"


"Jangan keterlaluan kamu Wulan, memangnya kamu akan menghidupi anak-anak dengan apa? aku sudah memberimu tempat usaha, kamu menjualnya. Aku membelikan apartemen, kamu juga menjualnya. Uangku juga bukan ada di pohon yang tinggal petik saja, aku seharusnya tidak lagi bertanggung jawab padamu. Kalau bukan Rani yang memohon padaku!"


Renata manggut-manggut seperti burung pelatuk di luar pintu.


'Jadi wanita penyihir itu masih bergantung pada pak Hamdan, dia menjadikan anaknya itu sebagai alat untuk tetap mengikat pak Hamdan. Astaga, dia itu ibu kandungnya Rani bukan sih? tega sekali pada anak sendiri, di h4sut jadi anak nakal dan tak beretika begitu!' batin Renata yang pada akhirnya malah jadi kasihan pada Rani.


"Tidak bisa, aku tetap akan menikah dengan Renata!"

__ADS_1


"Bunnuh diri? tidak mungkin. Rani tidak akan melakukan itu!"


"Halo... Wulan... Wulan...!"


Mendengar kata bunnuh diri dan mendengar suara Hamdan yang panik. Renata lantas membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan Hamdan.


"Pak Hamdan, siapa yang bunnuh diri?" tanya Renata penasaran.


Hamdan langsung berbalik begitu mendengar suara Renata.


Sebelum menjawab pertanyaan Renata, pria tua dengan kerutan halus yang mulia terlihat di keningnya itu pun menghela nafas sangat berat. Dia merasa panik, tapi tetap tidak mau menunjukkannya pada Renata.


"Kamu mendengarnya Renata? sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Hamdan mengalihkan pembicaraan.


"Jangan basa-basi padaku pak Hamdan. Katakan siapa yang mau bunnuh diri dan kenapa?" tanya Renata penasaran.


"Ya ampun, aku pikir tidak akan ada anak usia belasan tahun seperti Rani itu yang akan mengakhiri hidupnya hanya karena tak ingin ayahnya menikah lagi. Pak Hamdan, bukan aku menjelekkan siapapun di depanmu. Aku juga dulu labil, aku selalu ikut apa yang teman-temanku katakan. Tapi sesedih apapun aku, sesulit apapun jalanku mendapatkan keinginan ku. Atau bahkan aku di paksa melayani.. ck.. ya seperti itu, sesulit itu saja, aku masih tidak kepikiran mengakhiri hidupku. Aku pikir ide itu pasti datangnya bukan dari Rani!" kata Renata yang menduga ibunya Rani, Wulan. Yang punya ide aneh itu untuk menggagalkan pernikahan Renata dan Hamdan.


"Jadi menurut mu...!"


"Aku tahu pak Hamdan juga tahu siapa orangnya, ya sudah. Biar aku yang selesaikan. Dimana Rani sekolah?" tanya Renata.


"Kamu mau ke sekolah Rani? tapi kata Wulan, Rani ada di rumahnya!" jawab Hamdan.


"Iya nanti aku akan ke rumah mantan istrimu itu, tapi sekarang beritahu aku dulu, dimana sekolah Rani. Oh ya, dia sudah punya pacar belum?" tanya Renata lagi pada Hamdan.


Mendengar pertanyaan yang di ajukan Renata sambil sedikit mengerlingkan matanya pada Hamdan. Hamdan pun menjadi gugup.


"Pa.. pacar?" tanya Hamdan balik.

__ADS_1


Renata lantas memutar bola matanya malas.


"Ya ampun, kamu tidak tahu anakmu itu sudah punya pacar belum. Anak abege labil seperti dia pasti lagi masa suka-sukaan sama cowok populer di sekolahnya atau bahkan tetangga kalian sendiri!" kata Renata yang berpengalaman soal hal itu.


"Aku tidak tahu, Rani tidak pernah membahas itu denganku!" jawab Hamdan agak canggung.


"Mungkin kamu yang tidak pernah bertanya, Ya sudah. Karena aku juga tidak punya pekerjaan. Aku yang akan mengurus semuanya. Pak Hamdan, kamu jangan rindu aku ya!" kata Renata sambil mengedipkan sebelah matanya pada Hamdan.


Hamdan yang tadinya panik bukan main memikirkan gertakan Wulan dan Rani akhirnya bisa tersenyum karena tingkah Renata itu. Itulah kenapa dia tidak akan goyah lagi untuk mempersunting wanita yang membuatnya jatuh cinta justru saat wanita itu berciuman dengan Nathan di kantor Chandra Wijaya beberapa tahun yang lalu.


***


Sementara itu setelah sarapan pagi, Sarah juga mengajak Tika untuk berbelanja di sebuah minimarket dekat dengan apartemen.


"Nyonya, cari apa tadi asparuga... apa tadi nyonya, namanya susah sekali di sebutkan?" tanya Tika pada Sarah yang memintanya mencari sesuatu yang sedang ingin dia makan.


"Asparagus!" jawab Sarah.


Tika lantas mengangguk paham.


"Tapi nyonya, sepertinya tidak ada di tempat ini. Aku sudah bolak-balik di area sayuran ini. Mungkin kita harus cari di pasar nyonya!" kata Tika yang memang biasanya belanja di pasar.


"Tapi aku pikir tidak akan ada Tika, kita ke supermarket yang di dekat perkantoran saja yuk!" ajak Sarah pada Tika.


"Nyonya, sepertinya anak nyonya ini akan banyak mirip tuan Tristan ya, maunya aneh-aneh!" kata Tika yang berpikir anak yang di kandung Sarah itu akan banyak mewarisi sifat sang ayah. Karena Sarah, memang tak pernah aneh-aneh alias banyak mau. Berbeda dengan Tristan yang memang antimainstream.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2