Tega

Tega
Bab 141


__ADS_3

Sarah terlihat senang melihat kedatangan Richard. Apalagi di tangan Richard, Sarah jelas melihat sebuah map yang dia kenal.


"Masuk Richard, itu dokumennya?" tanya Sarah sambil menunjuk ke arah dokumen yang ada di tangan Richard.


"Iya nona, ini dokumennya!" kata Richard yang langsung memberikan dokumen itu pada Sarah.


Tristan yang baru saja sampai di ruang tamu langsung menghentikan langkahnya melihat dokumen itu sudah Richard berikan pada Sarah.


Richard yang melihat kedatangan Tristan langsung menyapa bosnya.


"Malam bos, maaf aku baru kembali. Jadi baru baca pesan kalian!" kata Richard.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Richard. Sarah juga langsung menoleh ke arah Tristan.


"Tristan, kamu mengirim pesan juga pada Richard? tentang apa?" tanya Sarah yang melihat ke arah Tristan dan Richard secara bergantian.


Namun saat Richard baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sarah tersebut. Tristan lebih dulu menyelanya dan berkata.


"Aku tanya arah pulang padanya!" jawab Tristan sambil menatap tajam ke arah Richard.


Sarah langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O lalu mengangguk paham. Sarah pikir, yang ada di pikiran Tristan untuk di tanyai pasti memang Richard. Sayangnya Richard sedang dalam perjalanan bisnis.


Namun ekspresi wajah Richard sangat jauh berbeda dengan apa yang ditunjukkan Sarah. Richard bengong, dan bingung.


'Tanya arah apa? ini kenapa bos melotot gitu ya sama aku, aku salah apa ya?' batin Richard bertanya-tanya karena dia memang sungguh merasa bingung.


Tristan yang merasa harus memikirkan masalah dokumen perjanjian pernikahannya itu pun segera berseru pada Richard.


"Urusan mu sudah selesai kan, lalu kenapa kamu masih di sini?" tanya Tristan dengan tatapan tidak bersahabat dan dengan nada suara yang begitu dingin, saat berkata seperti itu pada Richard.


Richard sampai bengong mendengar perintah Tristan.


'Oh emji... sudah anemia tapi masih galak banget sih. Nasib jadi bawahan gini amat sih!' lirih Richard mendramatisir di dalam hatinya.


Namun Sarah langsung mengangkat tangannya dan menggerakkan tangannya itu seolah menyuruh Richard untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Tidak Richard, kamu masuk dulu. Aku juga masih ada perlu denganmu!" kata Sarah.


Sarah berpikir bahwa satu-satunya yang menjadi saksi, dan yang mengetahui tentang perjanjian pernikahan antara dirinya dan Tristan kan hanya Richard. Jadi dia ingin Richard menjadi saksi kalau dokumen itu memang benar adanya. Sarah berharap itu bisa membuat Tristan mengingat semuanya.


Richard benar-benar dilema saat ini, Sarah menyuruhnya untuk masuk dan duduk. Tapi di sisi lain tatapan mematikan Tristan membuat Richard sama sekali tidak berani bergerak dari tempat. Dan malah membuat Richard sebenarnya ingin lari dan menghilang dari tempat itu secepatnya.


'Oh emji... gini amat ya jadi bawahan. Terus sekarang aku harus gimana? masuk apa pulang nih?' batin Richard bingung.


"Ayo masuk Richard!" kata Sarah.


Sambil menelan salivanya dengan susah payah, Richard pun melangkah masuk dan melangkah ke arah ruang tamu.


"Permisi bos!" kata Richard saat dirinya duduk di kursi yang paling jauh letaknya dari Tristan.


Setelah Richard duduk, Sarah pun menghampiri Tristan dan meraih lengannya lalu mengajaknya duduk di sofa panjang berdua dengannya.


Sarah menghela nafas panjang, dirinya juga sebenarnya sangat menyadari walau nanti ingatan Tristan sudah kembali pulih. Mungkin Tristan tidak akan lagi perhatian dan bersikap sangat manis juga lembut pada Sarah. Tapi yang lebih Sarah tidak ingin adalah, kalau Tristan melakukan semua itu, sayang dan perhatian padanya juga menyatakan cinta padanya tapi di luar ingatannya yang sebenarnya.


Sarah tidak mau terus membuat Tristan merasa dia memang suami yang baik yang harus sangat mencintai istrinya. Sarah tidak ingin seperti itu, Sarah ingin Tristan tetap menjadi Tristan yang sebenarnya. Jika memang setelah ini Tristan akan pergi darinya, meskipun terasa sakit. Sarah akan menerimanya. Daripada berpura-pura dan memanfaatkan amnesia Tristan.


"Tristan, aku ingin menunjukkan dokumen ini padamu. Mungkin kamu belum ingat, tapi ini adalah dokumen perjanjian yang kamu buat untuk aku tanda tangani sebelum kita menikah. Lihat ini!" kata Sarah yang langsung membuka map tersebut dan memperlihatkan isinya pada Tristan.


"Bacalah!" kata Sarah menyerahkan dokumen itu pada Tristan.


Tristan mengangkat tangannya perlahan, dan menerima dokumen itu dari Sarah. Matanya bergerak, seolah dia sedang membaca dokumen tersebut. Namun beberapa detik selanjutnya, Tristan kembali menutup dokumen itu dan menundukkan kepalanya.


Sarah yang melihat Tristan seperti itu, sontak saja menjadi bingung. Sarah justru takut, kepala Tristan sakit saat mengingat tentang dokumen itu, makanya dia menunduk setelah membaca dokumen itu.


Richard juga terlihat bergerak maju, melihat bosnya menunduk sambil memejamkan matanya sekilas.


Sarah mengusap punggung Tristan perlahan dan bertanya.


"Tristan, ada apa? kepalamu sakit?" tanya Sarah pelan.


Tristan lalu meletakkan dokumen itu di atas meja dan meraih tangan Sarah yang ada di depannya.

__ADS_1


"Sarah, aku tidak amnesia!"


Deg


Sarah tercengang, dia begitu terkejut mendengar ungkapan kejujuran Tristan barusan.


Bukan hanya Sarah, Richard juga sampai mundur ke belakang dan punggungnya sampai menabrak sandaran sofa.


"Tristan, apa maksudmu?" tanya Sarah yang merasa sangat bingung.


Tangan Sarah yang satu lagi juga di raih oleh Tristan. Dengan memegang kedua tangan Sarah dan menatap Sarah. Tristan berkata.


"Aku sudah sadar ketika sampai di Jakarta. Aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan, seharusnya aku tidak perlu pergi ke Paris...!"


Saat Tristan mengatakan semua itu, Sarah menarik tangannya dari Tristan.


"Kamu tidak pernah amnesia?" tanya Sarah terlihat sangat kecewa.


Tristan terlihat sedih ketika Sarah menarik tangannya menjauh dari Tristan.


Tapi Tristan langsung menggelengkan kepalanya, begitu Sarah bertanya padanya.


Mata Sarah berkaca-kaca, dia merasa sedih karena Tristan begitu tega membohongi semua orang.


"Semua ini demi namamu agar tidak di coret dari kartu keluarga kah, Tristan?" tanya Sarah terdengar benar-benar sedih.


Tapi Tristan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak Sarah, sama sekali bukan karena itu. Aku sadar kesalahan ku, sejak di pulau itu aku sudah punya perasaan padamu. Apa kamu ingat? aku memintamu menjaga jarak denganku karena aku mulai suka padamu. Dan setelah semuanya, aku benar-benar tidak bisa menyangkalnya lagi, aku benar-benar jatuh cinta padamu Sarah!"


"Tapi kenapa kamu pergi ke Paris?" tanya Sarah membuat Tristan terdiam.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2