
Arumi langsung menjaga jarak satu meter lebih dua puluh centimeter dengan Rendra. Arumi langsung meletakkan obat Rendra di atas meja lalu berkata sambil ragu-ragu mau melihat wajah Rendra atau tidak.
Arumi sadar dirinya lancang, dan mungkin saja Rendra akan marah dengan apa yang dia lakukan tadi. Mengaku-ngaku sebagai calon istri Rendra di depan Hera. Tapi Arumi memang sudah sangat kesal pada Hera. Kesalnya sudah sampai di ubun-ubun. Kesal sekali, apalagi dia tadi sempat mendengar Hera merayu Rendra. Arumi mana terima kalau Kevin punya mama tiri wanita ular seperti itu. Apalagi Hera kan sudah bekasnya Alan, tidak tahu juga kan Hera bekas siapa lagi. Arumi tidak senang saja, orang sebaik Rendra termakan rayuan wanita seperti Hera.
"Tu... tuan Rendra. Aku kesini mau antar obatmu. Ta.. tadi ketinggalan...!"
"Kenapa jadi gagap begitu? beberapa detik yang lalu kamu lancar sekali mengatakan pada putrinya tuan Ari Ricardo itu kalau kamu calon istriku?" tanya Rendra terdengar begitu datar di telinga Arumi.
'Aih, kenapa malah ngomong gitu sih. Aduh, lihat mukanya enggak ya, kalau aku lihat terus dia lagi melotot, bisa copot jantung aku kan? ck... kabur aja deh!' batin Arumi.
Dan tanpa melihat wajah Rendra, Arumi langsung berlari keluar dari ruangan Rendra itu. Tanpa sepatah katapun lagi.
Arumi mengira Rendra marah karena dirinya mengaku-ngaku sebagai calon istri Rendra. Padahal kenyataannya tidak, Rendra tidak marah. Dia malah terkekeh melihat Arumi yang kabur begitu saja dari ruangannya.
Rendra memandang obat yang ada di atas meja. Dia kembali tersenyum. Karena sebenarnya Rendra ingin berterima kasih pada Arumi. Dirinya tadi benar-benar tidak senang dengan apa yang dilakukan Hera. Hanya saja, Rendra bingung untuk menolaknya dengan cara bagaimana.
Dia tidak enak kalau langsung menepis tangan Hera. Atau langsung to the point mengatakan tak suka pada Hera. Karena mengingat kebaikan tuan Ari Ricardo selama ini padanya dan perusahaannya. Tapi Rendra memang tidak suka pada wanita model Hera yang terlalu agresif begitu.
Rendra begitu lega ketika Arumi bisa membuat Hera tidak akan pernah lagi menggangu nya, karena Arumi sudah mengatakan kalau dirinya adalah calon istri Rendra.
Sementara itu Arumi langsung berlari ke arah mobilnya begitu dia keluar dari lift yang ada di basemen kantor Rendra.
Arumi langsung masuk ke dalam mobil, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Astaga, aku harus ceritakan ini pada Sarah. Setidaknya dia akan menjelaskan kesalahpahaman antara aku dan tuan Rendra. Bisa tak punya muka lagi aku ketemu tuan Rendra. Ya ampun, ini gara-gara buaya betina itu lepas pagi-pagi dari kandangnya. Aku kan jadi gemes, ingat apa yang dia lakukan dulu pada Sarah saja sudah buat aku ingin bikin dia jadi rempeyek kalau saja dia bukan anak angkat tuan Ari Ricardo, huh... sebal!" gerutu Arumi yang langsung menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan perusahaan Rendra.
***
Sementara itu di apartemen Tristan, Sarah sedang mencari barang-barang milik Shanum yang sudah di singkirkan oleh ayah mertuanya dari sana.
__ADS_1
Sarah benar-benar merasakan perubahan besar pada sikap Tristan padanya. Tapi Sarah takut kalau perasaan itu karena Tristan lupa ingatan dan merasa Sarah adalah istrinya, jadi dia mencintai istrinya. Karena memang seharusnya seorang suami mencintai istrinya.
Jadi Sarah tidak mau lagi membuat Tristan semakin salah paham padanya. Dia pun memutuskan untuk mencoba mengembalikan ingatan Tristan. Menurut film dan novel yang dia baca, seseorang yang amnesia akan bisa mengingat masa lalunya lagi ketika dia di ingatkan pada seseorang yang sangat dia cintai. Dan setahu Sarah, Tristan sangat mencintai Shanum. Maka Sarah memutuskan untuk mencari foto atau apapun itu barang-barang Shanum di gudang apartemen untuk membantu Tristan ingat pada masa lalunya.
Tapi sudah lima belas menit Sarah mencari beberapa kotak dan kardus yang ada di tempat itu. Dia sama sekali tidak bisa menemukan benda apapun yang berhubungan dengan Shanum.
"Huh, pengap sekali di sini. Lagipula kenapa gudang tidak di pasang pendingin udara sih!" keluh Sarah yang sudah mulai merasa pengap di dalam gudang.
Karena memang hanya ada satu lubang udara yang mengarah keluar dinding apartemen. Selain itu tidak ada lagi, sedangkan pintu gudang dia tutup agar Tristan tidak mencurigai apa yang sedang dia lakukan di dalam gudang sejak tadi.
"Ayah mertua benar-benar hebat, satu pun barang tidak tersisa. Luar biasa!" gumam Sarah.
Entah Sarah sedang memuji ayah mertuanya itu, atau dia malah sedang mengeluh. Karena ayah mertuanya membuatnya tak bisa menemukan satu pun barang-barang yang berhubungan dengan Shanum.
Tapi bukan Sarah namanya kalau menyerah begitu saja. Dia masih lanjut mencari lagi, karena memang masih ada beberapa kardus yang belum dia buka dan lihat apa isinya.
Namun ketika Sarah masih sibuk mencari, tiba-tiba dia mendengar suara pintu gudang terbuka.
"Sarah, kamu di dalam?" tanya Tristan yang masuk ke dalam gudang apartemennya.
Sarah langsung menutup kardus yang dia buka. Karena memang isinya hanya beberapa peralatan dapur yang jarang terpakai.
"Iya Tristan, ada apa?" tanya Sarah.
Mendengar suara Sarah, Tristan langsung menghampiri Sarah ke arah sumber suara Sarah tadi.
"Kamu sedang apa?" tanya Tristan yang bertanya-tanya apa yang sedang Sarah lakukan di gudang seorang diri.
"Oh, ini aku sedang mencari sesuatu!" jawab Sarah cepat.
__ADS_1
"Sudah kamu temukan?" tanya Tristan lagi.
Sarah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sayangnya aku tidak dapat menemukannya. Ada apa?" tanya Sarah.
"Aku ingin mengajakmu menonton film, sekarang kan kita masih di suruh cuti oleh ayah. Jadi aku pikir, aku mau menghabiskan waktu dengan mu selama kita cuti. Bagaimana? kamu mau kan?" tanya Tristan sambil tersenyum.
Sarah merasa hatinya benar-benar hangat melihat senyum Tristan yang terlihat begitu tulus itu. Karena memang Tristan melakukan semua itu dengan tulus. Dia ingin memperbaiki segalanya.
Bukankah ada orang bijak yang berkata. Kalau apapun yang di lakukan dengan hati yang tulus, hal itu akan sampai ke hari juga.
Itulah yang Sarah rasakan, tapi semakin dia merasa Tristan sangat tulus. Semakin dia takut, karena perasaan itu mungkin bukan untuknya.
"Sarah!" panggil Tristan karena tak juga di respon oleh Sarah apa yang dia katakan tadi.
"Oh... iya. Aku akan ganti baju dulu!" kata Sarah yang di angguki cepat oleh Tristan.
Mereka berdua keluar dari dalam gudang apartemen itu. Sarah berganti baju, dan Tristan menungguinya di ruang tamu. Setelah Sarah selesai berganti pakaian, mereka keluar apartemen bersama.
Setelah pintu apartemen terkunci, tiba-tiba saja Sarah merasakan tangan Tristan menggandeng tangannya dan menggenggam sela-sela jemari Sarah dengan erat. Sarah yang merasakan hatinya semakin tak karuan pun lantas memandang wajah Tristan dengan tatapan bingung.
"Tristan, ini...?"
Tapi Tristan malah tersenyum.
"Seharusnya suami istri itu seperti ini kan? agar semua orang tahu, kalau aku benar-benar mencintai mu!" ucap Tristan yang membuat Sarah semakin serba salah.
Sarah tak bisa menjawab apa-apa, dia benar-benar tak tahu harus bilang apa. Tristan yang mengerti kalau Sarah masih sulit menerimanya hanya bisa menunggu dengan sabar, sambil terus berusaha. Tristan kembali tersenyum dan mengajak Sarah untuk jalan meninggalkan unit apartemennya menuju ke arah lift.
__ADS_1
***
Bersambung...