
Sepanjang perjalanan Tristan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Dia ingin secepatnya sampai di kantor ayahnya. Kemarin Rendra bilang sang ayah akan kembali dan langsung ke kantor untuk meeting penting. Karena itu Tristan yang sudah membawa dokumen perjanjian pernikahannya dengan Sarah pun pergi ke kantor sang kakak.
Begitu sampai di kantor Rendra, semua yang mengenal Tristan pun menyapanya. Namun Tristan sama sekali tidak perduli dan langsung masuk ke dalam lift lalu pergi ke ruangan Rendra.
Ceklek
Tanpa mengetuk pintu, Tristan masuk ke dalam ruangan Rendra.
Melihat Rendra duduk di kursinya, Tristan langsung masuk dan bertanya.
"Ayah sudah datang?" tanya Tristan terlihat terburu-buru.
Rendra yang melihat Tristan seperti sangat kacau langsung berdiri dan menutup semua dokumen yang sedang dia kerjakan. Rendra lantas mendekati Tristan dan menepuk bahu Tristan pelan.
"Ada apa Tristan? apa semua baik-baik saja?" tanya Rendra.
Mata Tristan yang memerah menjelaskan pada Rendra kalau adiknya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah mana kak?" tanya Tristan lagi.
"Ada di ruangannya!" kata Rendra.
Tanpa merespon lebih banyak, Tristan bahkan langsung berbalik dan meninggalkan ruangan Rendra begitu saja. Rendra yang merasa iba pada sang adik langsung mengikuti Tristan menuju ke ruangan ayahnya.
Ceklek
Dan lagi-lagi tanpa mengetuk pintu, Tristan masuk ke dalam ruangan tuan Arya Hutama. Saat Tristan masuk, tuan Arya Hutama masih meeting dengan kliennya.
"Tuan Tristan ada apa?" tanya Samsudin yang menghentikan Tristan karena klien yang satu ini sangat penting.
"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu!" kata Tristan dengan mata memerah.
Melihat mata Tristan memerah, dengan nada suara bergetar. Samsudin pun langsung menjauh dari Tristan.
"Tuan Arya Hutama, ada apa ini?" tanya tuan Benyamin, klien tuan Arya Hutama.
"Maafkan aku tuan Benyamin, sepertinya pertemuan ini harus di undur!" kata tuan Arya Hutama yang memang sejak dulu sangat mementingkan keluarga daripada apapun di dunia ini.
"Oh, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja kan?" kata tuan Benyamin bersimpati.
__ADS_1
"Tentu saja!" kata tuan Arya Hutama.
Samsudin yang sudah mengerti harus apa dan bagaimana pun langsung mendekati tuan Benyamin dan mempersilahkan juga menemani beliau untuk keluar dari ruangan tuan Arya Hutama.
Setelah Benyamin dan Samsudin keluar. Rendra langsung mendekati Tristan.
"Tristan ada apa? sebenarnya kamu kenapa? kamu sudah ingat sesuatu?" tanya Rendra yang masih mengira kalau sang adik amnesia.
Tristan pun melihat ke arah ayahnya dan berkata.
"Ayah, aku minta maaf! sebenarnya aku sama sekali tidak pernah amnesia!"
Sontak saja apa yang di katakan oleh Tristan tersebut membuat tuan Arya Hutama begitu shock.
Bukan hanya tuan Arya Hutama, tapi Rendra juga terlihat sangat terkejut.
"Apa-apaan kamu ini Tristan?" tanya Rendra.
Tristan langsung terduduk di lantai dengan tumpuan kedua lututnya di hadapan sang ayah.
"Aku minta maaf ayah, aku telah membohongi kalian semua!"
Selanjutnya Tristan menceritakan semuanya, apa tujuannya pura-pura amnesia. Dan apa yang terjadi padanya di Paris.
"Aku sadar aku begitu egois, Sarah benar. Jika aku tidak sakit hati pada Shanum, mungkin....!"
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tristan sebelah kiri. Tamparan panas dan keras yang suaranya begitu mengagetkan Rendra itu berasal dari tangan kanan tuan Arya Hutama.
Tak bisa di bayangkan betapa panasnya pipi Tristan saat ini, sebab tangan tuan Arya Hutama terlihat sangat merah setelah memukul Tristan. Wajah Tristan juga jelas sekali tampak cap lima jari sang ayah.
Rendra yang melihat ayahnya mulai sangat emosi lantas berjalan mendekati sang ayah. Suara tamparan itu juga sampai terdengar di luar ruangan. Membuat Samsudin yang cemas pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Aku akan sangat malu pada Melati karena sudah membesarkan anaknya untuk menjadi pengecut seperti ini. Apa yang ada di kepala mu Tristan, apa aku dan ibumu mengajarimu menjadi seorang pengecut??" bentak tuan Arya Hutama.
Dia bahkan sampai terhuyung ke belakang sangking berteriak sekuat tenaganya. Untung saja ada Rendra yang menahannya, kalau tidak tuan Arya Hutama mungkin sudah terjatuh.
"Ayah, tenang dulu ayah, sabar...!" kata Rendra yang takut penyakit jantung sang ayah kambuh.
__ADS_1
"Apa itu di tanganmu?" tanya tuan Arya Hutama melihat dokumen uang ada di tangan Tristan.
"Surat perjanjian pernikahan...!"
Tangan tuan Arya Hutama kembali terangkat, kalau Rendra tidak menahan lengan ayahnya itu. Sudah pasti pukulan kedua akan mendarat di tempat yang sama di wajah Tristan.
"Ayah...!" ucap Rendra.
"Samsudin, ambil dokumen itu. Apa isinya!" kata tuan Arya Hutama.
Samsudin dengan cepat meraih dokumen itu dan membacanya dengan lantang di depan tuan Arya Hutama dan Rendra.
Rendra juga sampai mengepalkan tangannya sangking geramnya pada apa yan sudah dilakukan Tristan. Bagaimana bisa dia membuat perjanjian pernikahan semacam itu. Rendra benar-benar sangat kecewa pada Tristan.
Jika Rendra saja seperti itu, maka perasaan tuan Arya Hutama berlipat-lipat kali lebih kecewa dan marah pada Tristan.
"Apa dosaku sampai aku punya anak berhati hati seperti mu!" pekik tuan Arya Hutama lagi.
Rendra benar-benar panik, dokter yang menangani ayahnya sebelumnya berkata kalau jangan sampai ayahnya emosi yang berlebihan, penyakit jantungnya bisa kambuh kalau hal itu terjadi.
"Pergi kamu pengecut, Rendra urus semuanya. Coret saja nama anak ini dari kartu keluarga. Benar-benar egois. Tidak punya hati kamu Tristan!" pekik tuan Arya Hutama begitu marah dan kecewa pada Tristan.
"Tristan pergilah!" kata Rendra yang tak mau ayahnya bertambah emosi.
"Samsudin urus semuanya, urus juga perpisahan Sarah dengan anak tidak tahu malu ini!" kata tuan Arya Hutama yang benar-benar sangat emosi pada Tristan.
"Ayah...!" Tristan berusaha bicara.
Tapi tuan Arya Hutama langsung menyela.
"Jangan panggil aku ayah!" kata tuan Arya Hutama.
Tristan sudah menitikkan air matanya. Tapi dia berusaha untuk tetap bicara.
"Aku terima, namaku di coret. Aku terima aku kehilangan semuanya, karena memang semuanya milik ayah. Tapi tolong, biarkan aku dan Sarah yang mengurus perpisahan kami. Tolong biarkan Sarah yang menggugat dan prosesnya terjadi seperti seharusnya...!"
"Pergi kamu!" bentak tuan Arya Hutama.
Tristan pun melihat ke arah Rendra. Sang kakak yang kecewa tapi juga kasihan pada Tristan langsung mengangguk paham, mengangguk sekali pada Tristan. Melihat sang kakak mau membantunya, Tristan langsung bangun dan segera pergi dari ruangan tersebut. Tristan sadar, kalau dia bukan hanya akan pergi dari kantor itu saja, tapi dari semuanya. Apartemen nya, mobil mewahnya dan semuanya.
__ADS_1
***
Bersambung...