Tega

Tega
Bab 254


__ADS_3

Tika dan supir Sarah kembali ke apartemen untuk mengambil buah melon yang tadi sempat di makan oleh Kevin dan Widya. Dengan terburu-buru, Tika keluar dari dalam mobil yang berhenti di basemen, lalu pergi menuju lift untuk menuju unit apartemen Sarah.


Namun saat masuk ke dalam lift, di dalamnya sudah ada seorang wanita paruh baya. Meski Tika merasa aneh karena wanita itu tidak turun saat tiba di basemen malah naik lagi ikut dengannya, tapi karena terburu-buru. Tika tidak menghiraukan hal itu terlalu jauh dan fokus pada apa yang harus dia lakukan.


Dan saat dia tiba di lantai dimana unit apartemen Sarah berada. Wanita itu juga ikut keluar bersamanya. Merasa ada yang tidak beres Tika buru-buru keluar dari lift dan langsung menuju ke apartemen Sarah. Tika pikir kalau sudah berada di dalam apartemen, pasti sudah aman nanti.


Saat Tika berlari wanita itu tampak juga mengikutinya. Tika jadi panik, dia berlari dengan cepat. Lalu membuka kunci pintu apartemen Sarah yang kaya sandinya sudah d beritahukan oleh Sarah.


Bugh


Tika baru selesai membuka kata sandi ketika dia merasa ada yang memukul tengkuknya dari belakang. Dan dia tidak tahu lagi apa yang terjadi karena Tika langsung pingsan.


Wanita paruh baya yang tadi mengikuti Tika itu adalah pelakunya. Dia adalah anak buah Brian Kim, sementara Brian Kim sendiri juga sudah berada di tempat itu untuk masuk ke dalam apartemen dan menukar buah melon yang ada di sana.


Dia membawa dua orang anak buah yang lain untuk memotong dan meletakkan buah melon sama persis seperti saat belum di tinggalkan. Setelah sebelumnya, Brian Kim juga membayar petugas CCtv untuk mematikan CCtv selama satu jam.


Setelah semuanya beres, Brian Kim pergi bersama anak buahnya. Dan meninggalkan Tika yang masih pingsan di sana.


Beberapa lama kemudian, ponsel Tika terus berdering. Tika akhirnya sadar, begitu dia sadar, dia agak kebingungan. Tapi rasa yang lebih besar yang dia rasakan adalah rasa takut.


"Ha... halo..!" kata Tika gemetar menjawab telepon dari Sarah.


"Tika, apa ada masalah? ini sudah hampir satu jam kamu pergi?" tanya Sarah yang khawatir pada Tika.


"Maaf nyonya, sebentar. Tadi ada yang pukul saya sampai pingsan...!"


"Apa? lalu kamu sekarang dimana? bagaimana keadaan kamu?" tanya Sarah menyela karena panik mendengar Tika di pukul orang.


"Saya di depan pintu nyonya, saya tidak tahu kenapa orang itu pukul saya, saya tidak apa-apa, tidak ada barang yang hilang juga!" kata Tika bingung.


"Pintu apartemennya bagaimana? apa terbuka, atau tertutup?" tanya Sarah yang menduga orang tersebut mungkin ingin masuk apartemen.


"Masih tertutup nyonya!" kata Tika yang bahkan lupa sudah membukanya tadi. Tika lupa karena saat dia menekan kata sandi, dia langsung di pukul jadi ingatannya sepertinya hilang sebatas itu.


"Kalau kamu tidak apa-apa, dan pintu apartemen masih terkunci. Tidak masalah, bawa melon itu kemari ya, secepatnya!" kata Sarah.

__ADS_1


"Baik nyonya!" jawab Tika.


Tika lalu kembali masuk ke apartemen dan menuju ke arah dapur. Tika melihat semua yang ada di atas meja makan sepertinya masih sama dengan saat dia meninggalkannya dengan Widya tadi. Tika lantas meraih kantong dan mengambil sampel makanan yang tadi di makan oleh Kevin dan buah yang masih utuh.


Setelah itu Tika kembali ke basemen dan pergi ke rumah sakit bersama pak supir.


Sementara itu di rumah sakit, Rendra dan Tristan sudah langsung datang ketika mendengar kalau Kevin masuk rumah sakit. Tuan Arya Hutama yang bahkan sedang berada di luar kota pun, sekarang sedang dalam perjalanan pulang karena begitu khawatir pada Kevin.


"Sayang, Kevin bagaimana? apa yang terjadi?" kata Rendra menghampiri Arumi yang terlihat sangat khawatir yang sedang di rangkul oleh Sarah.


Arumi lantas berdiri dan menghampiri Rendra.


"Mas, Kevin keracunan makanan. Dia makan melon dari muka plastik...!"


"Muka plastik?" tanya Rendra bingung.


"Ck... aku kan sudah bilang, jangan terima lagi makanan yang di kasih sama muka plastik itu. Kenapa tidak mendengar sih?" tanya Tristan yang memang sejak awal tidak suka pada Brian Kim.


Widya benar-benar merasa sangat bersalah.


Sarah langsung berdiri dan memeluk ibunya.


"Sudah Bu, ibu kan tidak tahu. Ibu kalau tahu buah itu ada yang tidak beres, tidak mungkin ibu memberikannya pada Kevin kan?" tanya Sarah.


Meski perkataan Sarah itu dapat menenangkan suasana. Tapi tetap saja Widya merasa sangat bersalah.


"Sampel buahnya sudah di uji, aku benar-benar akan tuntut pria itu kalau sampai benar dia yang mencelakai anakku?" tanya Rendra.


"Sedang di periksa di laboratorium!" jawab Arumi.


Rendra terus menggenggam tangan Arumi yang terlihat khawatir. Sarah juga terus memeluk ibunya yang terlihat sangat merasa bersalah.


Beberapa lama kemudian, akhirnya Kevin sudah selesai di lakukan tindakan medis. Sekarang anak kecil itu sudah berada di ruang rawat inap.


Arumi tak beranjak sama sekali dari samping Kevin.

__ADS_1


"Masih sakit tidak nak?" tanya Arumi yang terlihat sangat cemas.


Kevin menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat itu, Arumi menghela nafasnya lega.


Tak lama juga seorang perawat datang memberikan hasil dari uji buah melon itu. Dan setelah melihat laporannya, Rendra pun terdiam.


"Kenapa mas?" tanya Arumi.


"Hasilnya negatif, buahnya aman. Tidak ada apapun di dalamnya!" kata Rendra.


Arumi yang sudah percaya pada hasil laporan tes itu pun langsung meraihnya dari Rendra. Matanya membuka tal percaya kalau tidak ada apapun pada dua sampel yang di bawa oleh Tika.


"Tidak mungkin, aku yakin karena buah itu. Kevin tidak makan apapun sebelumya!" kata Arumi yakin.


Tristan yang punya keyakinan sama dengan Arumi lantas berkata.


"Aku juga yakin si muka plastik itu pelakunya!" kata Tristan.


"Tanpa bukti, kita mana bisa menuntut?" tanya Rendra.


Sarah yang berada di samping Kevin, di sisi sebelah Arumi berada, mengusap lengan Kevin sambil berpikir.


'Kalau di pikir lagi kenapa juga ada yang memukul Tika tapi barang-barangnya tidak hilang? apa mungkin untuk menukar buahnya, tapi bagaimana bisa membuka pintu apartemen?' Sarah masih terus bertanya-tanya dalam hatinya, karena menurut Tika pintunya masih terkunci.


Akhirnya Sarah pun sampai pada titik kesimpulan, kalau sebaiknya mereka memang menjauhi itu pria yang bernama Brian Kim.


"Mulai sekarang, sebaiknya kita jauhi itu si muka plastik. Ya Bu?" tanya Tristan pada Widya.


Sarah langsung menoleh ke arah Tristan, tidak menyangka pemikiran mereka bisa sama.


Widya yang masih merasa bersalah langsung mengangguk dengan cepat.


"Iya nak!" jawabnya cepat.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2