
Perhiasan sudah di pilih, dan Tristan sengaja memilih yang harganya paling mahal untuk menunjukkan pada manager toko perhiasan itu kalau dia punya uang yang sangat banyak hingga tak perlu berpikir lebih dari satu detik untuk memilih perhiasan yang paling mahal untuk pernikahannya.
Setelah drama di butik dan di toko perhiasan selesai. Tuan Arya Hutama menghubungi Tristan dan meminta Tristan mengajak Sarah ke tempat Arya Hutama berada saat ini. Saat ini tuan Arya Hutama sedang berada di makam ibu kandung Rendra dan Tristan, yang bernama Melati. Makamnya tak jauh dari perumahan elit yang merupakan kediaman Arya Hutama. Karena memang tuan Arya Hutama membeli tanah luas di sana untuk di wakafkan sebagai tempat pemakaman umum.
Niat awalnya hanya ingin agar tidak hanya makam istrinya yang ada di sana. Sepertinya tuan Arya Hutama punya pemikiran kalau tempat itu dijadikan pemakaman untuk umum maka istrinya tidak akan kesepian.
"Ayah, tapi kenapa tidak bersama Rendra saja? Rendra juga sudah lama tidak ke makam ibu kan?" tanya Tristan yang sangat malas berada satu mobil dengan Sarah.
Yang lebih salah lagi, hari ini dia hanya membawa mobil yang kapasitasnya hanya bisa di tumpangi dua orang penumpang saja. Jadi Tristan Haris benar-benar hanya berdua dengan Sarah selama perjalanan kurang lebih satu jam, dari toko perhiasan ini ke pemakaman nyonya Melati.
"Rendra harus menjemput Kevin di sekolah. Sudahlah jangan banyak alasan, biar urusan perusahaan di handle dulu oleh Richard. Satu jam tepat kamu harus sampai di sini bersama Sarah, jika tidak! ayah tidak akan berpikir sampai lima belas menit untuk benar-benar mencoret namamu dari kartu keluarga!" gertak Arya Hutama.
Tristan pun berdecak kesal, lagi-lagi hal itu yang dijadikan sang ayah ancaman untuk membuatnya patuh.
"Iya, baiklah. Aku akan ke sana bersama wanita freak...!"
"Tristan, namanya Sarah. Dan dia calon istrimu! jika ayah masih dengar kamu mengebutnya dengan yang aneh-aneh lagi maka...!"
"Iya iya aku tahu, aku akan di coret dari kartu keluarga kan. Iya aku mengerti!"
Ketus Tristan yang langsung memutuskan panggilan telepon dari ayahnya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya lagi.
Rendra yang sudah mendengar kalau Tristan setuju pergi bersama Sarah pun mendekati Sarah.
"Kalau dia menurunkan mu di jalan lagi, hubungi aku ya!" ucap Rendra yang langsung mendapatkan pelototan mata tajam dari Tristan.
Sementara Sarah hanya bisa mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Sedangkan Richard, sudah tidak tampak batang hidungnya sejak tadi.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Rendra pun masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Sarah dan Tristan yang masih berdiri di dekat mobil milik Tristan.
Tristan yang sudah akan membuka pintunya lantas menoleh kesal ke arah Sarah yang masih diam saja berdiri di samping mobil Tristan.
"Hei..!"
Sarah langsung menoleh, perasaannya mendadak jadi tidak enak.
"Kenapa masih berdiri di situ? jangan harap aku mau membukakan pintu mobil untukmu ya!" ketus Tristan yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Sarah hanya bisa menghela nafas dan membuka sendiri pintu mobil milik Tristan lalu masuk ke dalam. Sebenarnya dia berdiri sejak tadi di samping mobil milik Tristan itu juga bukan supaya Tristan mau membukakan pintu mobil untuknya, hanya saja dia sebagai orang yang hanya menumpang tahu diri, dan membiarkan Tristan lebih dulu yang masuk ke dalam mobil.
Sambil memasang sabuk pengamannya Tristan juga kembali berseru pada Sarah yang baru masuk ke dalam mobil dan baru akan menarik sabuk pengamannya untuk dia pasang.
"Kau senang bukan aku memilih perhiasan paling mahal untukmu?" tanya Tristan pada Sarah yang sudah selesai memasang sabuk pengamannya dan memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Tristan saat Tristan berkata seperti itu padanya.
"Kau tuli ya?" tanya Tristan lagi.
Sarah akhirnya menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. Hal itu hanya akan Sarah lakukan kalau kesabarannya benar-benar habis.
Tristan masih belum melajukan mobilnya. Dan Sarah pun menghirup nafas dalam-dalam lalu sedikit melengos ke arah Tristan.
"Aku tidak tuli, tapi apa ada yang pernah mengatakan hal ini padamu? lebih baik diam daripada menanggapi perkataan orang yang memang sengaja mengajakmu bertengkar! pernah dengar hal itu tidak?" tanya Sarah yang mulai mengisi amunisi untuk membalas setiap cibiran Tristan.
Tristan malah tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Sarah itu dan bersiap untuk menginjak pedal gas.
"Lihat dirimu, saat orang lain mengatakan hal yang seharusnya kamu dengar. Kamu juga menutup telingamu bukan? itulah yang aku lakukan. Aku sama sekali tidak ingin membuat keributan di depan kak Rendra atau orang lain. Apa menurutmu sebuah prestasi kalau kita menunjukkan pertengkaran di depan umum?" tanya Sarah lagi.
__ADS_1
Tristan mulai merasa telinga dan hatinya panas mendengar ceramah dari Sarah itu. Dia hanya berdecak kesal lalu bicara dengan nada tinggi.
"Kalau begitu lebih baik kau diam, dasar wanita komersil!" cibir Tristan lagi.
Sarah yang kesal lantas menggebrak dasboard mobil Tristan. Tentu saja hal itu membuat Tristan yang kakinya sudah berada di atas pedal gas terkejut dan lantas menoleh ke arah sumber suara itu.
Melihat yang di pukul Sarah adalah dashboard mobil kesayangannya, Tristan tak terima dan lantas mematikan mesin mobilnya lagi.
"Apa yang kau lakukan? apa kau tahu harga benda yang baru kau pukul itu lebih berharga dari tanganmu sekalipun!" kesal Tristan dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
Sarah juga mendengus kesal.
"Tidak ada yang lebih berharga dari diriku sendiri kamu tahu? kamu bilang apa tadi tentang aku? aku wanita komersil?" kesal Sarah.
"Yah...!" Sarah mengangguk kepalanya dengan yakin.
"Aku memang komersil, aku bahkan setuju menikah denganmu karena ayahmu berjanji akan membangun panti asuhan yang lebih layak untuk adik-adik panti ku. Itu terdengar sangat komersil bukan? aku mengorbankan kebahagiaan ku dan setuju menikah dengan pria yang jelas-jelas akan selalu mengharapkan kesulitan dalam hidupku demi adik-adik panti asuhan ku. Itu komersil bukan? aku menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa menghormati orang lain demi untuk menyelamatkan pria itu dari di coret dari kartu keluarganya, itu komersil kan?" tanya Sarah dengan mata dan wajah yang sudah merah menahan marah.
Mendengar semua yang dikatakan Sarah, kali ini Tristan terdiam. Bukan karena respect pada apa yang Sarah katakan, tapi dia sadar kalau wanita di sampingnya ini sudah marah. Tristan tidak akan bisa melawan semua perkataannya. Karena memang apa yang dikatakan Sarah, semuanya benar.
"Tunggu apa lagi? jalankan mobilmu. Satu jam kamu tidak sampai di sana, kamu lupa apa kata ayahmu tadi?" tanya Sarah yang langsung melengos, mengalihkan pandangannya dari Tristan.
Tristan pun hanya diam menahan kesal dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***
Bersambung...
__ADS_1