Tega

Tega
Bab 179


__ADS_3

Sarah baru saja akan berganti pakaian setelah acara mandi yang berlangsung lebih dari satu jam itu, Tristan malah membuat tingkah aneh lagi yang membuat Sarah menggelengkan kepalanya di depan lemari setelah meraih setelah kerjanya.


Tristan keluar dari kamar mandi, dengan balutan handuk sebatas pinggang dengan menggigit satu tangkai bunga mawar di mulutnya.


Dia bersandar di dinding depan kamar mandi, sambil melirik Sarah dengan tatapan menggoda.


"Cantik, ku persembahkan mawar yang Semerah hatiku ini padamu!"


"Bhuaaaaahaa!" Sarah tak dapat menahan tawanya lagi.


Sarah terkekeh sampai sakit perut melihat tingkah Tristan yang makin lama semakin random.


Melihat Sarah tertawa terpingkal-pingkal, Tristan langsung melemparkan mawar itu ke atas tempat tidur dan merubah ekspresi wajahnya menjadi jutek.


"Ck... sudah susah payah, malah di tertawakan begitu! padahal niatku ingin membahagiakan mu!" ucap Tristan pundung.


Ya ampun, bayangkan saja wajahnya yang kembali jutek mode kulkas tiga pintu. Sarah menghentikan tawanya, lalu berusaha untuk tidak tertawa lagi. Sarah sampai berdehem sangking berusaha menahan tawanya dan agar bisa bicara pada Tristan.


"Tristan maaf, bukan aku tidak menghargai usaha mu. Kamu tahu, kamu justru berhasil. Aku sangat senang melihatnya! lihat kan? aku tidak pernah tertawa seperti ini sebelumnya." kata Sarah pada Tristan sambil mengusap lengan Tristan perlahan.


Mendapat sentuhan lembut dari sang istri, membuat kesal Tristan hilang seketika. Tristan lantas tersenyum dan langsung mencium pipi Sarah dengan cepat membuat Sarah sedikit terkejut.


Tapi Tristan malah tersenyum setelah membuat istrinya terkejut.


Tristan lantas memeluk pinggang Sarah dan meletakkan dagunya di atas bahu Sarah.


"Sayang, terimakasih sudah memaafkan aku dan memberiku kesempatan. Aku janji tidak akan mengecewakan mu, seumur hidupku!" kata Tristan membuat Sarah mengangguk perlahan.


Tapi bukan lekas pakai baju, Tristan malah kembali mencium leher bagian samping Sarah yang dekat dengan posisi dagunya berada. Sarah yang merasa geli dan punya firasat lain pun langsung menarik dirinya dan menjauh dari Tristan.


"Tristan, ini sudah siang. Jangan mulai lagi, aku tidak mau terlambat...!"

__ADS_1


"Kamu istri pemilik perusahaan sayang!" kata Tristan agar Sarah tidak perlu takut jika memang nanti terlambat ke kantor.


Dia istri pemilik perusahaan, tak akan ada yang marah padanya atau memotong gajinya.


"Tristan, itu tidak benar. Sebagai pemilik perusahaan, sebagai pemimpin seharusnya kita berikan contoh pada karyawan kita yang lain! sekarang ganti pakaian mu, aku akan siapkan sarapan!" kata Sarah yang meraih tas dan ponselnya lalu berjalan ke arah pintu kamar.


Tristan pun mengangguk paham.


"Baiklah sayang, aku akan ganti baju dengan cepat!" kata Tristan yang langsung meraih setelan jasnya.


Setelah sarapan, Tristan dan Sarah berangkat bersama ke kantor. Hari ini sejak mereka membuka mata, wajah mereka benar-benar selalu di hiasi dengan senyum. Sampai di kantor, Tristan bahkan menggandeng tangan Sarah memasuki lift dari basemen.


"Sayang, nanti kita makan siang bersama ya?" tanya Tristan.


Sarah pun mengangguk setuju.


"Boleh!" kata Sarah membuat senyum Tristan makin lebar.


Begitu Sarah sampai di lantai dimana ruang divisi keuangan berada. Dia lebih dulu keluar dari dalam lift. Saat dia keluar dari dalam lift, ternyata ponselnya berdering.


Sarah pun menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas sambil berjalan menuju ke ruang kerjanya.


"Halo!" kata Sarah sambil berjalan dengan cepat ke ruang kerjanya karena memang sudah hampir tepat jam sembilan pagi.


"Senang mendengar suaramu lagi Sarah!"


Langkah Sarah langsung terhenti, mendengar suara seseorang yang bicara padanya di ujung telepon itu membuat langkah Sarah langsung terhenti.


Sarah kenal betul siapa yang sedang bicara padanya di telepon ini. Seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya selama empat tahun lebih.


"Kamu...!"

__ADS_1


"Iya ini aku Sarah, aku senang kamu baik-baik saja. Memang harus begitu, aku ingin kamu baik-baik saja saat kita bertemu nanti!" kata Jerry Alando.


Benar sekali, yang menghubungi Sarah adalah Jerry Alando. Pria itu telah mendapatkan semua yang dia butuhkan untuk menguasai dua pabrik terbesar di negara ini.


"Berhenti bicara seperti itu Alan, kita sudah berakhir. Kita punya kehidupan kita masing-masing sekarang. Aku sudah move on, aku harap kamu juga. Entah itu dengan Hera atau dengan wanita lain. Carilah kebahagiaan mu Alan, jangan ganggu aku lagi!" tegas Sarah.


Ucapan Sarah itu sebenarnya kalau Alan mengerti. Maka Sarah itu sedang menegaskan kalau dia memang sudah tak mau mengenang masa lalu lagi. Dan inginkan Alan juga move on seperti dirinya. Meski Alan telah menyakiti Sarah, sesungguhnya Sarah ingin Alan bisa bahagia di tempatnya sekarang, dimana pun itu.


"Terdengar menyakitkan ucapan mu itu Sarah, tapi tidak masalah. Tidak lama lagi kita akan bertemu...!"


Tak ingin mendengarkan Alan lagi, Sarah pun langsung menyela ucapan dari Alan.


"Alan maaf, aku sudah terlambat. Selamat tinggal!" kata Sarah yang langsung memutuskan panggilan telepon dan memblokir nomer tersebut.


Sarah melakukan itu secepat yang dia bisa, karena dia tidak ingin Alan menghubunginya atau mengirimkan pesan padanya. Kalau nomer itu sudah Sarah blokir, secara otomatis kan akses bagi nomor itu untuk menghubungi Sarah terputus. Lagipula, dengan Sarah memblokir nomor Alan, seharusnya pria itu mengerti kalau Sarah tak mau lagi berurusan dengannya.


Sarah langsung menghela nafas panjang, dia langsung masuk ke ruang kerjanya. Saat dia sampai di meja kerjanya, hal yang pertama dia lakukan adalah memeriksa laci meja kerja Arumi. Dan ternyata tas dan ponselnya Arumi masih ada di tempatnya.


"Ya ampun, apakah Arumi akan benar-benar di kurung oleh papinya lagi seperti dulu?" gumam Sarah yang merasa cemas pada Arumi.


***


Sementara itu orang yang sedang di cemaskan oleh Sarah, sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Kalau dia berjalan mengelilingi lapangan sepak bola, mungkin sekarang dia sudah berjalan dua putaran lapangan sepak bola.


"Ya ampun menunggu tiga puluh menit saja lama sekali sih!" gerutu Arumi yang melihat ke arah jam di dinding kamarnya.


Arumi merasa kalau jam di dinding kamarnya itu mendadak jarumnya bergerak dengan sangat lambat.


Sementara itu di luar Arista sedang menyiapkan semuanya, rencana yang sudah dia pikirkan dengan sangat matang. Hanya ada dia, Arumi dan Renata di rumah. Chandra Wijaya dan Yuliana sedang keluar.


Arista juga sudah menghubungi Rendra, awalnya Rendra tidak percaya. Namun Arista memperdengarkan suara vn Arumi yang mengatakan agar Rendra percaya pada semua yang dikatakan oleh Arista. Akhirnya Rendra percaya, dan saat ini Rendra juga pasti sedang dalam perjalanan menuju tempat seharusnya mereka bertemu nanti.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2