
Cukup lama Sarah dan Rendra terus berada di ruang rawat tuan Arya Hutama. Posisi mereka juga masih sama, Rendra di sisi sebelah kanan. Dan Sarah ada di posisi sisi sebelah kiri tuan Arya Hutama. Mereka sama-sama duduk menanti tuan Arya Hutama sadarkan diri dengan cemas.
Sedangkan Rendra sudah meminta sekertaris pribadi, Andin untuk menjemput Kevin. Richard juga sedang berada di luar ruangan dengan Samsudin sambil mengurus beberapa hal.
Sudah jam dua siang, Rendra dan Sarah bahkan tidak beranjak sekalipun dari kursi mereka.
Ceklek
Suara pintu terbuka, namun Sarah sama sekali tidak tertarik untuk melihat siapa yang datang dan masuk ke dalam ruangan itu. Pandangannya hanya fokus pada ayah mertuanya yang terlihat tua dan ekspresi wajah tuan Arya Hutama terlihat seperti orang sedih. Sejak tadi hanya itu yang Sarah perhatikan.
"Non Sarah, tuan Rendra. Aku bawakan kalian makan siang. Kalau tidak mau makan siang di luar, jadi tadi aku dan pak Sam yang tampan itu meminta ijin apakah bisa makan di dalam ruangan. Dan ternyata boleh... ha ha ha ku pikir ruang VVIP aturannya beda dengan kelas biasa. Ternyata sama saja.. ha ha ha!"
Richard sampai memalingkan pandangannya ke arah lain, yang tadinya dia memandang Sarah dan Rendra bergantian. Dia juga sudah berusaha bercanda agar Sarah dan Rendra tidak terlalu sedih. Tapi sepertinya usahanya tidak berhasil. Sekarang malah Richard yang ikut sedih. Sebab dia juga sudah menganggap tuan Arya Hutama seperti ayahnya sendiri. Beliau begitu baik pada Richard, saat bos nya sendiri yang merupakan anak cari tuan Arya Hutama memperlakukan dirinya semena-mena.
"Tuan, nona aku letakkan di atas meja ya!" ucap Richard yang memilih keluar lagi dari kamar itu. Kalau tidak dia pasti akan menangis, karena matanya memang sudah berkaca-kaca.
Richard menutup pintu ruangan itu, Samsudin yang berdiri di luar segera bertanya pada Richard.
"Bagaimana? nona Sarah dan tuan Rendra mau makan?" tanya Samsudin yang juga mencemaskan keduanya.
Richard menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak pak Sam"
Setelah menjawab pertanyaan Samsudin yang pada akhirnya membuat pria tua itu tampak sedih. Richard kembali bertanya pada pak Samsudin.
"Pak Sam, benarkan tadi apa yang pak Sam bilang. Tuan besar pasti sadar dan baik-baik saja kan?" tanya Richard yang terlihat sangat sedih.
"Tuan pasti baik-baik saja, beliau orang baik. Selain kita, di luaran sana pasti masih banyak yang mendoakan segala kebaikan untuk tuan. Dia pasti akan baik-baik saja!" sahut Samsudin dengan begitu optimis.
Richard bahkan sudah menangis mendengar perkataan yang begitu mengharukan dari pak Samsudin itu.
"Whuaaa, semoga saja pak Sam. Aku pasti akan sangat sedih, tuan besar selalu melindungi ku dari bos Tristan... aku tidak mau terjadi apa-apa pada tuan besar!"
Tangis Richard itu bahkan mengundang banyak orang yang kebetulan lewat untuk memperhatikannya.
"Hei Richard, apa-apaan sih kamu ini. Hei kamu ini laki-laki. Jangan menangis seperti itu!" seru pak Samsudin yang risih karena sepertinya mereka memandang Richard dengan pandangan aneh.
"Aku lagi sedih pak Sam...!" rengek Richard.
__ADS_1
Akhirnya Samsudin terpaksa merangkul dan menepuk-nepuk punggung Richard beberapa kali untuk membuat Richard diam. Dan orang-orang akhirnya tak lagi menatap aneh pada Richard.
'Seharusnya orang kalau melihat orang menangis perasaan yang timbul itu kan rasa iba ya? tapi kalau melihat Richard menangis kenapa perasaan yang timbul malah ingin membuatnya makin menangis ya?' tanya pak Samsudin dalam hatinya sambil terus menepuk-nepuk punggung Richard.
Sore harinya, Rendra meminta Sarah untuk makan. Tapi Sarah masih menolaknya dengan alasan tidak lapar.
"Sarah...!"
"Aku tidak lapar kak, tidak apa-apa!" kata Sarah yang membuat Rendra akhirnya berhenti membujuknya untuk makan.
Sekitar jam lima sore, tiba-tiba Sarah merasakan ada gerakan di tangan ayah mertuanya.
"Ayah...!"
Mendengar Sarah menyebutkan kata itu, Rendra langsung melihat ke arah Sarah.
"Kak, tangan ayah tadi bergerak. Aku akan panggil dokter!" kata Sarah yang langsung berdiri dan berlari ke arah pintu ruang rawat untuk memanggil dokter.
Rendra pada akhirnya juga bisa merasakan gerakan tangan ayahnya. Tak lama Rendra begitu senang ketika kelopak mata tuan Arya Hutama perlahan terbuka dan semakin terbuka.
Begitu Sarah membuka pintu, dia melihat Richard.
Tanpa membalas ucapan Sarah, Richard secepatnya berlari memanggil dokter. Sarah pun kembali lagi di sisi ayah mertuanya.
"Sarah...!"
Kata pertama yang di ucapkan oleh tuan Arya Hutama begitu dia membuka matanya dan membuka mulutnya.
Rendra yang mendengar itu matanya kembali berkaca-kaca. Dia mengerti kalau saat ini sang ayah juga sepertinya sangat merasa bersalah pada Sarah. Bagaimana tidak, Tian Arya Hutama yang meminta Sarah menikah dengan Tristan meskipun tahu Tristan mencintai Shanum. Namun tuan Arya Hutama berharap banyak pada hubungan Sarah dan Tristan.
Jadi wajar saja kalau sekarang ini tuan Arya Hutama merasa bersalah pada Sarah. Karena secara tidak langsung. Tuan Arya Hutama yang sudah menyebabkan Sarah sakit hati karena apa yang dilakukan oleh Tristan.
Mendengar namanya di panggil oleh ayah mertuanya. Sarah langsung menggenggam tangan tuan Arya Hutama yang sejak tadi memang dia pegang.
"Aku disini ayah!" kata Sarah.
Rendra hanya diam, dia pun menggenggam tangan sang ayah yang juga menggenggam tangannya dengan erat.
"Ayah minta maaf...!"
__ADS_1
Begitu mendengar permintaan maaf dari tuan Arya Hutama. Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak ayah, kenapa ayah minta maaf. Jangan berkata begitu ayah!"
Tuan Arya Hutama tampak berusaha tersenyum meskipun terlihat sekali dia susah payah melakukan itu.
Dan saat itu, masuklah para dokter dan perawat bersama dengan Richard.
"Mohon maaf tuan, nona. Bisa beru kami ruang sebentar!" kata dokter yang akan memeriksa kondisi tuan Arya Hutama.
Sarah dan Rendra pun melepaskan tangan mereka dari tuan Arya Hutama. Dan menunggu di tempat yang tak terlalu jauh. Hingga Rendra dan Sarah masih bisa melihat apa yang dilakukan oleh para dokter dan para perawat.
Setelah dokter itu terlihat selesai memeriksa, Rendra mendekati dokter itu dan bertanya.
"Bagaimana kondisi ayah saya dok?" taha Rendra.
Sementara Sarah langsung mendekat lagi ke sisi tuan Arya Hutama dan kembali memegang tangan ayah mertuanya itu.
"Kondisi tuan Arya Hutama sudah membaik, tapi jangan membuatnya terkejut lagi ya. Itu saja, semuanya... kondisi organ dalamnya dan keadaannya sudah hampir normal seperti sebelumnya!" jelas dokter itu membuat Rendra menghela nafas lega.
Sarah yang mendengar hal itu juga langsung tersenyum lega.
Begitu dokter dan para perawat itu keluar, Rendra pun kembali mendekati sang ayah.
"Sudah berapa lama aku tidak sadar nak?" tanya tuan Arya Hutama pada Sarah.
"Sejak tadi pagi ayah, dan sekarang sudah jam..!"
Sarah menjeda kalimatnya dan melihat ke arah jam yang ada di dinding kamar rawat tersebut.
"Jam lima lewat dua puluh menit!" kata Sarah.
"Sudah lama ya, pantas saja perutku terasa lapar!"
Sarah dan Rendra sampai terkekeh ketika mendengar apa yang di katakan oleh tuan Arya Hutama.
Tapi Samsudin yang baru datang tahu, kalau tuannya berkata seperti itu hanya untuk menghibur anak dan menantunya. Mata tua Samsudin tidak dapat di bohongi, kalau tuannya sebenarnya sangat sedih saat ini.
***
__ADS_1
Bersambung...