
Sementara Rendra dan Arumi masih berdebat, antara siapa duluan yang harus memakai kamar mandi.
"Mas, aku dong yang duluan. Aku tuh kalau pakai kamar mandi lama mas!" kata Arumi.
"Arumi, justru karena kamu lama. Makanya lebih baik aku duluan saja. Aku hanya butuh waktu lima belas menit saja!" kata Rendra.
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu Arumi malah berkacak pinggang dan menatap ke arah suaminya dengan tatapan tengil.
"Mas, pernah dengar ladies first tidak? dan apa yang harus aku lakukan selama lima belas menit menunggu mas Rendra di dalam kamar mandi?" tanya Arumi pada Rendra.
Sontak saja pertanyaan Arumi itu membuat Rendra mengernyitkan keningnya.
"Baiklah baiklah, Arumi kamu duluan saja yang pakai kamar mandinya!" kata Rendra menyerah.
Sebenarnya bukan menyerah ya, tapi Rendra sekarang benar-benar merasa harus mengalah karena Arumi benar-benar tak bisa di lawan kalau mengenai masalah adu argumen.
Arumi lantas membuka jubah piyamanya di depan Rendra.
"Nah, gitu dong!" kata Arumi.
Piyama berbahan tipis yang bisa mencetak lekuk tubuh Arumi dengan dengan sempurna itu membuat jakun Rendra naik turun.
Dan begitu Arumi masuk ke dalam kamar mandi, Arumi mengunci pintu kamar mandi itu. Saat Arumi menyalakan shower dia gak sengaja menyenggol sabun cair yang ada di rak hingga sabun itu terjatuh dan membuat lantainya licin. Arumi yang berniat melemparkan pakaiannya ke keranjang pakaian kotor malah terpeleset.
Brukk
"Aughk!" pekik Arumi yang terjatuh di lantai kamar mandi.
Rendra yang memang belum beranjak dari pintu kamar mandi itu, bisa mendengar suara keras di dalam kamar mandi. Dengan segera, Rendra mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Arumi, Arumi apa itu tadi? Arumi kamu tidak apa-apa?" tanya Rendra yang panik dari depan pintu.
"Mas... aduh aku jatuh mas!" kata Arumi dengan suara menahan sakit dari dalam kamar mandi.
Rendra yang semakin cemas mendengar Arumi terjatuh, lantas berusaha mendobrak pintu kamar mandinya.
"Arumi, kamu tidak sedang di belakang pintu kan?" tanya Rendra pada Arumi memastikan saat Rendra mendobrak pintu, dia tidak akan melukai Arumi.
__ADS_1
"Tidak mas, aku di bawah shower, cepat mas shower nya masih menyala, aku kedinginan!" kata Arumi.
Rendra masih berusaha mendobrak pintu, dia juga tak mau menimbulkan keributan dan membuat semua orang yang ada di rumah menjadi panik. Jadi Rendra mendobrak pintu kamar mandi di dalam kamarnya itu dengan hati-hati.
Brakk
Begitu pintu kamar terbuka, Rendra langsung menghampiri Arumi. Tapi saat dia akan mengangkat Arumi. Rendra bingung dia harus pegang bagian tubuh istrinya yang mana. Karena semuanya polos.
"Mas, angkat aku dong! jangan dilihatin aja!" kata Arumi yang bingung kenapa suaminya hanya memandangi dirinya dan tak langsung mengangkatnya.
"A.. Arumi. Tapi..!"
"Mas, angkat aku!" kata Arumi yang langsung membuat Rendra mengangkat tubuh Arumi.
Dinginnya tubuh Arumi malah membuat Rendra jadi panas dingin sendiri. Rendra mengangkat tubuh Arumi dan membawa tubuh Arumi ke atas tempat tidur.
Saat Rendra akan menutup tubuh Arumi dengan selimut, dia malah tak sengaja terpeleset karena kakinya juga basah tadi di kamar mandi.
Brukk
Rendra terjatuh di atas tubuh Arumi, akhirnya Rendra sudah sampai pada batasannya. Tanpa meminta ijin atau ba bi bu, Rendra langsung menyambar bibir Arumi dan membuat Arumi terkejut.
"Mas...!" Lirih Arumi yang juga mulai merasa dirinya tak nyaman. Mungkin karena dia sedang kedinginan, dan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Arumi bergerak tak karuan, tubuhnya meliuk dan menggeli4t ke sana kemari. Hingga Rendra merasa kalau Arumi sudah siap.
"Sayang dengar, jangan tendang aku ya, kalau sakit cakar saja aku atau gigit saja lenganku, ya!" kata Rendra dengan lembut.
Nafasnya sudah memburu dia bahkan tak bisa lagi menahan keinginannya yang sudah seperti gunung yang siap meletus kapan saja.
Dengan sekali hentakan, Rendra membuat Arumi menjerit tertahan. Karena Arumi langsung menggigit bahu Rendra dengan sangat kuat. Bukan bahu saja, punggung Rendra juga di cakar dengan sangat kuat.
Rendra memejamkan matanya menahan sakit, tapi rasa sakit itu tertutup sempurna dengan rasa yang membuat Rendra melayang jauh di awang-awang.
Pagi yang dingin itu berubah menjadi pagi yang panas untuk keduanya. Satu jam kemudian, suara ketukan terdengar di pintu kamar Rendra dan Arumi.
Tok tok tok
"Tuan, nyonya! tuan besar memanggil untuk sarapan!" kata asisten rumah tangga di kediaman Hutama.
__ADS_1
Rendra yang masih terbaring memeluk Arumi pun mengatur nafasnya sebelum menjawab panggilan asisten rumah tangganya itu.
"Iya Bi, kami sedang bersiap!" sahut Rendra.
"Mas, kakiku masih sakit!" kata Arumi.
Rendra lantas mencium punggung polos istrinya itu dan bangun.
"Sayang, aku akan siapkan dirimu dulu. Ayo aku bantu mandi dan ganti pakaian. Setelah itu aku akan panggilkan tukang urut, setelah aku membawakan sarapan untukmu kemari!" kata Rendra panjang lebar.
Arumi sampai tertegun mendengar suaminya mengatakan semua itu. Setelah Arumi menuntaskan kewajibannya memberi hak Rendra sebagai suaminya tadi. Rendra juga terus mengucapkan terimakasih pada Arumi.
Arumi benar-benar tidak menyangka Rendra begitu istimewa. Benar-benar sangat menghargai dirinya.
Rendra menggendong Arumi ke dalam kamar mandi. Memandikan Arumi dengan sangat lembut. Memakaikan pakaian yang nyaman untuk Arumi. Mengeringkan dan menyisir rambut Arumi dengan pelan dan lembut. Setelah itu baru Rendra mengurus dirinya sendiri.
Setelah selesai dengan semua itu, Rendra juga membawakan sarapan ke kamar Arumi. Bahkan menyuapi Arumi dengan penuh kasih dan sayang.
"Mas, aku mencintaimu!" kata Arumi setelah Rendra memberikan minum untuk Arumi.
Rendra tersipu malu.
"Aku juga mencintaimu!" kata Rendra.
"Papa!"
Baru juga mereka menjalin momen romantis, Kevin sudah berteriak dari ambang pintu yang memang sejak tadi terbuka.
"Papa, ayo berangkat ini sudah jam berapa? Kevin bisa terlambat!" kata Kevin kesal hingga dia memanyunkan bibirnya ke depan.
"Hei, sini dulu Kevin. Cium mama dulu!" kata Arumi memanggil Kevin.
Tapi Kevin malah menjulurk4n lidahnya mengejek Arumi.
"Wek, jangan harap ya Tante!" kata Kevin yang langsung berlari meninggalkan kamar papanya.
"Kevin!" teriak Arumi.
Rendra hanya terkekeh melihat Arumi dan Kevin seperti itu. Tapi Rendra tahu, kalau sebenarnya Kevin juga sudah menerima Arumi. Jarang sekali Kevin bisa suka sekali mengejek orang seperti itu kecuali pada Tristan. Jadi Rendra yakin, kalau meskipun belum mau memanggil Arumi dengan sebutan mama. Tapi Kevin sudah bisa menerima Arumi sebagai ibunya.
__ADS_1
***
Bersambung...