
Ceklek
"Tristan!"
Shanum langsung berlari menghampiri Tristan setelah membuka pintu ruang tunggunya.
Shanum segera memeluk Tristan, meski Tristan hanya diam tak bicara dan tak membalas pelukan Shanum itu.
Deg
Shanum merasakan firasat yang sangat tidak enak begitu mendapati Tristan tidak membalas pelukannya. Tidak seperti bisanya, dan memang tidak biasa. Tristan bahkan tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Shanum langsung menarik dirinya, melepaskan pelukannya pada Tristan dan menjauh sedikit agar bisa melihat ekspresi wajah kekasihnya itu.
Dan benar saja, wajah Tristan benar-benar datar, tanpa ekspresi.
"Tristan...!"
"Sekarang ikut keluar dan katakan kalau kamu sudah punya kekasih!" seru Tristan yang menyela apa yang ingin Shanum tanyakan.
Tristan menarik pergelangan tangan Shanum dan ingin mengajaknya keluar dari ruangan itu. Namun Shanum yang merasa sedikit lagi bisa menggapai semua mimpinya. Sama sekali tak ingin Tristan menghancurkannya begitu saja.
Shanum pun menahan tangan Tristan yang menariknya.
Merasa tangannya tertahan, dan Shanum pun tak mengikuti langkahnya. Tristan pun menghentikan langkahnya. Tristan berbalik dan melepaskan tangannya dari Shanum.
"Oke, baiklah. Aku tidak akan ikut keluar. Tapi bisa kan? kamu katakan pada media kalau ada seseorang yang kamu cintai. Meskipun kamu tidak bersama orang itu!" ucap Tristan lagi.
Tristan sudah berada di batas akhir toleransi nya pada Shanum. Dia sampai tidak masalah jika Shanum mengatakan dia dan Shanum tidak bersama. Kenyataan nya memang seperti itu, tapi setidaknya Shanum mengatakan pada media, agar semua orang tahu kalau Shanum sudah menjatuhkan hatinya pada seseorang. Sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya.
Mendengar apa yang Tristan minta dan katakan itu. Shanum sampai berkaca-kaca. Bagaimana pun ini adalah jalan yang begitu panjang dengan banyak rintangan. Dia bahkan sudah banyak menangis dan lelah. Sudah banyak tidak tidur dan tidak makan untuk sampai di titik ini.
Shanum menggelengkan kepalanya di depan Tristan. Air matanya sudah keluar dan menetes hingga ke pipinya.
__ADS_1
Leni yang melihat apa yang terjadi di depannya ini benar-benar cemas. Dia bisa melihat Tristan yang begitu emosi. Tapi dia juga bisa melihat kakak sepupunya yang tetap akan berpegang teguh pada apa yang sudah dia katakan. Karena impiannya benar-benar sedikit lagi di depan matanya. Tinggal beberapa minggu lagi acara penghargaan itu.
Dan single dengan kemampuan luar biasa tanpa sokongan di belakangnya adalah nilai plus penghargaan tersebut. Itulah kenapa Shanum mengaku single.
Melihat Shanum menggelengkan kepalanya. Tristan tersenyum getir.
"Ayahku sudah mengatakan padaku, kalau kamu memang lebih mencintai karir mu daripada aku. Suatu saat ketika ada dua pilihan, ayah mengatakan kamu akan memilih karir mu!" ucap Tristan dengan mata merah dan berkaca-kaca.
"Sayangnya aku selalu mengatakan pada ayahku, Shanum yang ku cintai tidak akan pernah seperti itu. Apapun yang terjadi dia akan tetap menggenggam tanganku dan bersamaku!" kata Tristan membuat Shanum sampai terisak.
"Tristan, aku mencintaimu...!"
"Kalau begitu katakan pada mereka!" sela Tristan.
"Tristan, aku mohon mengertilah. Sebentar lagi saja, aku mohon kamu bersabar sebentar lagi saja!"
"Jadi selama ini kesabaran ku untukmu, menurut mu masih kurang? masih belum cukup Shanum?" tanya Tristan yang mulai terbawa emosi.
"Tristan...!"
Shanum masih terdiam, hanya air matanya yang terus mengalir.
"Mau katakan tidak?"
Kali ini nada suara Tristan benar-benar sangat tinggi. Hingga Leni yang ada di dekat Shanum sampai terjingkat ke arah belakang.
Sementara Shanum juga mengangkat bahunya sekilas karena terkejut. Isak tangisnya semakin menjadi.
"Tristan... aku mohon!"
"Aku sudah dapatkan jawaban nya. Terimakasih untuk perhatian mu selama delapan tahun ini Shanum, terimakasih untuk cinta palsu mu itu...!"
Shanum merasa itu adalah kalimat perpisahan dari Tristan. Shanum yang tak ingin hal itu terjadi langsung memeluk Tristan. Namun Tristan menepis pelukan Shanum padanya.
__ADS_1
"Aku tanya sekali lagi, ini kesempatan terakhir mu....!"
Leni yang sangat takut kakak sepupunya mengambil keputusan yang salah langsung menarik lengan Shanum.
"Kak, katakan saja. Kak Tristan bahkan bisa memberikan segalanya yang kamu mau. Bukan masalah jika kakak kehilangan karir, asal jangan sampai kehilangan orang yang tulus mencintai kakak seperti kak Tristan. Aku mohon kak, katakan saja!" bisik Leni pada Shanum.
Bagaimana pun Leni sudah ikut Shanum dalam waktu yang sangat lama. Leni juga sangat memahami betapa tulisnya cinta Tristan untuk Shanum. Leni tak mau kakaknya itu sampai menyesal pada akhirnya.
Namun apa yang ada di kepala Leni itu sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang di pikirkan oleh Shanum. Bagi Shanum berdiri di atas kaki sendiri itu benar-benar adalah segalanya untuknya.
"Shanum, ini kesempatan terakhir mu!" kata Tristan dengan rahangnya yang sudah mengeras.
Shanum menggelengkan kepalanya perlahan di hadapan Tristan. Tanpa terasa air mata Tristan jatuh begitu saja di pipinya. Pria tampan tapi arogan itu benar-benar sampai menangis.
"Aku tidak pernah menyesal pernah mencintai mu Shanum. Hubungan kita cukup sampai di sini. Selamat tinggal!" ucap Tristan yang langsung berbalik dan meninggalkan ruangan. tunggu tersebut.
Shanum langsung jatuh terduduk di lantai dengan tumpuan kedua lututnya. Shanum menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar sangat sedih ketika Tristan mengatakan kalimat terakhir untuknya itu.
Hati Shanum juga hancur, tapi dia tidak bisa memenuhi apa yang diminta Tristan. Bagaimana pun, apa yang dia impikan benar-benar sudah di depan mata.
Sementara Leni juga sudah ikut menangis, dia mundur ke belakang. Dia juga terduduk di kursi rias tak jauh dari Shanum.
'Kenapa kak? semua wanita di dunia ini bahkan pasti bermimpi untuk mendapatkan cinta dari kak Tristan seperti yang dia berikan padamu. Tanpa mengeluh, selalu mengalah. Selalu ada saat kamu membutuhkannya. Dia bahkan terbang begitu jauh hanya untuk mendengarnya mengatakan kamu mencintainya... apa yang sudah kamu lakukan kak Shanum. Apa yang ada di pikiran mu, sampai kamu melepaskan pria yang mungkin hanya ada satu-satunya di dunia ini yang begitu tulus padamu. Kenapa kak?' batin Leni begitu kecewa pada keputusan Shanum.
Dan Tristan kini tengah berjalan dengan mata yang merah dan berkaca-kaca. Dia sudah menyeka air mata yang menetes di pipinya tadi.
Sepanjang jalan di malam yang begitu dingin itu, Tristan hanya terus berjalan tanpa tujuan. Tristan benar-benar tak habis pikir, kalau Shanum bahkan akan memilih mengakhiri hubungan mereka di banding mengakui perasaannya pada Tristan.
Rasa sakit di hari Tristan begitu dalam, Tristan begitu terluka. Orang yang paling dia cintai. Orang yang membuatnya meninggalkan keluarganya sendiri, malah memilih untuk tidak mengakuinya. Memilih hubungan mereka berakhir bahkan tanpa memikirkannya sama sekali.
Hati Tristan benar-benar sangat sakit. Kenyataan yang dia hampiri benar-benar teramat sangat melukai hatinya.
***
__ADS_1
Bersambung...