
Widya tampak sangat merasa bersalah, dia terus memegang tangan Kevin dan memastikan keponakan dari menantunya itu kondisinya sudah baik-baik saja.
Sementara Arumi masih terus berusaha meyakinkan Rendra kalau Brian Kim lah yang menyebabkan anak mereka seperti itu.
"Mas, aku yakin. Si Tika tadi itu pingsan, hampir satu jam. Pasti si muka plastik itu sudah berhasil memikat buahnya! aku yakin mas!" kata Arumi masih tetap yakin pada analisanya.
"Tapi rekaman CCtv tidak ada sayang, rekamannya rusak!"
"Justru itu mas, aku yakin yang merusaknya ya si muka plastik itu!" kata Arumi yang masih tidak terima.
"Sayang, sudahlah. Kevin juga tidak apa-apa kan! sebentar lagi Renata menikah. Kita bahas masalah ini nanti lagi ya?" tanya Rendra yang sebenarnya merasa tidak enak kepada ibunya Sarah kalau masih terus membahas masalah ini.
Sebab, seperti perkataan Wilda tadi. Dia yang menerima, mengupas dan memotong buah itu untuk Kevin.
'Ck... mas Rendra benar juga, dua hari lagi Renata menikah. Kalau tidak, aku pasti sudah minta Arista menyelidiki masalah ini!' batin Arumi.
Sarah sendiri sudah mengajak Tristan bicara di luar ruang rawat Kevin.
"Mas, sepertinya aku sependapat dengan Arumi. Aku pikir, mana mungkin CCtv bisa tiba-tiba rusak dan tidak bisa merekam selama satu jam disaat Tika pingsan. Lalu bagaimana bisa, buahnya tidak menunjukkan zat apapun, padahal jelas Kevin muntah-muntah dan sakit perut setelah makan buah itu...!"
Mata Sarah lantas terbuka lebar ketika mengingat lagi apa yang tadi dijelaskan oleh dokter kepada mereka, kalau zat yang terdapat dalam tubuh Kevin itu adalah sebuah zat yang sangat berbahaya bagi anak di bawah umur dan juga wanita yang sedang hamil.
Sarah lantas menoleh ke arah Tristan.
"Kejadian di supermarket, mas... kejadian di supermarket. Kamu yang mulas setelah makan cakwe, dan terakhir Kevin yang muntah setelah makan buah melon itu. Apa mungkin Brian Kim ingin aku kehilangan anakku? tapi kenapa?" tanya Sarah pada Tristan setelah semua analisa yang dia sampaikan pada Tristan.
Mendengar apa yang di katakan Sarah. Tristan merasa kecurigaan istrinya itu ada benarnya juga. Tristan lantas mengajak Sarah untuk duduk, dia menghubungi Richard Agara asisten pribadi nya itu mencari tahu tentang Brian Kim.
"Oh emji.. bos suka juga ya sama my idol. Mau jadi fandom nya juga ya? aku daftarin sama ketua fandom khusus Jakarta mau gak bos?" tanya Richard yang membuat Tristan kesal.
"Diam kamu Richard. Cari tahu saja semua tentang dia dan kenapa di bisa kenal dengan tuan Cakra. Lalu cari tahu juga tentang tempat tinggalnya di Korea dulu, katanya dia pernah tinggal di Korea. Lalu laporkan secepatnya padaku, ingat! lupakan dulu kalau terobsesi padanya...!"
"Oh emji bos, aku ini masih lurus ya! astaga!" keluh Richard menyela Tristan.
__ADS_1
"Berani kamu menyela, mau ku potong gaji mu?" tanya Tristan balik memeluk pada Richard.
"Mana berani aku bos! oke... oke... aku akan cari tahu!" kata Richard.
Tristan lantas menuju punggung tangan Sarah dengan lembut.
"Sayang, jangan cemas. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja. Aku akan menjaga kalian berdua dengan baik!" kata Tristan membuat Sarah menyandarkan kepalanya di lengan Tristan.
Tristan juga mengecup kening istrinya itu dengan lembut.
'Aku sepertinya sudah bisa menebak, siapa yang paling ingin Sarah kehilangan bayinya. Yang punya uang untuk melakukan operasi plastik di Korea dan orang yang begitu kesal saat melihat ku. Jerry Alando, jika itu kamu. Maka bersiaplah, aku akan segera memasukkan mu dalam penjara!' batin Tristan.
***
Tiga hari kemudian...
Richard masih menyelidiki tempat tinggal dan asal usul Brian Kim di Korea. Richard bahkan benar-benar pergi ke Korea untuk menyelidiki semua itu.
Sedangkan di Jakarta, tengah di langsungkan acara pernikahan antara Renata dan Hamdan. Setelah akad nikah, kedua pasangan meminta restu pada Yuliana.
Tapi karena itu adalah hal yang seharusnya, maka meskipun canggung Yuliana dan Hamdan akhirnya melewati prosesi tersebut.
Semua tampak senang dan bahagia. Termasuk Rani, putri sulung Hamdan dan anak sambung Renata sekarang.
"Astaga, apa anak-anak mami semuanya akan berjodoh dengan duda ya?" tanya Arumi saat dia bersama dengan mami dan Arista.
"Hei, aku tidak akan menikah lagi!" kata Arista yakin.
"Kenapa tidak, lihat aku. Suamiku duda anak satu tapi aku sangat bahagia, dia begitu... pokoknya tidak bisa di jelaskan! lalu lihat itu Renata, dia malah lebih matang lagi, duda sekaligus anaknya tiga. Amazing kan?" tanya Arumi pada Arista.
"Aku juga tidak kekurangan kasih sayang keluarga Arumi, sudah jangan bahas tentang aku!" elak Arista.
"Oh ya, setelah ini aku minta bantuanmu ya Arista. Aku mau menyelidiki seseorang. Itu loh yang kemarin aku ceritakan, yang aku curiga dia adalah orang yang menyebabkan Kevin masuk rumah sakit!" kata Arumi menjelaskan.
__ADS_1
"Oh baiklah!" jawab Arista.
Pesta dansa pun di mulai, Renata dan Hamdan sebagai mempelai paling bahagia mengawali pesta dansa berpasangan itu. Selanjutnya Arumi menarik suaminya Rendra, padahal suaminya itu baru saja menuang kuah di bakso yang mau dia makan.
Sarah dan Tristan tidak ikut karena Sarah sedang hamil. Tristan sama sekali tidak ingin istrinya kelelahan, atau terselandung. Lebih baik mereka duduk dan menonton saja karena itu lebih aman.
Hingga jam sepuluh malam, pesta malam itu akhirnya berakhir. Kedua mempelai juga sudah masuk ke dalam kamar pengantin di hotel dimana resepsi pernikahan itu di selenggarakan.
Renata yang sudah berganti pakaian, lantas menghampiri Hamdan yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Pak Hamdan...!" panggil Renata.
Tapi Hamdan langsung berbalik dan meletakkan sisirnya di atas meja.
"Kita sudah menikah, tidakkah kamu punya keinginan untuk memanggilku dengan sapaan lain?" tanya Hamdan.
Renata yang tak mau bercanda pun mengangguk.
"Mas, aku akan katakan sesuatu padamu sebelum kamu kecewa. Aku lupa mengatakan ini sebelumnya, aku pikir kita tidak akan benar-benar menikah!" kata Renata.
"Tentang apa?" tanya Hamdan dengan lembut.
"Aku sudah tidak itu... !" Renata terdengar bingung mengatakan yang sebenarnya.
"Itu apa?" tanya Hamdan.
"Aku sudah melakukannya dengan Nathan, kamu bukan akan menjadi yang pertama untukku!" jujur Renata sedikit gugup.
Hamdan malah tersenyum dan memegang kedua bahu Renata dengan lembut.
"Memangnya aku menikahi mu untuk hal itu, aku menikahi mu, karena aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu selamanya!" kata Hamdan yang membuat hati Renata menjadi begitu sejuk.
***
__ADS_1
Bersambung...