
Melihat cincin yang di pakai Arumi dan Rendra, Renata menepis tangan Arista dan maju menghampiri Arumi.
"Kamu pikir aku percaya, cincin seperti itu bisa di beli di toko perhiasan manapun di kota ini! hanya dengan sepasang cincin tidak akan membuktikan apapun!" kata Renata tegas.
Arista yang berada di belakang Renata langsung maju dan menarik lengan Renata.
"Kak sudah, mereka sudah menikah. Kita tidak bisa membawa Arumi pulang. Kita bisa di tuduh menculik istri orang!" kata Arista yang langsung melihat ke arah Arumi.
Maksud Arista agar Arumi mengikuti katanya. Arista lantas mengerutkan alisnya memberi isyarat pada Arumi.
Arumi yang mengerti langsung berseru di depan Renata.
"Cepat pergi kalian dari sini, atau aku akan lapor polisi! cepat pergi dari sini kalian!" pekik Arumi mengusir kedua kakaknya dari rumah ayah mertuanya.
Di usir seperti itu, Renata sangat marah.
"Dasar adik kurang ajar, berani-beraninya kamu mengusir kakakmu sendiri. Kami sudah berusaha menyelamatkan mu Arumi dari kemarahan papi. Kamu akan menyesali ini!" kata Renata yang langsung pergi dari sana tanpa perduli arisan akan ikut bersamanya atau tidak.
Arumi yang terkejut melihat kemarahan Renata yang matanya sambil berkaca-kaca itu terdiam dan menunduk. Dia memang sering bertengkar dengan Renata. Tapi Renata tidak pernah seperti itu. Tidak pernah matanya berkaca-kaca. Arumi jadi merasa bersalah telah mengatakan kalimat yang kasar begitu lada kedua kakaknya.
Setelah Renata keluar dari rumah, Arista lantas menepuk bahu Arumi perlahan.
"Jangan di pikirkan, kamu harus lebih kuat dari ini Arumi. Kamu sudah ambil keputusan ini, maka selanjutnya yang kamu hadapi adalah keluargamu sendiri, papi, mami, Renata dan aku. Mungkin hal ini akan sering terjadi, biarkan hatimu yang memilih. Jangan mudah terpengaruh pada apapun, kamu tahu papi kan, dia bisa melakukan apa saja untuk membalas apa yang kamu lakukan ini, mengerti!" kata Arista menasehati Arumi.
Rendra yang ada di sebelah Arumi lantas menggenggam tangan Arumi. Arumi langsung mengangguk.
"Boleh aku memelukmu Arista?" tanya Arumi.
"Sayangnya tidak, mungkin Renata masih memperhatikan kita. Dia akan melaporkannya pada papi!" kata Arista.
Arista lalu menoleh ke arah Rendra.
"Tuan Rendra Hutama, aku percayakan adikku padamu! jaga dan lindungi dia!" kata Arista yang langsung di angguki oleh Rendra.
__ADS_1
"Aku pergi!" kata Arista kemudian segera menyusul Renata.
Sarah yang tadinya berdiri di samping Tristan, langsung menghampiri Arumi dan mengusap lengannya perlahan beberapa kali. Rendra juga terus menggenggam tangan Arumi dengan erat. Meski sangat berat, tapi Arumi memang harus mengambil langkah ini. Dua kakaknya sudah hidup dengan begitu menderita. Yang satu hanya di jadikan simpanan selama sepuluh tahun, yang satu lagi di jadikan istri kedua. Dan Arumi ingin di nikahkan dengan seorang playboy dan berperilaku aneh. Chandra Wijaya memang benar-benar tidak waras. Demi kekuasaan dan harta, Candra Wijaya menyiksa kedua putrinya.
Berkedok ingin yang terbaik bagi keluarganya, Chandra Wijaya justru membawa kehidupan yang pahit dan penuh air mata.
Sementara itu di dalam mobil Renata menangis sejadi-jadinya. Arista yang mengemudi mobil itu membiarkan Renata menangis. Setelah tiba di rumah, Renata menyeka air matanya.
"Apa yang membuatmu jadi cengeng begitu?" tanya Arista.
"Bukan urusan mu!" kata Renata yang langsung keluar dari dalam mobil dengan cepat.
Renata bahkan membanting pintu mobil Arista. Arista hanya menghela nafasnya panjang saja.
Begitu masuk ke dalam rumah, ternyata Chandra Wijaya sudah berdiri di ruang tengah. Mata dan wajahnya merah melihat Renata masuk ke dalam rumah sendirian dengan kesal. Dengan mata dan wajah sembab.
"Jadi kalian berdua tidak bisa membawanya pulang?" tanya Chandra Wijaya kesal.
"Maaf papi, Arumi... dia sudah menikah dengan Rendra Hutama, kami tidak bisa...!"
Chandra Wijaya menginjak meja kaca yang ada di hadapannya.
Yuliana langsung mundur ke arah para asisten rumah tangga yang juga terkejut mendengar tuan mereka mengamuk seperti itu.
Arista yang baru datang langsung menarik Renata menjauh. Kalau Arista terlambat menarik Renata. Mungkin saja pecahan kaca meja itu bisa mengenai Renata.
"Dasar bodohh! bagaimana bisa dia menikah dengan Rendra Hutama? ini pasti rencana licik Arya Hutama itu, dia pasti menggunakan anaknya merayu Arumi, Sialll!"
Candra Wijaya benar-benar marah. Dia juga sangat kesal. Dia berada dalam masalah besar, dia harus pikirkan cara untuk bicara pada calon besannya begitu mereka datang besok.
***
Sementara itu di tempat lain, di kota batu. Alan sudah mendapatkan semua yang dia butuhkan. Hilman juga sudah menyiapkan semua dokumennya.
__ADS_1
Alan dan dua anak buahnya lantas mendatangi pabrik ayah mertuanya. Dia masuk ke dalam ruangan ayah mertuanya tanpa permisi.
Damar tentu saja terkejut melihat apa yang dilakukan menantunya itu. Damar berdiri dari kursi kebanggaannya dan menatap heran sekaligus bingung pada Alan.
"Jerry, ada apa ini?" tanya Damar kebingungan.
"Ayah mertua, dengan berat hati. Aku harus katakan pada ayah, kalau sekarang akulah pemilik pabrik ini. Ini dokumennya, jadi silahkan ayah mertua pergi dari kantor ini sekarang!" kata Alan dengan begitu tidak sopan nya pada Damar yang adalah ayah mertuanya sendiri.
"Apa-apaan ini? bagaimana bisa pabrik ini jadi milikmu. Aku tidak pernah memberikan pabrik ini padamu. Aku hanya berikan 20 persen sahamku yang ada di pabrik ayahmu, Steven. Untuk hadiah pernikahan kalian. Kamu bicara apa Jerry?" tanya Damar yang masih tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Alan.
"Lihat ini!" kata Alan sambil melemparkan surat kepemilikan yang sah yang baru pada Damar.
Damar yang penasaran, langsung membaca surat tersebut. Matanya terbelalak melihat tanda tangan dan stempel yang terbubuh di dokumen tersebut. Damar membaca semua isi dokumen itu.
"Jerry, apa yang kamu lakukan? ini bukan dokumen yang waktu itu. Kamu menipu ku? hah?" tanya Damar yang mulai emosi.
"Ha ha ha, maafkan aku ayah mertua. Tapi kamu benar! aku menipumu. Sekarang sebaiknya kamu tinggalkan pabrik ini dan jangan pernah kembali lagi kemari!" ucap Alan enteng.
Damar yang begitu emosi lantas bergegas menghampiri Alan. Namun dia di cekal oleh kedua anak buah yang datang bersama dengan Alan.
"Dasar menantu durhaka, aku akan melaporkan mu pada ayahmu. Apa yang kamu lakukan ini tidak benar Jerry!" pekik Damar yang begitu emosi.
"Ha ha ha, benar atau salah. Aku tidak perduli!" kata Alan pada Damar.
Alan lalu beralih pada dua anak buahnya, dia berkata.
"Usir orang tua ini dari sini! jangan biarkan dia kembali!" kata Alan yang di angguki oleh dua anak buahnya itu.
"Jerry, kamu akan mendapatkan balasannya! kamu keterlaluan...!"
Dan Jerry Alando tak perduli sama sekali dengan teriakan Damar Adhikara. Dia langsung duduk di kursi CEO itu dan berkata.
"Sebentar lagi Sarah, aku akan datang padamu!" ucapnya begitu sombong sambil melihat sekeliling ruang kerja barunya.
__ADS_1
***
Bersambung...